Siapa yang tidak senang bila bertemu teman, kemudian teman tersebut, menghadiahi suatu barang.
Bahagia!
Itulah perasaan yang penulis rasa kala menerima hadiah buku karya Salman Faridi berjudul “50 Kisah tentang Buku, Cinta, dan Cerita-cerita Antara Kita: Resep Gado-gado Koki Buku Selama 130.000 Jam” Jumat (23/05/25).
Saat pertama memegang buku setebal 260 halaman dan terbit 2017 tersebut, penulis masih asing “siapa” sang penulis.
Kemudian, penulis coba membalik pada cover belakang buku tercantum bila sang penulis buku adalah CEO Bentang Pustaka. Rasa penasaran kemudian berubah menjadi senang yang tidak terkira.
Misteri
Kesenangan penulis –hingga tidak terhitung tersebut, menyisakan suatu “misteri” di benak. Misteri yang penulis maksud tentu “pikiran positif”, yaitu pesan apa yang bisa penulis tangkap kala kawan –yang tidak lain pemilik Penerbit Mitra Karya, menghadiahkan buku di mana sang penulisnya “pemilik” penerbit buku ternama.
Pertama, menambah wawasan perihal penerbitan. Ini kesimpulan utama yang bisa penulis sampaikan kepada pembaca. Benar tidaknya, belum penulis tanyakan langsung kepada kawan yang memberi hadiah.
Itu karena, penulis tidak sempat mengintrogasi kepada beliau. Sebab, pertemuan sudah kadung larut dalam obrolan sarat makna, tepatnya di warung kopi belakang kantor PCNU Bojonegoro.
Pembahasannya pun sudah marik-marik yang diulas. Ada tentang penulis Bojonegoro yang beliau kagumi, kemudian juga membicarakan model jepretan foto berkelas yang bisa dijadikan ilustasi cover buku.
Perihal menambah khazanah penerbitan, melalui buku tersebut penulis bisa belajar kepada ahlinya-ahli meski tidak secara langsung.
Apalagi spill dari beliau, bila buku tersebut sangat inspiratif. Sang penulis –buku, memulai usaha penerbitan dari nol, kecil, yang saat itu hanya memiliki 5 pegawai. Adapun kini –menurut testimony Andrea Hirata (hal.i), pasca 15 tahun bergelut dipenerbitan mencuatlah menjadi salah satu penerbit terkemuka.
Kedua, semangat produktif melahirkan buku. Tebakan “misteri” berikutnya, tujuan pemberian merchandise buku agar penulis “lekas” melahirkan karya buku kembali.
Berbekal buku dari kawan, penulis bisa mengambil pelajaran yang terbaik, berharga (best practice) dari sudut pandang pemilik usaha penerbitan. Naskah seperti apa yang digandrungi pembaca? Lalu, bagaimana meningkatkan kualitas isi kepenulisan? Dua pertanyaan itu ada dalam dua bagian bab yang penulis teropong pada daftar isi.
Perihal tulisan kita agar digandrungi pembaca, di sinilah kejelian sebagai penulis kudu sering di asah. Bisa dengan berselancar melalui media sosial –instagram, sebagai misal. Tepatnya, memfollow penerbit-penerbit buku untuk sekadar melihat flyer-flyer yang diunggah.
Selain lewat instagram, juga bisa membuka website yang dimiliki penerbit buku yang ternama, untuk sekadar membaca ulasan, gambar, perihal buku yang dalam proses dan akan diterbitkan, untuk dijadikan referensi style seperi apa yang akan penulis lahirkan.
Bisa pula, agar produktif melahirkan buku yang digemari pembaca, jalan-jalan ke toko buku menjadi pilihan alternatif yang bisa dilakukan. Apalagi, usut punya usut, di Bojonegoro akan segera dilaunching toko buku Gramedia. Tentu keberadaannya, akan manjadi pelengkap toko buku yang telah ada diantaranya; Nusantara di Jalan Dokter Wahidin, dan Pustaka 2000 di Bravo Supermarket.
Ketiga, istikamah membaca. Tebakan yang ini tentu menjadi alasan yang tidak bisa dinafikan. Coba pembaca pikir dengan sederhana saja, bila ada teman –atau orang lain, memberi hadiah buku tentu tujuan puncaknya agar dibaca.
Apalagi, sebelum buku tersebut penulis baca, sang kawan telah terlebih dahulu menghatamkannya. Misteri apa saja yang dibahas dalam buku yang diberikan, tidak akan cukup waktunya untuk dijelaskan secara tatap muka dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Terlebih, kawan dan juga penulis memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Dengan penulis membaca via mandiri, aktivitas “membaca” bisa penulis lakukan secara konsisten.
Akhirnya, terima kasih kawan atas hadiah yang super ini. Tiga hal sebagaimana terurai di atas, semoga bisa menggamblangkan “misteri” terhadap merchandise yang diberikan.
Budaya Hadiah Buku
Bicara memberi hadiah buku di Indonesia “seakan” belum membudaya. Bahkan, ada yang nyir-nyir sembari memberi penegasan “mengapa hadiahnya kok buku?” Padahal, di Jerman mengutip bimba-aiueo.com, buku biasa dijadikan hadiah.
Kemudian juga di Islandia. Mengutip detik.com, di negara tersebut terdapat tradisi “jólabókaflóðið” atau diucapkan “yo-la-bok-a-flothe” yang dalam Bahasa Indonesia disebut banjir buku Natal.
Singkat cerita, pada musim tersebut masyarakat Islandia saat perayaan Natal saling bertukar kado –berupa buku, yang seremonial unboxing (membuka kemasan) dilaksanakan pada 24 Desember. Setelah bertukar kado dan diunboxing, masyarakat di sana tenggelam dalam dunia membaca.
Ketika perayaan Natal telah berakhir, surat kabar akan memberi evaluasi tentang buku mana yang memiliki judul hingga sampul terbaik dan terburuk.
Sungguh, bilamana salah satu perayaan entah itu memperingati Hari Buku Nasional (Harbuknas) atau Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia –tahun 2025 misal, kita saling memberi kado berupa buku, siapapun itu akan larut dalam aktivitas membaca.
Penulispun membayangkan, sungguh dahsyat Indonesia bila yang terhormat Presiden Prabowo Subianto berkenan memulai hal istimewa tersebut.
Sekali lagi, terima kasih teman, penulis telah diberi hadiah buku mesti bukan ngepasi momentum apapun. Yang istimewa, panjenengan tepat memberi hadiah buku kepada penulis yang doyan membaca. Ha ha!
*Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.








