Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Menjenguk Peradaban Islam di Museum of Islamic Art Cairo

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
23/02/2026
in Cecurhatan
Menjenguk Peradaban Islam di Museum of Islamic Art Cairo

Museum of Islamic Art

Dengan segala luka dan kebangkitannya, Museum of Islamic Art in Cairo adalah cahaya peradaban, seperti lampu-lampu masjid Sultan Barquq, tidak akan pernah benar-benar padam. Ia hanya menunggu untuk dinyalakan kembali.

KAIRO, 24 Januari 2014 pukul 06.31 pagi. “Duaar!” Pagi itu, sebuah bom mobil meledak keras di depan kantor keamanan pusat Kairo. Tepat di seberang Museum of Islamic Art in Cairo. Gelombang kejut merobek jendela, meruntuhkan pintu, dan menghancurkan etalase-etalase kaca. Lampu-lampu masjid berenamel yang tak ternilai jatuh berkeping-keping. Sekitar 20-30% koleksi diperkirakan rusak dan fasad bangunan hancur parah.

Namun, dari reruntuhan itu, bangkitlah solidaritas internasional. Italia menjadi donor utama dengan kontribusi 800.000 euro. UNESCO, Jerman, Amerika Serikat, Swiss, dan Uni Emirat Arab juga turut membantu. Tim ahli dari Italia (Istituto Superiore per la Conservazione e il Restauro) bekerja sama dengan tim Mesir memulihkan setiap benda yang rusak.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 20 Januari 2017, Museum of Islamic Art in Cairo dibuka kembali secara resmi. Upacara megah tersebut dihadiri Presiden Mesir Abdul Fattah El Sisi. Menteri Purbakala Mesir, Khaled El-Enany, dalam acara tersebut, menyatakan, “Peresmian ini melambangkan kemenangan Mesir dalam melawan terorisme.” Museum yang telah direstorasi tersebut kini menampilkan 4.400 benda-hampir tiga kali lipat dari sebelumnya-dengan sistem keamanan modern, pengatur suhu, dan pencahayaan baru.

Di manakah lokasi museum yang kaya dengan warisan peradaban Islam itu?

Bergaya Neo-Mamluk

Di sudut Bab El Khalq, Kairo, tepat di persimpangan antara kota abad pertengahan dan metropolis modern, itulah lokasi musem bergaya neo-Mamluk dengan fasad batu hitam-putih berukir indah. Dari luar, bangunan itu tampak seperti masjid atau madrasah. Namun, di balik pintu kayu berukir setinggi lima meter itu, tersimpan lebih dari seratus ribu cerita. Ya, lebih dari seratus ribu cerita. Itulah Museum of Islamic Art in Cairo, rumah bagi peradaban Islam yang pernah membentang dari Spanyol hingga perbatasan Cina. Dari abad ke-7 hingga abad ke-19. Seperti kota Kairo sendiri, museum tersebut adalah palimpsest: lapisan demi lapisan sejarah, kehancuran, dan kebangkitan.

Museum of Islamic Art

Kawasan Bab El Khalq (باب الخلق), yang secara harfiah berarti “Gerbang Penciptaan”, memiliki sejarah panjang sebagai salah satu gerbang kota bersejarah Kairo. Kawasan ini berdiri di atas tanah yang dulunya menjadi batas alami yang memisahkan Kairo historis dari lahan hijau subur yang membentang hingga Sungai Nil. Nama awalnya, pada tahun 1241 M, adalah Bab El Kharek. Namun, karena dianggap kurang pantas, akhirnya diubah menjadi Bab El Khalq pada akhir abad ke-19. Kini, kawasan ini dikenal sebagai Ahmed Maher Square.

Di kawasan itulah, sejak tahun 1904 M, berdiri megah sebuah gedung yang sejak awal dirancang sebagai rumah bagi dua institusi paling progresif pada masanya: Museum of Islamic Art di lantai dasar, dan Perpustakaan Nasional Mesir (Dar Al-Kutub Al-Mishriyah) di lantai atas. Dengan demikian, Bab El Khalq bukan hanya sekadar titik geografis. Namun, merupakan sebuah pusat intelektual dan kultural yang menyatukan warisan benda dan warisan tulisan peradaban Islam.

Di balik kemegahan fasad museum yang memadukan ornamen Islam klasik dengan struktur modern, terdapat tangan seorang arsitek Italia kelahiran Mesir: Alfonso Manescalo (dalam beberapa sumber juga ditulis sebagai Alfonso Maniscalco atau Alfonso Manelesco).

Manescalo merancang gedung ini dengan gaya neo-Mamluk: gaya arsitektur yang terinspirasi dari kejayaan arsitektur Mamluk abad ke-13 hingga ke-16. Fasadnya dihiasi dengan pola ablaq (batu berwarna hitam dan putih berselang-seling) yang menjadi ciri khas bangunan Mamluk, lengkung-lengkung runcing, serta ukiran kaligrafi dan geometris yang rumit. Ia juga merancang dua pintu masuk utama: pintu utama di sisi timur laut menghadap ke Port Said St. Sedangkan pintu kedua, di sisi tenggara, menghadap ke Mohammed Ali St.

Pembangunan museum ini dimulai pada tahun 1899 dan rampung pada tahun 1902, kemudian diresmikan pada tahun 1903 oleh Khedive Abbas Helmy II. Khedive Abbas Helmy II, penguasa Mesir kala itu, memiliki visi besar untuk menjadikan Kairo sebagai pusat peradaban Islam modern, dengan mendirikan museum khusus yang layak bagi warisan agung umat Islam.

25 Galeri, 100 Ribu Cerita

Namun, museum tersebut tidak lahir dalam sekejap mata. Sejarah panjangnya bermula pada tahun 1881. Pada tahun itu, Khedive Tawfiq memerintahkan pendirian museum sementara di serambi Masjid Al-Hakim: sebuah masjid peninggalan Dinasti Fatimiyah di dekat Gerbang Al-Futuh (Bâb Al-Futûh). Saat itu, koleksi awalnya hanya 111 benda arsitektur yang diambil dari berbagai monumen Islam di seluruh Mesir.

Seorang ilmuwan Austria, Julius Franz, diangkat sebagai direktur pertama: untuk mengelola museum sederhana itu hingga koleksinya terus bertambah. Kemudian, pada tahun 1887, ia digantikan oleh Max Herz, juga seorang ilmuwan Austria-Hongaria, yang melakukan banyak perubahan penting. Termasuk mengusulkan nama resmi museum: Dâr Al-Âtsâr Al-‘Arabiyah (Galeri Purbakala Arab).

Museum of Islamic Art Cairo

Delapan tahun setelah itu, tepatnya pada tahun 1895, koleksinya telah mencapai 1.641 benda. Akibatnya, serambi Masjid Al-Hakim tidak lagi mencukupi. Max Herz pun mengajukan permohonan pembangunan gedung baru yang lebih besar. Permohonan itu dikabulkan. Pada tahun 1899, pembangunan gedung baru di Bab El Khalq dimulai. Ketika pindah pada tahun 1902, museum membawa 3.154 benda yang dipajang untuk publik. Masjid Al-Hakim akhirnya dibongkar pada tahun 1970-an: saat dilakukan rekonstruksi besar-besaran .

Kini, Museum of Islamic Art in Cairo memiliki lebih dari 103.000 artefak yang tersebar di 25 galeri. Artefafak-artefak tersebut berasal dari masa Dinasti Umawiyah, Abbasiyah, Thuluniyah, Fathimiyah, Ayyubiyah, Mamluk, hingga Usmaniyah: semua dinasti yang pernah menancapkan kekuasaan di Lembah Nil dan meninggalkan jejak mereka di Negeri Piramid.

Kini, sayap kanan museum disiapkan untuk mengajak pengunjung berjalan menyusuri koridor waktu: Galeri 1 untuk masa Dinasti Umawiyah, Abbasiyah, dan Thuluniyah; Galeri 2–4 untuk masa kejayaan Dinasti Fathimiyah yang mendirikan Kairo; Galeri 5–7 era Ayyubiyah Shalahuddin; Galeri 8–11 kemegahan Dinasti Mamluk; dan Galeri 11–13 masa Turki Usmaniyah serta Muhammad Ali. Sedangkan sayap kiri, sebaliknya, adalah ruang tematik: koleksi koin dan senjata, dunia Islam timur, kaligrafi, tekstil dan karpet, kehidupan sehari-hari, hingga air dan taman, sains, dan pengobatan.

