Lahir, tumbuh, berkembang dan menjalani kehidupan di Bumi Jawa, barangkali adalah berkah yang tak bisa diutara dengan segala ucap bahagia.
Ihwal perayaan, Jawa adalah utopia bagi banyak orang di luar sana. Bagaimana tidak, di segala waktu dan keadaan, semuanya bakal dirayakan. Dan bagiku, itu cukup mensyukuri keberuntungan telah dilahirkan di bumi penuh perayaan.
Tak peduli besar kecilnya reraya, bakal ramai atau tidaknya reraya, semua adalah hal yang patut dirayakan bagi orang Jawa. Semenjak dari alam kandungan saja, Jawa sudah identik dengan tradisi mapati dan pitonan.
Bukan tanpa alasan, sebagai orangtua yang kemudian bakal diberkati seorang momongan. Tentu, akan teramat merasakan kebahagiaan.
Lalu, ketika bayi tadi telah dilahirkan di muka bumi dan pertama kali keluar dari dunia kandung ibunya ini. Sudah terdapat lagi perayaan yang telah menanti, mulai dari brokohan, sepasaran, selapanan, telonan, pitonan, dan setahunan.
Bahkan, di setiap bulan pada hari kelahiran, orang Jawa tentu tak akan lupa dengan merayakan tironan.
Belum lagi ketika tiba waktu pernikahan, tak jauh berbeda. Baru mau menikah saja, sudah terdapat tradisi lamaran, yang tentunya terdapat berbagai macam hantaran teruntuk merayakan pengantin lelaki maupun perempuan.
Setelah perayaan pernikahan pun, juga terdapat istilah sama dengan perayaan kelahiran. Yaitu, adanya sepasar dan selapan.
Bahkan, saat manusia telah menemui ajalnya. Terdapat perayaan lelayu hingga sewu dinoan, yang tujuannya tentu berbeda dari fase hidup di alam kandungan hingga masuk pada fase pernikahan.
Nah, pada fase perayaan kematian ini, diniatkan untuk bersedekah dengan harap bisa menjadi amal bagi orang yang meninggal bumi.
Ini baru sekedar perayaan-perayaan dari sepanjang kehidupan yang merayakan manusia sebagai keberadaan. Lebih dari itu, pada hari-hari tertentu, pada momentum panenan dan bahkan untuk hewan peliharaan. Juga tak mau kalah untuk turut mengadakan perayaan, sebagai wujud syukur pada yang telah memberi kehidupan.
Katalis Segala Perayaan
Dari ke semua perayaan yang ada di bumi Jawa, sudah sepatutnya jadi sesuatu hal yang jadi titik balik untuk menyelamani kedalaman makna. Agar, sebagai manusia yang hidup di zaman serba-serba ini. Kita bisa merasakan rasa kasih, aman dan merasa di sayangi dari sebuah keberadaan. Nadin Amizah sepertinya sudah mendeskripsikan pada salah satu lagunya yang bertajuk “Semua Aku Dirayakan”, wqwq.
Kalau, orang yang terlahir di bumi Jawa tetiba merasa resah dan gulana sebab tak dirayakan oleh teman, sahabat, atau manusia lain yang di anggap sebagai seorang pasangan. Ketika hari ulang tahun, maupun ketika momentum selebrasi sempro, yudisium atau wisuda sekalipun.
Sebab, kalau barometer “dirayakan” hanya pada momentum-momentum selebrasi yang sifatnya fana dan sekejap mata. Namun, tak menyadari atau bahkan menisbikan perayaan-perayaan yang sedari mula sudah ada dan betul-betul merayakan kita sebagai entitas yang penuh makna.
Maka, bakal menjadi suatu yang kurang elok saja rasanya. Hidup terlalu singkat untuk sekedar meratapi kesedihan tak berkesudahan, cukup sadari dan memaknai kebahagiaan-kebahagiaan lain, barangkali adalah alternatif jalan.








