Di bumi bagian mana lagi aku bisa memenangkan diri? Pertanyaan itu terdengar seperti keluhan seorang pengembara. Tapi mungkin ia bukan sedang mencari tempat. Ia sedang mencari jarak.
Kota-kota hari ini tak lagi sekadar ruang; ia telah menjadi arus. Orang lalu-lalang seperti partikel dalam eksperimen raksasa yang tak pernah diumumkan tujuannya. Mereka berdesakan, bukan hanya di trotoar dan gerbong, melainkan juga di layar-layar yang menyala hingga dini hari. Semua bergerak. Semua tergesa. Semua seperti sedang mengejar sesuatu—yang, jika ditanya, mungkin tak seorang pun dapat merumuskannya dengan jernih.
Dulu, kata Blaise Pascal, seluruh malapetaka manusia bersumber dari satu hal: ketidakmampuan untuk duduk tenang sendirian di dalam kamar. Kini kamar pun tak lagi sunyi. Ia ditembus notifikasi. Ia dipenuhi gema percakapan yang tak pernah selesai. Sunyi telah menjadi barang langka—dan karena itu mahal.
Menangkan diri: frasa itu terdengar seperti medan laga. Seolah-olah hidup adalah kompetisi yang tak kita pahami aturannya, namun kita tetap diminta bertanding. Kita belajar sejak kecil untuk menjadi yang pertama, yang tercepat, yang paling tampak.
Kita diajari mengukur diri dengan angka, dengan peringkat, dengan sorak yang datang dan pergi. Tapi tak pernah benar-benar diajari bagaimana berdamai dengan kegagalan, dengan kekosongan, dengan jeda.
Barangkali karena dunia modern tak memberi ruang bagi jeda. Ia memuja produktivitas seperti dewa lama yang bangkit kembali dalam bentuk grafik pertumbuhan. Di sana, manusia menjadi angka, dan angka tak pernah punya waktu untuk merenung.
Namun bukankah dalam tradisi yang lebih tua, kemenangan justru berarti mengalahkan diri sendiri? Dalam kisah-kisah asketis—baik di Timur maupun Barat—pemenang bukanlah ia yang menaklukkan kota, melainkan ia yang menaklukkan hasrat. Søren Kierkegaard pernah menulis bahwa kecemasan adalah pusingnya kebebasan. Kita bebas memilih, tapi kebebasan itu sendiri membuat kita limbung. Maka kita berlari, agar tak sempat merasa pusing.

Semua tempat tampak penuh sesak, ya. Tapi mungkin yang sesak bukanlah ruang; melainkan batin yang tak lagi memiliki wilayah sendiri. Kita hadir di mana-mana, tapi tak pernah sungguh-sungguh tinggal di satu momen. Kita terkoneksi dengan ribuan orang, tapi jarang bersua dengan diri sendiri.
Mungkin pertanyaannya bukan lagi: di bumi bagian mana aku bisa memenangkan diri? Mungkin yang perlu ditanyakan: di bagian mana dari diriku yang belum dijajah oleh kebisingan, aku bisa mulai tinggal?
Sebab kemenangan itu, jika masih mungkin, barangkali bukan tentang berada di tempat yang sepi. Ia tentang menemukan sunyi—bahkan di tengah pasar yang riuh. Dan sunyi, seperti kebijaksanaan, tak pernah disediakan oleh dunia. Ia harus direbut, perlahan, dari dalam.
Orang-orang kerap meributkan sesuatu yang sebenarnya tak begitu berharga. Barangkali karena yang remeh lebih mudah digenggam daripada yang hakiki. Yang hakiki menuntut kesabaran, perenungan, dan—sering kali—kerendahan hati. Sedangkan yang remeh cukup dengan emosi yang cepat menyala.
Di ruang-ruang publik hari ini, suara menjadi ukuran kebenaran. Siapa yang paling lantang, ia seakan paling benar. Siapa yang paling sering tampil, ia seakan paling tahu. Padahal, seperti diingatkan Socrates berabad-abad lalu, kebijaksanaan justru dimulai dari kesadaran bahwa kita tidak tahu. Tetapi pengakuan seperti itu tak laku di pasar opini. Ia tak dramatis. Ia tak viral.
Orang-orang terlalu banyak bicara dan menggurui tentang apa yang tidak mereka ketahui. Mereka meminjam istilah, mengutip tanpa membaca, menyimpulkan tanpa menyelidiki. Dalam dunia yang bergerak cepat, keraguan dianggap kelemahan. Padahal keraguan adalah bentuk tanggung jawab intelektual. Ia menahan lidah agar tidak tergesa.
Orang-orang gampang berteriak lantang untuk hal-hal yang bisa diselesaikan dengan suara rendah dan pikiran yang tenang. Seolah-olah volume dapat menggantikan argumentasi. Seolah-olah kemarahan adalah bukti kepedulian. Padahal sering kali ia hanya cermin dari ego yang terluka.
Dan dari ego itu lahir hasrat untuk berkuasa. Orang-orang selalu ingin bertindak semau mereka—menetapkan aturan bagi yang lain, namun kebal terhadap aturan bagi diri sendiri. Kekuasaan, kata Hannah Arendt, menjadi berbahaya ketika ia terlepas dari tanggung jawab dan dialog. Ketika kekuasaan tak lagi mendengar, ia berubah menjadi kekerasan—kadang tak kasatmata, kadang telanjang.
Maka orang-orang mudah merendahkan dan menindas sesamanya. Bukan karena mereka selalu kejam, melainkan karena mereka takut kehilangan posisi. Dalam ketakutan itu, solidaritas menjadi barang mahal. Yang lain dipandang sebagai ancaman, bukan sesama.
Sementara itu, bumi memikul akibatnya. Orang-orang membuang sampah sembarangan, membabat hutan, mengotori sungai dan lautan. Mereka menyebutnya pembangunan. Mereka menyebutnya kebutuhan. Tapi di balik kata-kata itu ada keserakahan yang tak pernah puas. Seolah-olah bumi adalah benda mati yang tak akan pernah membalas.
Padahal ia sedang membalas—perlahan, tapi pasti. Udara yang menipis. Air yang tercemar. Cuaca yang tak menentu. Kita menyaksikan tanda-tandanya, namun tetap menunda perubahan. Seperti seseorang yang tahu tubuhnya sakit, tetapi enggan mengubah gaya hidupnya. Barangkali yang paling mengkhawatirkan bukanlah kerusakan itu sendiri, melainkan kebiasaan untuk menganggapnya biasa.
“Orang-orang,” kita berkata, seakan-akan kita berdiri di luar mereka. Padahal kita termasuk di dalamnya. Kita pun kadang ribut tentang yang sepele, berbicara tentang yang tak kita pahami, menunda tanggung jawab kecil yang seharusnya bisa kita lakukan hari ini.
Maka mungkin perubahan tak dimulai dari seruan besar. Ia dimulai dari pengakuan yang sederhana: bahwa orang-orang itu adalah kita. Dan bumi yang rusak itu bukan ruang abstrak—ia adalah rumah yang kita tinggali bersama. Di sanalah, barangkali, suara rendah dan pikiran yang tenang menemukan kembali martabatnya.[]








