Lelaki di seberang mejaku menyesap sigaretnya dalam-dalam. Di bawah pendar lampu kafe yang temaram di kawasan Cikini—tempat di mana para aktivis, peneliti, dan konsultan LSM paruh baya biasa merayakan melankolia—ia mengembuskan asap yang segera larut ke udara, persis seperti janji-janji dalam proposal program yang kerap ia susun.
Di atas meja, di antara cangkir-cangkir espresso yang menyisakan ampas pekat, berserakan draf laporan triwulanan tentang “Pemberdayaan Masyarakat Adat dan Penanggulangan Kemiskinan Terstruktur”.
Aku mengenalnya sejak tahun 1998, saat kami sama-sama turun ke jalan, menantang peluru dengan dada telanjang dan idealisme yang menyala. Namun malam ini, jaket jepretnya yang bermerek mahal dan jam tangan pintar yang melingkar di pergelangan tangannya membisikkan narasi yang berbeda.
“Jika proyek ini selesai tahun ini, dan masyarakat benar-benar mandiri,” ujarnya datar, hampir tanpa beban, “kontrak kami dengan donor Eropa tidak akan diperpanjang. Kita butuh variabel baru. Atau setidaknya, merawat variabel lama agar tetap relevan.” Ia menyebutnya ‘keberlanjutan program’. Aku menyebutnya industri penjinakan trauma.
Ada ketenangan yang ganjil sekaligus mengerikan dalam bagaimana sebuah tragedi direduksi menjadi komoditas. Dalam sosiologi kontemporer, kita mengenal the political economy of discourse—ekonomi politik wacana. Di dalam ekosistem ini, penderitaan manusia tidak lagi dipandang sebagai luka yang harus disembuhkan, melainkan sebagai “objek” yang memiliki nilai tukar di pasar global filantropi.
Aku teringat riset lapangan yang kulakukan beberapa tahun lalu di sebuah desa pesisir yang tanahnya ambles akibat eksploitasi korporasi. Di sana, para ibu rumah tangga harus berjalan kaki dua kilometer demi dua jeriken air bersih, sementara anak-anak mereka tumbuh dengan bercak-bercak jamur di kulit akibat sanitasi yang buruk.
Namun, dalam ruang-ruang rapat ber-AC di Ibu Kota, penderitaan konkret itu mengalami sublimasi yang rapi. Ia diubah menjadi infografis yang estetik, tabel-tabel Excel dengan indikator pencapaian, dan dikemas dalam jargon-jargon mentereng: vulnerability index, marginalized communities, atau social resilience.
Komodifikasi Masalah: Sebuah siklus di mana penderitaan struktural diubah menjadi komoditas ekonomi dan politik. Alih-alih diselesaikan, masalah dipelihara demi menjaga arus modal dan eksistensi lembaga pelaksananya. Ketika “penderitaan rakyat” telah sah menjadi komoditi, insting yang bekerja bukan lagi insting emansipatoris, melainkan insting peternak.
Peternak yang baik tidak akan menyembelih seluruh hewannya sekaligus; mereka merawatnya, memastikan mereka tetap hidup, tetap kurus, tetap tampak “layak dikasihani” agar proposal demi proposal berikutnya tetap cair. Menyaksikan fenomena ini menumbuhkan jenis trauma sosial yang subtil namun mendalam.
Ini adalah pengkhianatan kelas yang dilakukan secara halus. Pelaku-pelakunya bukan orang asing berpakaian necis dari korporasi multinasional, melainkan teman-temanku sendiri. Mereka yang dulunya membaca Gramsci dan Pramoedya di bawah kolong jembatan, kini menjelma menjadi pengumpul portofolio kemiskinan.
Ada kepedihan yang mengendap saat melihat bagaimana sebuah komunitas yang terluka terus-menerus dieksplorasi lukanya demi kebutuhan tenggat waktu laporan keuangan. Mereka difoto dengan latar belakang rumah bambu yang nyaris roboh, diminta tersenyum getir di depan kamera, lalu ditinggalkan begitu saja setelah dana taktis turun.
Malam semakin larut di Cikini. Temanku baru saja menerima telepon, mendiskusikan Term of Reference (TOR) baru untuk sebuah proyek mitigasi konflik di Indonesia Timur. Wajahnya tampak lelah, namun ada binar kepuasan yang dingin di matanya—binar seorang pebisnis yang tahu pasarnya tidak akan pernah mati. Selama ketimpangan sosial masih ada, peternakannya akan selalu subur.
Aku memandang ke luar jendela, ke arah jalanan yang basah oleh sisa hujan. Di luar sana, di sudut-sudut kota dan pelosok daerah, orang-orang miskin yang asli tetap terjebak dalam lingkaran setan yang sama. Mereka tidak tahu bahwa air mata mereka telah bertransformasi menjadi angka-angka yang menghidupi kelas menengah baru di ibu kota.
Komodifikasi masalah ini memang menyedihkan. Ia mematikan rasa kemanusiaan kita dengan cara yang paling sopan: melalui birokrasi, riset, dan senyuman kepedulian yang palsu. Kami tidak lagi menyembuhkan luka; kami hanya belajar bagaimana caranya berfoto di sebelahnya dengan pencahayaan yang dramatis.








