Melalui Serial Literasi Geopark, Tim Ekspedisi Naga Api melakukan kajian mengenai jejak pemanfaatan minyak bumi alami, jauh sebelum datangnya konsesi dan industrialisasi.
Secara literatur, jejak pemanfaatan minyak bumi alami digambarkan seorang pelancong perahu yang pada 1827 M, menyusuri Bengawan dari Surakarta menuju Gresik. Sesampai di Jipang Panolan, pelancong itu melihat barisan penduduk di sepanjang sungai, membawa obor minyak bumi untuk menerangi perjalanannya dari Jipang Panolan – Jipang Padangan.
Jarak antara Jipang Panolan (Blora) hingga Jipang Padangan (Bojonegoro), menjadi saksi atas pemanfaatan minyak bumi sebagai obor penerangan, jauh sebelum industrialisasi minyak bumi kolonial dilakukan secara masif di kawasan Blora dan Bojonegoro ini.
Masuk era konsesi 1890-an, wilayah Blora dan Bojonegoro mulai dikenali melalui keberadaan rembesan minyak alami yang muncul di beberapa titik sepanjang zona Pegunungan Kendeng. Fenomena ini tercatat dalam laporan kolonial sebagai indikasi awal keberadaan minyak bumi.
Kajian E. H. von Baumhauer 1863–1864 memperkuat dugaan bahwa wilayah Jawa bagian timur, yang secara geologis terhubung dengan Rembang, memiliki potensi minyak bumi. Pada tahap ini belum ada aktivitas pengeboran, dan seluruh pengetahuan masih terbatas pada observasi permukaan serta sampel rembesan alami.
Dalam laporan C. de Groot, wilayah ini mulai masuk dalam peta indikatif minyak bumi. Uji coba awal dilakukan dengan memanfaatkan sumur-sumur dangkal dan rembesan minyak yang sudah dikenal penduduk lokal, dengan hasil yang masih sangat kecil di bawah 1 pikul per lokasi per tahun.
Uji coba mulai meningkat dengan penggunaan pengeboran mekanis dalam skala terbatas di wilayah yang terhubung dengan Rembang, khususnya Tinawoen dan Panolan. Dalam fase ini, tiap konsesi umumnya menggunakan sekitar 2 hingga 3 rig pengeboran secara bersamaan.
Di wilayah Distrik Tinawoen (Dandangilo dan Wonocolo), tercatat sekitar 15 sumur uji yang dibor pada tahap awal. Sebagian besar tidak menghasilkan produksi stabil dengan tingkat kegagalan yang tinggi. Namun, di titik tertentu seperti Dandang-ilo, hasil uji coba menunjukkan produksi yang lebih menjanjikan, mencapai sekitar 5 pikul per tahun.
Secara keseluruhan, hasil uji coba memperlihatkan pola produksi kecil yang tersebar dengan rasio keberhasilan sumur sekitar 20–30 persen. Namun demikian, data uji coba ini cukup untuk mendorong perluasan konsesi dan masuknya modal swasta Eropa menuju sistem konsesi minyak yang lebih terstruktur.
Dengan luas sekitar 30.232 bouw, wilayah konsesi ini membentang di distrik Tinawoen, Divisi Bojonegoro, Karesidenan Rembang. Skala wilayah yang sangat besar ini menunjukkan tingginya ekspektasi terhadap potensi cadangan minyak bumi di kawasan tersebut.
Konsesi ini secara resmi diterima pada 21 Januari 1895 oleh kelompok pemodal yang dipimpin oleh C. G. Riesz bersama perusahaan Anemaet & Co. Pengeboran dilakukan secara berkelanjutan, dan minyak bumi mulai ditemukan di beberapa titik penting, terutama di sekitar desa Kedewan, serta di lokasi lain seperti Dandang-Ilo dan Wonotjolo.
Memasuki awal tahun 1896, di atas lahan yang disewa dari penduduk setempat, dibangun sebuah waduk penampungan minyak mentah. Minyak dari Tinawoen kemudian direncanakan untuk dialirkan melalui pipa besi menuju Ngareng di distrik Panolan (Blora), tempat fasilitas milik Dordtsche Petroleum-Maatschappij melakukan proses penyulingan.
Para pemegang konsesi membentuk perusahaan khusus bernama Maatschappij tot exploitatie der petroleumconcessie Tinawoen, yang berpusat di Soerabaija. Anggaran dasar perusahaan disahkan melalui keputusan pemerintah pada 7 Mei 1896, menandai transformasi dari kepemilikan konsesi individual menuju bentuk korporasi modern berbasis saham.
Konsesi Tinawoen memberikan kontribusi signifikan kepada pemerintah kolonial. Bea tetap tahunan untuk tahun 1895 ditetapkan sebesar f 7.558, ditambah pembayaran f 360 sebagai kompensasi kepada pemegang hak atas tanah lokal. Seluruh kewajiban ini disetorkan ke kas negara di Rembang pada akhir tahun 1895.
Tinawoen merupakan simpul penting dalam proses awal industrialisasi petroleum di Jawa. Di sini terlihat jelas tiga dinamika utama: eksplorasi geologi, pembentukan infrastruktur industri (pipa, waduk, kilang), serta transformasi hukum-ekonomi melalui pembentukan perusahaan kolonial modern.
Ekspedisi Naga Api merupakan bagian dari Program Literasi Geopark yang didukung ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan SKK Migas. EMCL mendukung upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro untuk pengembangan geopark sebagai kebanggaan dan identitas daerah.








