“Ada sesuatu yang lebih abadi dari sekadar kekuasaan. Ia adalah kata-kata (karya)” Ibnu Khaldun.
Setiap penguasa memiliki potensi buruk berupa nafsu menguasai dan meluluhlantakkan. Misalnya, nafsu Hulagu Khan ketika membumihanguskan Baghdad, atau nafsu Timur Lenk saat membakar Damaskus. Tak aneh jika Ibn Khaldun pun bingung, ketika mendapat undangan dari Timur Lenk.
Semula, Ibn Khaldun menolak undangan Penguasa Brutal itu. Namun kemudian, ia berubah pikiran. Undangan dari Timur Lenk itu dipenuhi Ibnu Khaldun sehari sebelum Damaskus dibumihanguskan. Perbincangan apa yang terjadi ketika “dua raksasa” itu bertemu? Berikut kisahnya.
Tunisia, 1332 M.
Tahun itu, seorang bayi laki-laki lahir di tengah keluarga terpelajar. Ayahnya seorang ahli hukum, sedangkan pamannya seorang penyair. Mereka memberinya nama: Abdurrahman ibn Khaldun. Di bukit-bukit Tunisia yang dipendari matahari, bocah itu tumbuh dengan buku-buku tebal di tangannya. Namun, juga dengan kenangan pahit dan perih: Wabah Hitam merenggut orangtuanya ketika ia masih belia.
Empat tahun kemudian, di stepa Asia Tengah yang ganas, seorang anak lain terlahir dalam suku Barlas. Kakinya cacat sejak kecil, membuatnya dijuluki Timur si Pincang-Timur Lenk. Di tengah perang antar suku, ia belajar satu hukum besi: bertahan atau mati.
Dua manusia. Dua takdir. Siapa sangka, enam puluh tahun kemudian, sejarah akan mempertemukan mereka, di Damaskus, dalam sebuah dialog yang menggetarkan zaman!
Damaskus, musim dingin 1401. Hari itu, langit Damaskus memerah. Asap membumbung dari rumah-rumah yang dilalap api, menari-nari di udara bagaikan hantu yang meratapi nasib kota tua itu. Bau besi, darah, dan abu menggumpal di tenggorokan. Di balik tembok kota yang runtuh, ribuan pasukan berkuda-berpakaian kulit dan besi, dengan panji-panji hitam berkibar-berteriak laksana serigala lapar.
Di tengah semua itu, seorang lelaki tua berjubah sederhana berdiri di depan gerbang kota. Kedua mata lelaki tua berusia 69 tahun itu menatap jauh ke arah tenda emas yang berdiri megah di kejauhan. “Duh, Timur Lenk,” bisiknya.
Ibn Khaldun tahu, hari itu mungkin hari terakhirnya. Atau mungkin, awal dari sebuah kisah yang akan dikenang sejarah. Ibn Khaldun juga tahu, kini Damaskus sedang sekarat.
Ibn Khaldun kemudian berjalan pelan di antara lorong-lorong sempit Damaskus, mendengar rintihan anak-anak, jeritan para ibu, dan desahan lelah para lelaki yang bersiap mati. Tiba-tiba seorang anak perempuan kecil menarik ujung jubahnya dan bertanya, “Apakah kita akan dibunuh, Tuan?”
Ibn Khaldun menatapnya. Lalu, ia usap kepala gadis itu dengan tangan yang gemetar. “Tidak semua kematian adalah akhir, anakku,” jawabnya, meski hatinya sendiri meragukan kata-katanya. Di sudut lain kota itu, seorang pemimpin kota berteriak putus asa, “Kita harus melawan!”
Namun, Ibn Khaldun tahu, melawan Timur Lenk sama halnya dengan mencoba menghentikan badai dengan telapak tangan. “Aku akan penuhi undangannya,” gumamnya.
Hari berikutnya, dengan nafas berat Ibn Khaldun melangkah masuk ke dalam tenda yang megah. Wangi dupa mahal memenuhi udara, namun tidak dapat menutupi bau besi dan keringat yang melekat pada setiap prajurit Timur Lenk. Dan di sana, di atas singgasana yang terbuat dari emas dan gading, duduk seorang lelaki dengan sorot mata seperti elang. Kakinya pincang, sementara tangannya memegang pedang yang lebih tajam dari lidah ular.
“Jadi, kau Ibn Khaldun?” tanya penguasa berusia 65 tahun itu. Dengan suara yang dalam. Bagaikan guruh dari gunung.
“Ya, Paduka.”
“Aku dengar, kau menulis tentang jatuh bangunnya kerajaan.”
“Saya hanya mencoba membaca tanda-tanda zaman.”
Timur Lenk pun tertawa. Namun, kedua matanya tetap dingin. “Lantas, apa tanda zaman yang kau lihat untukku?”
“Kekuasaanmu sangat besar, Paduka,” jawab Ibn Khaldun. “Namun, sejarah mengajarkan bahwa kekuasaan yang dibangun dengan pedang akan runtuh oleh pedang.”
Timur Lenk mengerutkan kening. “Kau pemberani.”
“Saya hanya berkata jujur. Kekerasan melahirkan ketakutan. Bukan kesetiaan.”
“Lalu, apa yang kau sarankan?” tawar Timur Lenk, ironisnya sambil memutar-mutar pisau kecil di tangannya.
“Warisan terbesar seorang penguasa bukanlah bumi yang ia taklukkan. Namun, kebijaksanaan yang ia tinggalkan.”
Udara menjadi tegang. Para pengawal menahan nafas. Lalu, tiba-tiba, Timur Lenk tersenyum. “Kau menarik, Ibn Khaldun. Aku akan membiarkanmu hidup. Tapi, Damaskus…”
Esok harinya, Damaskus terbakar dan luluh lantak. Dari bukit di pinggir kota, Ibn Khaldun menyaksikan asap membumbung tinggi, mendengar jeritan yang merobek hati. Namun, anehnya, Timur Lenk memerintahkan pasukannya untuk mengawal Ibn Khaldun keluar dengan selamat bersama naskah-naskahnya.
“Mengapa?” tanya seorang muridnya. Wajahnya berlumuran air mata.
“Karena,” Ibn Khaldun menarik nafas, “bahkan seorang penakluk pun tahu, ada sesuatu yang lebih abadi dari kekuasaan.”
“Apa itu?”
“Kata-kata.”
Timur Lenk mati tiga tahun kemudian, dalam kemahnya yang megah di tengah persiapan melakukan invasi ke Cina. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia memandang peta dunia yang tergantung di tendanya. “Semua ini untuk apa?” Imperiumnya runtuh secepat debu yang ditiup angin.
Sementara Ibn Khaldun menghabiskan sisa hidupnya di Kairo, mengajar dan menulis. Suatu malam, ketika bulan purnama sedang memendari perpustakaannya, seorang murid bertanya, “Apa pelajaran terbesar dari hidup, Tuan Guru?”
Ibn Khaldun kemudian dengan tersenyum menjawab, “Dunia mungkin diubah oleh pedang. Namun, hanya kebijaksanaan yang dapat mengubah manusia. Timur Lenk menaklukkan dunia. Namun, dunia segera melupakannya. Kita? Kita hanya menulis beberapa ratus halaman. Namun, halaman-halaman itu akan dibaca ribuan tahun selepas kita menjadi debu!”








