Dua masjid yang berdiri sebagai kesaksian abadi bahwa ketika kata-kata tak lagi cukup, manusia akan berbicara melalui kubah, menara, dan keindahan yang terukir dalam batu.
Istanbul, tahun 1609.
Hari itu, pada tahun itu, Sultan Ahmed I, 14 tahun, berdiri di balkon menghadap Hagia Sophia, Istanbul. Di matanya, kubah raksasa itu bukan lagi simbol kemenangan Turki, namun cermin kekalahannya sendiri. Perjanjian Zsitvatorok baru saja ditandatangani: perdamaian yang terasa seperti kekalahan bagi Kesultanan Usmaniyah. Tidak ada rampasan perang. Tidak ada kemenangan gemilang. Yang ada hanya keheningan yang memalukan.
Kemudian, malam itu, dalam mimpi, sang sultan melihat enam menara menyambar langit seperti pedang, dan sebuah lautan ubin biru yang menelan cahaya matahari. Ia pun terbangun dengan satu keyakinan, “Aku akan membangun masjid yang membuat Bizantium menangis, yang membuat Allah tersenyum, dan yang membuat namaku abadi ketika tubuhku telah menjadi debu.”
Tahun itu pula, di atas lahan yang pernah menjadi tempat duduk kaisar-kaisar Romawi, dengan langkah yang mungkin penuh kegelisahan, Sultan Ahmed I memerintahkan dimulainya sebuah proyek yang akan melampaui dirinya sendiri: sebuah masjid megah dan gagah dengan enam menara. Untuk membayangi Hagia Sophia.
Sekitar dua abad kemudian, tepatnya pada tahun 1830, seorang penguasa baru Mesir, Muhamed Ali Pasha, 61 tahun, berdiri di Benteng Shalahuddin Al-Ayyubi. Tangannya masih bau mesiu dari Pembantaian Benteng yang menghabisi 500 kelompok elit Mamluk. Darah mereka meresap ke bumi tempat istana mereka dirikan. “Dari abu mereka,” gumamnya, “akan kubangun sesuatu yang lebih besar dari mereka. Malah, lebih besar dari Istanbul sendiri.” Ia memandang ke arah jauh di utara: ke arah Kesultanan Usmaniyah yang mulai goyah. “Mereka punya Masjid Biru. Kita akan punya Masjid Marmer yang lebih berpendar cemerlang ketimbang matahari.”
Tak lama selepas itu, Muhamed Ali Pasha memilih lokasi yang tak kalah simbolis: di puncak Benteng Shalahuddin Al-Ayyubi, tepat di atas reruntuhan istana-istana Mamluk yang telah ia hancurkan, ia mulai mendirikan Masjid Mohamed Ali: sebuah masjid megah yang hingga kini tegak menatap setiap “tamu” kota Kairo yang datang dari arah Cairo International Airport.
Kini, rahasia apa di balik pendirian dua masjid megah di Istanbul dan Kairo itu?
Konflik dan Legasi yang Dipertanyakan
Pada awal abad ke-17, seperti dikemukakan di muka, Kesultanan Usmaniyah berada dalam bayang-bayang kemunduran. Perjanjian Zsitvatorok (1606), yang mengakhiri perang panjang dengan Dinasti Habsburg (Austria-Hungaria) dianggap sebagai pukulan bagi prestise kesultanan. Sultan Ahmed I, yang naik tahta di usia muda dan tidak memiliki kemenangan militer yang gemilang, menghadapi tekanan untuk meninggalkan jejaknya. Kemudian, tanpa harta rampasan perang, ia mengambil keputusan yang kontroversial: menggunakan dana kas negara untuk membangun sebuah masjid agung baru. Itulah Masjid Biru (Blue Mosque) yang kini tegak di salah satu sisi Sultan Ahmet Square, Istanbul.
Langkah Sultan Ahmed I itu menimbulkan protes keras. Dari para ulama. Mereka berpendapat, masjid kerajaan seharusnya didanai dari rampasan perang. Mereka, malah, sampai melarang umat Islam melaksanakan shalat di masjid itu. Namun, Sultan Ahmed I bersikukuh. Motivasinya jelas: membangun monumen yang akan menyaingi, malah melampaui, kemegahan Hagia Sophia yang berdiri megah di seberangnya: simbol tak terbantahkan dari warisan Konstantinopel yang telah ditaklukkan.
Dibangun antara tahun 1609-1617, Masjid Biru ini adalah mahakarya terakhir arsitektur klasik Kesultanan Usmaniyah. Arsiteknya, Sedefkar Mehmed Agha, murid dari legenda Mimar Sinan, menciptakan ruang yang lapang dengan satu kubah pusat raksasa (diameter 23,5 meter) yang dikelilingi empat setengah kubah.
