Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Hidup dan Minuman: Tegukan Penentu Kehidupan

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
01/07/2025
in Cecurhatan
Hidup dan Minuman: Tegukan Penentu Kehidupan

Ilustrasi: Hidup dan Minuman

Paribasan urip ing ndonya iku mung sedhela, Mung mampir ngomben ben gawe lega, Nandura sing becik-becik kanggo kanca, Kareben thukul ngrembaka, Nganti kembang lan ngundhuh, Kabecikan kang digadhang

Suatu sore yang cerah, sahabat saya seorang Kiai kampung bernama Kiai Suwarno atau yang acapkali dipanggil Cak No, melintasi jalan kecil menuju surau. Angin sore membelai sarungnya yang lusuh. Di ujung gang, ia mendapati sekelompok pemuda berkumpul di pos kamling. Tampak botol minuman keras berserakan di sekitar mereka. Bau menyengat menusuk hidung. Wajah mereka memerah, mata sembab, tawa pecah―tidak jelas apa yang lucu.

Mereka mabuk ringan. Namun, Cak No tidak marah―malah menghampiri mereka dengan langkah tenang. Lantas duduk di batu pinggir jalan, mengusap janggutnya pelan.

“Cak No, tenang ae urip iku mung mampir Ngombe.” (Cak No tenang saja hidup itu hanya singgah untuk minum), ucap salah satu dari mereka.

“Mangkane ayo ngombe ciu disek Cak” (Karena itu mari minum ciu dahulu cak), ucap yang lain. Tawa mereka kembali pecah.

“Terusno ae rek anggonmu ngombe. Pancen urip iku mung mampir ngombe. Bar ngombe mati” (Teruskan saja minummu, Nak. Memang hidup ini sekadar mampir minum. Tapi ingat, setelah puas minum, kamu akan mati), jawab Cak No tenang.

Pemuda-pemuda itu terdiam sejenak. Beberapa dari mereka masih tertawa, mengira Cak No bercanda. Tapi tak lama, tawa itu meredup. Kata-kata sederhana itu menggantung di benak mereka. “Memangnya hidup ini lama, ya?” lanjut Cak No sembari menatap mereka dalam-dalam. “Cepat atau lambat, kita semua akan sampai di ujung. Maka terserah, mau mengisinya dengan apa. Tapi ingat, setiap tegukan hari ini akan ditagih nanti. Bukan oleh saya, tapi oleh mongso (waktu).”

Tak ada ayat-ayat panjang. Apalagi dalil-dalil yang rumit. Hanya satu kalimat yang sederhana, namun dalam: urip iku mung mampir ngombe. Bar ngombe mati. Dan entah mengapa, kalimat itu seperti batu kecil yang dilempar ke danau hati mereka. Menimbulkan riak yang tak bisa mereka abaikan. Sejak sore itu, satu per satu dari mereka mulai berubah. Pelan-pelan―tanpa paksaan, mulai memahami bahwa kebebasan yang mereka kira sebenarnya adalah bentuk pelarian.
———
Cerita tentang Kiai Suwarno ini mungkin terdengar sederhana. Tapi jika dicermati, terdapat lapisan makna yang dalam. Inilah tentang kekuatan kata-kata. Kalimat biasa―yang luar biasa dalam waktu dan caranya. Seperti dhawuh KH. Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), setiap kata mempunyai waktu dan tempat―dan setiap tempat mempunyai kata-kata yang tepat. Disitulah letak kekuatan kata―menjadi reframing―mengubah cara pandang terhadap sesuatu. Bukankah dalam Jawa mengenal istilah, “Asmo kinaryo jopo” (Kata-kata tak ubahnya sebaris mantra)

Dalam kata-katanya tersebut, Kiai Suwarno mengembalikan tanggung jawab kepada mereka. Ia tidak menyalahkan mereka yang mabuk. Tapi sekadar mengingatkan; bahwa hidup tidak menunggu kamu sadar. Diksi-diksi yang digunakan mirip potret eksistensial Sartre: manusia bebas memilih, namun terikat dan tak bisa mengelak dari akibat. Sartre menyebutnya sebagai kebebasan yang penuh kutukan; bebas, namun setiap pilihan selalu terdapat konsekuensi.

Dari sekian banyak peristiwa, manusia tak selalu berubah ketika ditekan. Kadang, perubahan lahir justru saat seseorang diberi ruang untuk berfikir, menganalisa, dan merenung. Ketika tidak ada yang menggurui, tapi ada yang berusaha mengingatkan―disitulah nasihat hadir. Bukan sebagai penghakiman, tetapi sebagai manifestasi dari empati. Lantas menunjukkan bahwa dalam diri setiap orang, masih ada ruang untuk berubah. Bahwa rahmat dan kasih sayang Tuhan tak mengenal kata tepi untuk menembus hati. Manusia hari ini bukan hasil akhir, tapi proses yang terus bergerak. Bisa jadi, pemuda yang mabuk hari ini, mungkin esok hari bisa sadar. Menjadi yang lebih baik.

Kalimat “urip iku mung mampir ngombe” dalam kearifan Jawa―merupakan petuah yang diwariskan turun-temurun. Menjadi semacam worldview yang disepakati oleh banyak orang. Namun, yang sering dilupakan, bahkan tak terpikir―kalimat itu acapkali dipandang sekadar sekumpulan kata-kata. Padahal, jika dicermati, ada sekian pertanyaan eksistensial yang mengarah pada ontologi dan aksiologi dan perlu menjadi bahan perenungan. Misalkan, jika benar “Urip mung mampir ngombe”, mampir dimana? siapa yang mengundang? apa yang diminum? manfaat apa yang diperoleh setelahnya? Dan kemana kita setelah minum? Dari percakapan Kiai Suwarno dengan sekolompok pemuda itu, sedikit membuka jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut. Percakapan Kiai Suwarno memang tidak menjelaskan itu semua. Tidak perlu. Karena dalam satu kalimatnya, tersimpan pesan yang tak butuh tafsir berjilid-jilid.

Cerita tentang ini mungkin tidak begitu penting. Tapi justru karena itu, ia berarti. Betapa kita sering belajar dari hal yang tampaknya remeh temeh. Bukan dari lokakarya, seminar mahal, dan buku-buku tebal. Bukan. Tapi dari percakapan diantara para buruh, humor orang tua di emperan masjid, atau obrolan kecil di warung kopi. Kadang, justru kalimat asal-asalan, jika datang dari orang yang tulus, bisa lebih menyadarkan daripada ceramah yang di glorifikasi.

Mabuk bukan hanya tentang alkohol―kadang hidup juga bisa memabukkan bila dijalani tanpa arah. Barangkali sekelompok pemuda itu hanya mabuk minuman keras, namun diluar sana mungkin sebagian orang mabuk oleh hal lain―kekuasaan, cuan, kebenaran, atau cinta. Tapi semoga selalu ada orang bijak yang berkata dengan tenang;
“Teruskan saja. Tapi setelah itu, kamu akan mati.”

Wallau a’lam bish shawab.

Tags: Filosofi JurnabaHidup dan Minuman
Previous Post

Kitab Ihya, Masjid Salman ITB, dan Kaligrafi Masjid Istana Kepresidenan

Next Post

Forum Rembug Desa: BI Gelar Diskusi Penghidupan Berkelanjutan

BERITA MENARIK LAINNYA

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan
Cecurhatan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum
Cecurhatan

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026

Anyar Nabs

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: