Di meja kerjanya, ia tampak tegar seperti tajuk rencana. Namun di dalam dadanya, kegaduhan berputar serupa roda yang melintasi jalan berlubang.
Farday membenamkan muka. Menunduk lama. Sepintas ia tampak seperti mengingat sesuatu. Tapi sebenarnya tidak. Ia hanya menunduk dan menempatkan muka pada ruang di antara layar ponselnya. Farday tiba-tiba mendongakkan wajahnya. Menarik nafas panjang. Melihat sekitar. Lalu kembali menunduk lagi cukup lama.
”Riz, aku bingung mau nulis apa?” ucap Farday melempar pertanyaan pada saya, sambil tetap membenamkan mukanya.
Profesi jurnalis, seperti yang Farday dan saya yakini, memang bukan sekadar penulis. Ia gabungan antara seniman dan pendekar. Seniman karena bertugas meramu fakta menjadi narasi yang jernih dan bermakna. Pendekar karena berani mengungkap fakta dan teguh pada etika. Serupa seniman dan pendekar, jurnalis adalah ganjel kapitalisme yang amat gampang digencet kahanan.
Farday dalam catatan ini, tentu akan mengingatkan kita pada figur ilmuwan Inggris, Michael Faraday (1791 – 1867 M), seorang penemu prinsip elektromagnetisme yang dikenal sangat teliti, memiliki rasa ingin tahu tinggi, dan kuat duduk berhari-hari hanya demi menemukan bahwa magnet bisa menghasilkan efek rotasi.
Mirip seperti Michael Faraday, Farday kita ini juga memiliki rasa ingin tahu tinggi dan kuat duduk berhari-hari hanya demi menyelesaikan misi penulisan. Namun, Farday dalam tulisan ini bukanlah Michael Faraday. Tapi pewarta yang gigih menuntaskan pekerjaannya. Namanya Jauhari. Frasa jauh (far) dan hari (day) dalam namanya, membuat lelaki ini dikenal dengan Farday.
Dalam semesta kerja lapangan, Farday dan saya adalah penganut Sekte Ponseliyah — tak butuh PC, laptop, atau notebook untuk menulis dan menyelesaikan pekerjaan dalam waktu kurang dari 10 jam. Praktis, dalam berprofesi, kami hanya butuh ponsel saja. Ada yang menyebut kemampuan ini sebagai karomah. Namun, banyak pula yang menganggap keahlian ini sebagai kutukan pekerjaan.
Mr. Farday, how are you today? adalah salam yang kerap saya ucap ketika kami berjumpa. Itu bukan basa-basi. Tapi sakelar dialektika yang pasca diucap, secara ostomastis akan memantik diskusi tentang alam dan segala isinya, terutama ketika kami sedang bingung mau menulis apa. Kesulitan mencari tema untuk ditulis, membuat kami kerap menggelar diskusi random tentang hidup — tentang utopia utopis yang sulit dibuktikan secara empiris.
Kadang kami berdiskusi tentang megahnya lautan, tentang luasnya daratan, hingga tentang entitas yang selalu hidup di udara meski dia tidak pernah niat bekerja — burung-burung yang berangkat dari sarangnya, tetap mampu membawa pulang makanan saat menjelang petang. Padahal mereka tak punya pekerjaan.
Kadang kami berdiskusi tentang tata surya. Di tengah hamparan kosmos bertabur bintang, matahari menyala, dikelilingi orbit-orbit halus tempat merkurius, venus, bumi, mars, jupiter, saturnus, uranus, dan neptunus beredar dalam harmoni sunyi. Tata surya seolah disatukan poros tasbih, hingga seakan alam raya ini sedang berzikir pada putaran tawakal, menjalani lintasan takdir hidup masing-masing.

Jangan-jangan, darat-laut-udara sesungguhnya telah menyediakan anugerah meski tak harus dicari. Jangan-jangan, hidup tetap baik-baik saja meski kita tak melakukan apa-apa. Jangan-jangan, cukup memutar tasbih saja, kita sudah bisa berkunjung ke merkurius, venus, mars, jupiter, saturnus, uranus, hingga neptunus tanpa harus menaiki Tesla Roadster. Jangan-jangan.. Jangan, jangan diteruskan!
Bertawakal memang perlu dan penting. Tapi ilusi dan jebakan tawakal juga sangat membahayakan. Untungnya kami bisa lolos dari jebakan mekanisme “jangan-jangan” itu, berbekal pemahaman tentang akar kata tawakal, yakni wa-ka-la yang berarti mewakilkan atau menyerahkan. Bukankah untuk “menyerahkan” sesuatu kita harus “melakukan” sesuatu dulu?
Status wa-ka-la adalah fi’il madhi, kata kerja lampau. Bahkan untuk tawakal pun, faktanya harus mengalami kerja terlebih dahulu. Kompor di dapur akan tetap diam jika tidak dipantik apinya. Status wa-ka-la adalah upaya untuk memantik api, sementara kondisi api yang nantinya berwarna biru atau kuning, berada pada ranah ta-wa-kal — proses penyerahan upaya.
Ponsel Farday tetap teguh dalam genggaman, layarnya menyala memantulkan cahaya kebiruan ke wajah yang menunduk fokus. Notifikasi beberapakali muncul di sudut layar, bergetar halus seperti denyut kecil yang tak ingin diabaikan. Jari-jemarinya bergerak lincah, menggulir, mengetuk, memperbesar gambar, lalu berhenti sejenak ketika tulisan panjang dibaca seksama.
Di sekelilingnya, riuh suara dunia tetap berjalan seperti seharusnya —angin, kendaraan, hingga percakapan yang samar. Namun perhatian Farday seolah tersedot ke dalam ruang tipis di balik layar kaca; tempat informasi, emosi, dan distraksi saling baku-hantam dalam satu tarikan nafas panjang penuh pengharapan.
Farday mendongakkan wajahnya. Menghela nafas panjang. Melihat sekitar. Nyruput kopi. Lalu dengan mantap lirih berkata: “Alhamdulillah, Riz. Ini 5 judul tulisan hardnews sudah diposting redaktur” tuturnya penuh kelegaan. Ucapan ini hanya berselang dua jam dari waktu dia melempar pertanyaan sebelumnya. Inilah jurnalisme tawakal.
Farday jurnalis yang lincah. Melihat jemari Farday mengetik di atas tuts ponsel, seperti menyaksikan Jackie Chan berloncatan di jendela bus hingga menyusuri gedung dalam film Who Am I (1998). Tubuhnya kecil tapi loncatannya tinggi. Meski babak-belur saat malam hari, ia akan segar-bugar ketika matahari kembali bersinar.
Melalui karya tulisnya, Farday ibarat Michael Faraday yang memberi cahaya informasi dan berbagi solusi penerangan pada khalayak publik. Meski kadang, ia kerap terseok-seok mencahayai dirinya sendiri. Melalui karya tulisnya pula, Farday ibarat Jackie Chan yang berjibaku dalam menghadapi hidup, tanpa seorangpun stuntman.
Namun, Farday adalah Farday. Figur wartawan bijaksana yang sejak “jauh-jauh hari” telah disiapkan sebagai wartawan tauladan. Kesedihan demi kesedihan, kesulitan demi kesulitan, baginya, tak lebih hanya men-scrolling putaran tasbih dari usri menuju yusron, kemudian mengunduh hikmah dan menembakkan kebijaksanaan.
Seperti para Jurnalis pada umumnya, Farday mampu mengangkat jeritan yang tercecer di sudut kota, membesarkan bisik yang nyaris hilang ditelan kuasa, dan menjahit fakta agar publik melihatnya. Namun ketika kembali ke ruang pribadi, ia kerap berhadapan dengan sunyi yang tak bisa ia laporkan kepada siapa pun.
Dia terlatih membantu orang lain menemukan keadilan, tetapi gagap saat harus menolong dirinya sendiri dari luka yang tak pernah masuk berita. Di meja kerjanya, ia tampak tegar seperti tajuk rencana. Namun di dalam dadanya, kegaduhan berputar tanpa editor. Ia adalah pengeras suara bagi dunia, tetapi menjadi bisu bagi dirinya sendiri—menyimpan riuh paling ramai di tempat paling sunyi: tawakal.