Kini, koleksinya pun sangat bervariasi. Dari keramik, tekstil, logam, ukiran kayu, artefak batu, hingga manuskrip langka. Semua itu menceritakan peradaban Islam dari abad ke-7 hingga abad ke-19 .

Harta Karun yang Tak Ternilai

Di antara ribuan koleksi tersebut , beberapa benda menjadi primadona yang membuat para peneliti dunia tercengang.

Pertama, Manuskrip Kitâb fi Al-Adwiyah Al-Mufradah. Yaitu, sebuah ensiklopedia farmakologi yang ditulis dengan tinta emas dan iluminasi yang memukau. Di galeri yang sama, sebuah Al-Quran raksasa abad ke-9 dipajang dalam kotak segi delapan rendah. Ditulis dengan huruf Kufi tebal tanpa hiasan-hanya hitam di atas perkamen-keindahannya justru terletak pada kesederhanaan yang agung. Pada lembar yang terbuka, terukir Surah Al-Isrâ’ tentang perjalanan malam Nabi Muhammad Saw.

Kedua, Lampu-lampu Masjid dari Periode Mamluk adalah kebanggaan lain museum. Salah satunya, lampu kaca yang dibuat untuk Komplek Sultan Barquq (1386 M). Lampu ini dihiasi enamel biru dan tulisan emas dengan ayat Surah Al-Nur, “Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya bagaikan sebuah misykat yang di dalamnya ada pelita besar.”Nama Sultan Barquq disebut dua kali pada tubuh lampu tersebut. Dari 35 lampu sejenis yang masih bertahan di dunia, sebagian besar kini berada di Museum Kairo: diselamatkan pada akhir abad ke-19 ketika pemerintah Mesir mengumpulkan semua lampu asli dari masjid-masjid tua untuk diamankan.

Ketiga, Koleksi Logam Mamluk juga tiada tanding. Teknik damascening-menatah emas dan perak ke permukaan kuningan-mencapai puncaknya pada abad ke-14. Cawan, bokor, dan pembakar dupa dihiasi kaligrafi yang mengalir dan medali-medali bundar bergambar singa, elang, atau pemandangan perburuan. Yang menarik, banyak di antara medali-medali tersebut memuat nama dan gelar pemilik asli, menghubungkan kita langsung dengan para sultan, pangeran, dan saudagar kaya yang memesan benda-benda tersebut lima abad lalu.

Keempat, Koleksi ilmiah yang menampilkan astrolabe: instrumen astronomi multifungsi untuk menentukan waktu shalat, arah kiblat, dan navigasi bintang. Di sampingnya, koleksi instrumen bedah dari periode yang sama menunjukkan betapa majunya praktek medis di rumah-rumah sakit Islam ketika Eropa masih bergulat dengan takhayul.

Tragedi 2014 dan Peradaban yang Merangkul

Seperti dikemukakan di atas, pada 24 Januari 2014 pukul 6.31 pagi, sebuah bom mobil meledak di depan kantor keamanan pusat Kairo. Tepat di seberang museum. Gelombang kejut bom tersebut merobek jendela, meruntuhkan pintu, dan menghancurkan etalase-etalase kaca museum. Lampu-lampu masjid berenamel yang tak ternilai jatuh berkeping-keping. Vitrin tebal berisi keramik abad pertengahan terguling. Debu mengepul di antara puing-puing dan pecahan kaca yang berkilau bagai permata yang hancur.

Sebanyak 179 benda rusak dalam tragedi itu. Para staf dan arkeolog berlari ke Lokasi. Banyak yang menangis menyaksikan kehancuran warisan museum tersebut. Namun, di tengah keputusasaan, mereka mulai mengumpulkan setiap serpihan, memberi label, dan menyusun rencana restorasi. Italia menjadi negara donor utama dengan kontribusi 800.000 euro, menempatkannya di puncak daftar negara penyumbang. UNESCO, Jerman, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab juga turut membantu. Tim ahli dari Italia-termasuk Istituto Superiore per la Conservazione e il Restauro (ISCR)-bekerja sama dengan tim Mesir memulihkan setiap benda yang rusak.