Namun, jiwa sejati masjid ini terletak di dalamnya. Lebih dari 20.000 ubin keramik Iznik buatan tangan, didominasi nuansa biru kobalt, pirus, dan hijau, menyelimuti dinding setinggi lebih dari lima meter. Cahaya menerobos melalui 260 jendela kasalı patri, menciptakan permainan cahaya yang menghidupkan warna-warna tersebut dan memberikan pengalaman spiritual yang hampir sureal. Enam menaranya yang ramping- jumlah yang langka dan awalnya hanya dimiliki Masjidil Haram-menjadi siluet ikonis Istanbul. Keindahan yang memukau ini pada akhirnya berhasil meredakan kontroversi awal, mengubah masjid ini menjadi salah satu masjid yang paling dicintai di Istanbul.
Pemutusan dengan Masa Lalu, Klaim atas Masa Depan
Jika Masjid Biru lahir dari kecemasan, Masjid Mohamed Ali lahir dari keyakinan yang tak tergoyahkan. Mohamed Ali Pasha, seorang komandan militer asal Albania yang kemudian menjadi penguasa de facto Mesir, pada tahun 1830 telah berhasil memodernisasi negara, memberantas kelompok elit Mamluk, dan menjalin hubungan dengan kekuatan Eropa.
Nah, masjid yang dibangun antara tahun 1839-1857 tersebut adalah bagian dari proyek besar-besaran untuk mendefinisikan ulang Mesir. Lokasinya di Benteng Shalahuddin Al-Ayyubi penuh makna: ia mendirikannya di atas reruntuhan istana-istana Mamluk, secara harfiah berarti mengubur tatanan lama dan mendirikan tatanan baru.
Ironisnya, meski secara politik ia memisahkan diri dari Istanbul, namun secara arsitektural ia justru mengadopsi gaya Usmaniyah murni. Tepatnya, ia mencontoh Masjid Sultan Ahmed I (Masjid Biru) dan Masjid Şehzade yang tegak di Istanbul. Ini adalah klaim legitimasi dan kesetaraan: menunjukkan bahwa dinastinya adalah penerus sah dari kemegahan Kesultanan Usmaniyah. Malah, mungkin lebih unggul.
Masjid yang didirikan Mohamed Ali Pasha ini, yang juga dikenal sebagai Masjid Alabaster, memancarkan kekuatan yang disengaja. Denahnya simetris dan masif, dengan kubah utama raksasa (diameter 21 meter, tinggi 52 meter) yang ditopang empat pilar besar. Muhamed Ali Pasha bersikeras menggunakan alabaster (marmer halus) Mesir untuk melapisinya, sebagian untuk mempromosikan industri lokal yang merosot.
Namun, ambisi material tersebut kemudian menuai masalah. Alabaster relatif berat dan tidak ideal untuk struktur setinggi ini. Sekitar satu abad kemudian, tepatnya pada tahun 1931, kerusakan struktural yang parah ditemukan: kubah utama retak dan dinding mulai miring. Restorasi besar-besaran yang diperintahkan Raja Fouad I mengharuskan kubah dan setengah kubah dibongkar dan dibangun kembali dengan rangka baja internal yang kokoh, sebuah proses yang baru selesai pada 1939.
Dua elemen unik lainnya adalah menara kembar setinggi lebih dari 80 meter, yang menjadi yang tertinggi di Mesir saat itu, dan menara jam bergaya neo-Gothic: hadiah dari Raja Louis Philippe dari Prancis sebagai imbalan atas Obelisk Luxor yang kini tegak di Place de la Concorde, Paris.
Warisan yang Terukir dalam Makna
Kini, Masjid Biru di Istanbul dan Masjid Mohamed Ali di Kairo masih tegak dengan gagah dan megahnya. Yang satu di persimpangan benua: Istanbul. Yang satu lagi tegak tak jauh dari piramida-piramida Mesir: Kairo.
Masjid Biru adalah simfoni estetika yang halus. Ia lahir dari keraguan, namun kemudian berubah menjadi mahakarya seni yang menyatukan warisan Bizantium dan Islam, mendialogkan masa lalu dengan masa kini di jantung Istanbul. Keindahannya yang memikat telah melampaui kontroversi politik yang melahirkannya.
Sebaliknya, Masjid Mohamed Ali adalah pernyataan kekuatan yang monumental dan tegak. Ia adalah monumen dari seorang visioner pragmatis yang dengan sengaja memutus masa lalu dan mendeklarasikan era baru. Kekokohannya yang mendominasi langit Kairo mencerminkan tekad pendirinya untuk membentuk Mesir modern.
Di sisi lain, dua masjid megah itu mengajarkan kepada kita sebuah pelajaran terbesar: arsitektur agung kerap kali bukanlah anak kandung masa kejayaan yang tenang. Namun, anak dari gejolak, ambisi, dan keinginan yang membara untuk membuktikan sesuatu: kepada dunia, kepada sejarah, dan kepada diri sendiri. Dua masjid itu berdiri sebagai kesaksian abadi bahwa ketika kata-kata tak lagi cukup, manusia akan berbicara melalui kubah, menara, dan keindahan yang terukir dalam batu.
Anda berkunjung ke Istanbul dan/atau ke Kairo? Jangan lupa kunjungi dua masjid nan gagah dan megah itu: Masjid Biru dan Masjid Mohamed Ali!








