Delapan abad sebelum Sebastian Bach dan Ludvig Beethoven dikenal dunia, Al Farabi telah membangun pondasi teori musik yang kelak dikembangkan para sufi sebagai jalan menuju Tuhan.
ISTANA ALEPPO, 950 M. Malam itu, Istana Saif Al-Daulah Al-Hamdani di Aleppo sedang bersiap untuk malam yang tak akan terlupakan. Sang penguasa, pelindung terbesar para ilmuwan dan seniman di masanya, mengundang para musisi ternama dari seluruh penjuru wilayah di bawah kekuasaannya untuk menghibur para tamu istana.
Lampu-lampu minyak dinyalakan di setiap sudut. Hiasan-hiasan sutra berkilauan. Para pensyair duduk bersila di bantalan-bantalan sutra. Mereka siap melantunkan syair-syair terbaru mereka.
Sementara di deretan kursi kehormatan, seorang lelaki berusia lanjut dengan janggut putih tampak gelisah. Matanya yang tajam—mata yang sama yang telah membedah naskah-naskah Aristoteles hingga ke akar logikanya—menunjukkan ketidakpuasan yang tak terbendung. Jemarinya mengetuk-ngetuk paha: mengikuti ritme yang tak sesuai dengan alunan musik yang mengalir.
Sosok berwajah teduh itu tak puas. Malah, sangat tidak puas. Bukan karena musiknya buruk. Namun, karena ia merasakan sesuatu yang tiada: sesuatu yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata dan hanya dapat dirasakan jiwa yang haus akan keindahan hakiki.
Ia meminta izin kepada sang penguasa: sebuah permintaan yang sangat berani. Malah, nyaris lancang: sorang filsuf tua yang hidup dalam kemiskinan berani meminta tampil di hadapan para musisi profesional?
Namun, Saif Al-Daulah mengenalnya dengan baik. Sosok lanjut usia itu bukanlah seorang penjilat istana. Ia adalah mutiara istana: seorang jenius yang rela menerima gaji empat dirham sehari dan hidup dalam kesederhanaan yang nyaris menyedihkan. Juga, lebih memilih mengejar ilmu ketimbang mengumpulkan harta dunia.
Sosok sepuh itu bernama Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzalagh Al-Farabi. Atau lebih terkenal dengan sebutan: seorang ilmuwan jempolan yang mencintai dunia musik
Saat tangannya meraih oud—kecapi berleher pendek yang kelak akan dikenal dunia sebagai gambus—seluruh ruangan seolah menarik napas. Ia duduk bersila di atas permadani, memejamkan mata sejenak, seolah berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat. Lalu, jemarinya pun menyentuh dawai. Dan, dunia pun berhenti berputar. Ya, dunia pun berhenti berputar!
Mereka pun Tertawa, Tidur, dan Menangis
Para sejarawan dan musisi terkemuka dunia mencatat momen itu dengan berbagai versi. Namun, ada satu hal yang mereka sepakati: apa yang terjadi malam itu bukan sekadar pertunjukan musik biasa. Yang terjadi malam itu adalah demonstrasi bahwa suara memiliki kekuatan yang lebih dahsyat daripada pedang, lebih tajam daripada kata-kata, dan lebih dalam daripada filsafat.
George Sawa, pakar musik Arab abad pertengahan dari University of Toronto, dalam artikel monumentalnya untuk Encyclopædia Iranica menulis, “Al-Farabi digambarkan dalam kronik-kronik sejarah sebagai seorang musisi yang luar biasa. Ia tidak hanya menguasai teori. Namun, ia juga mampu mempengaruhi emosi pendengarnya secara langsung: membuat mereka tertawa, menangis, malah tertidur, hanya dengan mengubah melodi yang ia mainkan.”
Malam itu, Al-Farabi kemudian memainkan sebuah melodi. Para hadirin pun tertawa terbahak-bahak tanpa tahu mengapa. Perut mereka berguncang. Air mata kegembiraan mengalir di pipi. Kemudian, ia mengubah komposisinya: hanya sedikit perubahan.
Ya, hanya pergeseran kecil dalam nada dan ritme. Seketika, seluruh istana menangis dalam isak tangis yang tak tertahankan. Para prajurit gagah yang tak pernah gentar menghadapi pedang, para menteri angkuh yang terbiasa memerintah, malah sang penguasa sendiri: semua menangis. Tersedu-sedu.
Lalu, untuk terakhir kalinya, Al-Farabi mengganti alunan nada. Sebuah melodi lembut, menenangkan, bak buaian ibu di malam hari. Pelan, satu demi satu, para tamu istana terlelap. Mereka tertidur pulas di tempat duduk mereka, tanpa ada yang mampu melawan.
Ini bukan sulap. Ini bukan hipnotis. Ini adalah filsafat yang diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih tua dari kata-kata: bahasa suara, bahasa getaran yang menyentuh langsung relung jiwa manusia tanpa perlu melalui pintu akal.