Namun di tengah kehancuran itu, sebuah keajaiban terjadi. Di aula tengah, sebuah kotak segi delapan rendah yang menyimpan Al-Quran raksasa abad ke-9 tetap utuh. Tidak satu lembar pun rusak. Para staf museum kemudian menyebutnya “perlindungan Ilahi”. Dalam hitungan jam, para sukarelawan dan kurator bekerja di bawah risiko atap yang mungkin runtuh, menyelamatkan sebanyak mungkin artefak. Dari 179 benda yang rusak, hampir semuanya berhasil direstorasi . Kini, setiap benda yang selamat dari tragedi 2014 ditandai dengan titik merah kecil: rahasia yang hanya diketahui oleh mereka yang tahu.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 20 Januari 2017, Museum of Islamic Art dibuka kembali secara resmi dalam sebuah upacara megah yang dihadiri oleh Presiden Mesir Abdul Fattah Al Sisi, para menteri, dan duta besar dari negara-negara donor. Menteri Purbakala Khaled El Enany menyampaikan pidato yang mengharukan. “Peresmian Museum of Islamic Art melambangkan kemenangan Mesir melawan terorisme, kemampuan dan kemauannya untuk memperbaiki apa yang telah dirusak oleh terorisme, dan untuk berdiri melawan upaya teroris menghancurkan warisan budaya kita.”

Museum yang telah direstorasi tersebut tidak hanya kembali seperti sedia kala. Namun, malah lebih baik. Tiga galeri baru ditambahkan. Sehingga, total benda yang dipamerkan menjadi 4.400: hampir tiga kali lipat dari sebelumnya yang hanya 1.450 benda. Sistem keamanan modern, pengatur suhu, dan pencahayaan baru dipasang untuk melindungi koleksi bagi generasi mendatang. Direktur museum, Ahmed El Shoky, menyampaikan pesan yang menggema hingga ke seluruh penjuru dunia, “Pesan Museum of Islamic Art adalah bahwa baik Anda Muslim atau bukan, Anda dipersilakan untuk menjadi kreator jika Anda ingin berkontribusi pada peradaban Islam.”

Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Koleksi museum memang mencakup karya-karya seniman Yahudi dan Kristen yang hidup dan berkarya di bawah naungan pemerintahan Islam. Dari pintu kayu dengan nama pengrajin Yahudi hingga pecahan keramik bergambar Bunda Maria, dari astrolab yang menghitung waktu salat hingga lampu yang memancarkan ayat Cahaya. Dengan kata lain, museum ini merayakan gagasan bahwa peradaban Islam, pada masa terbaiknya adalah peradaban yang merangkul.

Di museum bergaya Neo-Mamluk tersebut, memang empat belas abad sejarah Islam direduksi menjadi 25 galeri. Namun, ketika Anda berjalan keluar, melewati pintu kayu berukir, Anda tidak membawa pulang angka: 103.000 koleksi, 25 galeri, 179 benda rusak, 160 berhasil direstorasi, 3 tahun restorasi, 20 Januari 2017. Sejatinya, yang Anda bawa pulang adalah sebuah keyakinan: peradaban yang mampu menciptakan keindahan seperti itu, yang mampu bertahan dari kehancuran seperti itu, dan yang mampu merangkul keragaman seperti itu, pasti memiliki pesan untuk dunia.

Dan, Museum of Islamic Art in Cairo, dengan segala luka dan kebangkitannya, adalah pesan itu sendiri: cahaya peradaban, seperti lampu-lampu masjid Sultan Barquq, tidak akan pernah benar-benar padam. Ia hanya menunggu untuk dinyalakan kembali. Ini karena di Bab El Khalq, “Gerbang Penciptaan”, keindahan terus diciptakan: bukan dari ketiadaan, namun dari reruntuhan yang dibangkitkan, dari pecahan yang direkatkan, dan dari memori yang dihidupkan kembali!

 

Tags: Catatan Rofi' UsmaniMakin Tahu IndonesiaMuseum Islamic Art
Previous Post

‎Abad Baru, Luka Lama 

Next Post

Tempat yang Tersisa

BERITA MENARIK LAINNYA

Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Di Antara Embargo dan Martabat
Cecurhatan

Di Antara Embargo dan Martabat

07/04/2026

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: