Di sebuah selasar sunyi menjelang malam, angin bergerak perlahan seperti sedang membaca doa-doa tua. Saya duduk berhadapan dengan Mahatma Gandhi. Ia mengenakan kain putih sederhana, memegang tongkat bambu, dan wajahnya tampak tenang seperti sungai yang tidak tergesa menuju laut.
Saya memulai percakapan.
Saya: Bapu, dunia hari ini terasa semakin gaduh. Orang-orang saling menyerang lewat kata-kata, media sosial dipenuhi kebencian, politik berubah menjadi arena saling menghancurkan. Apakah Ahimsa masih relevan di zaman seperti sekarang?
Gandhi: Ahimsa justru paling dibutuhkan ketika dunia kehilangan kesabaran. Kekerasan hari ini tidak selalu berupa senjata. Kadang ia hadir dalam bentuk ejekan, fitnah, manipulasi informasi, bahkan kerakusan ekonomi. Orang modern menganggap dirinya maju karena teknologinya berkembang. Namun batinnya sering masih primitif: mudah marah, mudah takut, mudah membenci.
Saya: Tetapi banyak orang merasa bahwa tanpa kekerasan, rakyat kecil akan terus diinjak. Bukankah kekuasaan sering hanya takut pada tekanan?
Gandhi: Tekanan memang perlu. Tetapi tekanan tidak harus lahir dari kebencian. Satyagraha bukan kelemahan. Ia keberanian jiwa untuk mengatakan: “Aku menolak tunduk pada ketidakadilan, tetapi aku juga menolak menjadi monster baru.” Penjajah bisa berganti wajah. Dulu mungkin kolonialisme berbentuk tentara asing. Hari ini ia bisa berupa ketergantungan ekonomi, budaya konsumtif, oligarki, atau algoritma yang mengendalikan pikiran manusia.
Saya: Di negeri kami, rakyat sering terjebak antara kemiskinan dan politik kekuasaan. Banyak orang kecil menjadi korban panggung politik. Mereka marah, tetapi juga lelah.
Gandhi: Karena mereka dibuat jauh dari kemandirian. Bangsa yang kehilangan kemampuan memproduksi kebutuhan hidupnya sendiri akan mudah diperintah oleh rasa takut. Swadeshi bukan sekadar memakai produk lokal. Ia adalah martabat. Ketika desa-desa kehilangan sawahnya, ketika anak-anak muda malu menjadi petani, ketika pasar hanya dipenuhi barang dari luar, maka sesungguhnya bangsa sedang kehilangan jiwanya sedikit demi sedikit.
Saya: Tetapi dunia sekarang bergerak sangat cepat. Semua orang mengejar pertumbuhan ekonomi, investasi, teknologi, dan citra modernitas. Gandhi tersenyum kecil.
Gandhi: Modernitas tanpa moralitas hanyalah percepatan menuju kekacauan.
Manusia modern sering memproduksi banyak barang, tetapi gagal memproduksi ketenteraman. Mereka membangun gedung tinggi, tetapi hati mereka runtuh oleh kecemasan. Kesederhanaan bukan kemiskinan. Kesederhanaan adalah kemampuan berkata:
“Aku tidak membutuhkan segalanya untuk menjadi manusia.”
Saya: Bapu, sekarang agama juga sering dipakai untuk memecah belah masyarakat. Orang merasa paling benar sendiri.
Gandhi: Ketika agama dipakai untuk membenci, sesungguhnya manusia sedang menyembah egonya sendiri. Tuhan terlalu luas untuk dipenjara dalam fanatisme sempit. Aku percaya semua agama adalah jalan menuju cahaya, meskipun manusia sering membawa lentera sambil saling memadamkan milik orang lain.
Saya: Kadang saya merasa pesimis. Orang-orang idealis sering tersingkir dalam sistem yang rakus. Gandhi memandang jauh ke langit malam.
Gandhi: Orang idealis memang sering kalah dalam hitungan kekuasaan. Tetapi sejarah manusia tidak hanya dibangun oleh para pemenang. Ia juga dibangun oleh mereka yang menjaga nurani ketika dunia kehilangan arah. Jangan takut menjadi suara kecil. Api besar kadang lahir dari satu lilin yang menolak padam.
Saya: Kalau Bapu hidup hari ini, apa yang akan Anda lakukan?
Gandhi: Aku mungkin akan berjalan dari desa ke desa, mengajarkan kembali keberanian hidup sederhana. Aku akan mengajak anak muda menanam pangan, memintal pengetahuan sendiri, membangun komunitas yang saling menjaga. Dan mungkin aku akan berkata kepada dunia digital: “Teknologi tanpa kebijaksanaan hanya akan mempercepat kesepian manusia.”
Malam semakin larut. Suara jangkrik terdengar seperti irama doa dari bumi. Sebelum pergi, Mahatma Gandhi menoleh kepada saya dan berkata pelan: “Perjuangan terbesar manusia bukan menaklukkan dunia, melainkan menaklukkan kebencian di dalam dirinya sendiri.”