Kini, untuk memahami kemampuan luar biasaAl-Farabi, kita harus memahami dari mana ia berasal. Pada tahun 872 M, di sebuah dusun kecil bernama Wasij, dekat Farab-kini wilayah Kazakhstan yang disapu stepa Asia Tengah-lahir seorang anak laki-laki dengan nama yang kelak akan mengguncang tiga benua.
Ayahnya adalah seorang perwira militer dalam pasukan Dinasti Samaniyah. Keluarganya mungkin berbahasa Persia, dengan akar Turki yang kuat. Sejak kecil, ia telah terbiasa dengan ritme genderang stepa yang mengiringi para penunggang kuda. Juga, dengan syair-syair pengembara yang dinyanyikan di malam hari di sekitar api unggun.
Kala itu, dalam tradisi keluarga militer Persia-Turki, musik bukan sekadar hiburan. Ia adalah matematika yang membahana, geometri yang mengalir di udara. Para prajurit tahu, ritme genderang dapat mengubah kecepatan kuda dan harmoni kecapi dapat menenangkan prajurit yang hendak berperang. Musik adalah alat, senjata, dan obat.
Namun, tahta takdir Al-Farabi bukanlah di stepa. Takdirnya adalah di Baghdad: kota bundar yang kala itu menjadi pusat peradaban dunia, tempat hikmah Yunani, Persia, India, dan Arab berkelindan menjadi sesuatu yang sama sekali baru.
Profesor Muhsin Mahdi, seorang pakar filsafat Islam terkemuka dari Harvard University, dalam studinya yang mendalam tentang Al-Farabi menulis, “Al-Farabi adalah jembatan antara dua dunia: dunia Timur dengan tradisi mistik dan spiritualnya, dan dunia Yunani dengan tradisi rasional dan filosofisnya. Ia berhasil menggabungkan keduanya menjadi satu sintesis yang unik dan brilian.”
Di Baghdad, Al-Farabi belajar logika Aristoteles, metafisika Plotinus, dan musik Pitagoras. Namun, tak seperti para filsuf lain yang hanya membaca teori dari kejauhan, Al-Farabi melakukan sesuatu yang revolusioner: ia menguji teori-teori itu dengan praktik langsung. George Sawa menjelaskan, “Pelatihan Al-Farabi sebagai seorang ahli logika sekaligus musisi praktisi berarti bahwa teorinya mencerminkan praktik dalam wacana yang jelas. Ini adalah kombinasi yang sangat langka dalam sejarah intelektual.”
Kitâb Al-Musîqâ Al-Kabîr
Selepas bertahun-tahun belajar dan berkelana, Al-Farabi kemudian menetap di Damaskus untuk menulis karya terbesarnya. Judulnya sederhana, namun agung: Kitâb Al-Musîqâ Al-Kabîr (Kitab Agung Musik). “Ini bukan sekadar buku teori,” tulis Ilia Mihaylov dalam studinya yang terbit di Turkish Studies (2022). “Ini adalah model riset musiko-teoretis masa pertengahan yang revolusioner. Ia tidak hanya membahas musik. Namun, juga menawarkan metodologi baru untuk memahami hubungan antara ilmu pengetahuan dan seni.”

Apa yang membuat karya itu revolusioner?
Al-Farabi membagi musik menjadi tiga lapis realitas, klasifikasi yang kedengarannya sederhana, namun sebenarnya bisa dibilang sangat berani sampai pada titik nekad:
Lapis pertama: seni teoretis. Di sini, ia membahas akustik, interval nada, ritme, dan semua aspek fisika suara. Memang, para filsuf Yunani telah melakukannya dengan cemerlang. Pitagoras telah menemukan hubungan antara panjang dawai dan nada yang dihasilkan. Euklides telah menulis tentang pembagian nada. Namun, Al-Farabi menemukan bahwa mereka berhenti di sini. Seolah musik cukup dipahami dari kejauhan. Bagaikan astronom yang mempelajari bintang tanpa pernah menyentuhnya.
Lapis kedua: seni instrumental. Ini adalah pengetahuan tentang alat musik dan cara menghasilkan suara darinya. Di sinilah Al-Farabi membuka lembaran demi lembaran, melukis dengan kata-kata: oud, tanbur, shah-rud, nay, mizmar, chang. Ia bukan sekadar menyebut nama, namun menjelaskan karakter, jati diri, keistimewaan masing-masing.
Ia berbicara tentang bagaimana getaran dawai oud berbeda dari getaran dawai tanbur, bagaimana lubang-lubang pada seruling mempengaruhi warna suara, bagaimana tekanan jari pada dawai menciptakan mikroton yang tak bisa ditulis dalam notasi standar.
Ia bukan lagi filsuf yang menunduk di atas manuskrip. Ia adalah pengrajin yang lengannya berlumur getah kayu dan jemarinya kapalan karena menekan dawai.
Lapis ketiga: seni komposisi. Inilah lapisan yang paling dalam dan paling sulit. Bagaimana melodi dan ritme dipadukan menjadi anak-anak yang diberi nama “lagu”? Bagaimana kombinasi nada-nada tertentu bisa membuat orang tertawa, menangis, atau terlelap?
Bagaimana seorang komposer bisa menciptakan karya yang menyentuh jiwa?
Untuk menjawab pertanyaan ini, Al-Farabi tak ragu meminjam dari disiplin lain. Ia menggunakan aritmetika untuk menjelaskan rasio nada. Ia menggunakan geometri Euklides: bukan untuk menghias teorinya. Bukan pula untuk membuktikan mengapa nada-nada tertentu beresonansi dan yang lain berbenturan.
Dia menggunakan logika Aristotelian untuk mengklasifikasikan jenis-jenis melodi. Ia malah menggunakan Ilmu Al-Quran untuk memahami bagaimana suara yang indah bisa mempengaruhi hati manusia. Nada bukan lagi misteri gaib. Nada adalah rasio yang bisa diukur, ruang yang bisa dipetakan, sekaligus jiwa yang dapat dirasakan.
Namun, yang paling mencengangkan—yang membuat para sejarawan musik di Oxford dan Stanford masih berdebat hingga hari ini—adalah metodologi Al-Farabi. Dalam Kitâb Al-Musîqâ Al-Kabîr, ia menegaskan bahwa banyak prinsip musik yang ia rumuskan diperoleh melalui pengalaman sensorik langsung. Bukan hanya dari karya-karya dari Yunani.
Kalimat ini, yang tertulis sepuluh abad sebelum lahirnya metode ilmiah modern, adalah deklarasi kemerdekaan intelektual. Al-Farabi menolak sikap ikut-ikutan. Ia menolak menerima teori Yunani begitu saja. Ia memilih jalan yang jauh lebih sulit: induksi, empirisme, dan bukti indrawi. Ia melakukan eksperimen dengan berbagai alat musik, mengukur interval nada dengan alat-alat sederhana, mencatat reaksi pendengar terhadap berbagai komposisi.
Profesor Owen Wright, pakar musik Arab dari School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London, dalam studinya tentang Al-Farabi menulis, “Al-Farabi melakukan apa yang tak dilakukan oleh para pendahulunya: ia mengamati praktek musik langsung dari para musisi, mencatat apa yang mereka lakukan, dan kemudian merumuskan teori yang menjelaskan praktik tersebut. Pendekatan ini sangat mirip dengan metode ilmiah modern.”
Inilah yang membuat Kitâb Al-Musîqâ Al-Kabîr begitu istimewa. Karya tersebut bukan sekadar buku teori. Namun, juga laporan etnografi, catatan lapangan, dan manual praktis, semuanya digabung menjadi satu.
Memilih Jalan Sufi
Dalam manuskrip-manuskrip Iran yang ditemukan di perpustakaan-perpustakaan tua, Al-Farabi digambarkan sebagai musisi yang dekat dengan sufisme. Ini bukan informasi pinggiran. Ini adalah kunci untuk memahami kedalaman pemikirannya.

Sufisme adalah jalan cinta. Jalan yang tak puas dengan pengetahuan buku dan yang haus akan pengalaman langsung tentang Yang Nyata. Seorang sufi tak bertanya “apa itu cinta?”. Ia tenggelam di dalamnya. Ia tak mendefinisikan Tuhan dengan kata-kata. Ia merasakan kehadiran-Nya dalam setiap detak jantung.
Al-Farabi menulis bahwa suara binatang mengekspresikan emosi mereka. Baik dalam kegembiraan maupun kesedihan. Namun, suara manusia mengungkapkan perasaan yang jauh lebih beragam. Dengan keberagaman itulah manusia dapat membuat orang lain merasa kasihan, simpati, atau malah menangis.
Dalam tulisannya, Al-Farabi menjelaskan bagaimana kombinasi nada tertentu bisa membangkitkan perasaan tertentu. Ada nada yang membangkitkan keberanian, nada yang menimbulkan ketenangan, nada yang membawa kesedihan, dan nada yang mengantarkan pada ekstasi spiritual.
Para sufi kemudian mengembangkan teori Al Farabi ini lebih jauh. Mereka berpandangan, musik adalah sarana menuju Allah dan melalui pendengaran yang mendalam, seorang sâlik (peniti jalan spiritual) kuasa mencapai kondisi wajd-ekstasi mistik-di mana tabir antara dirinya dan Allah terangkat.
Prof. Dr. Annemarie Schimmel, pakar tasawuf terkemuka dari Harvard University, dalam bukunya Mystical Dimensions of Islam menulis, “Dalam tradisi sufi, musik dan tari bukan sekadar hiburan. Musik adalah sarana untuk mencapai keadaan spiritual yang lebih tinggi. Para sufi percaya bahwa jiwa manusia, yang terperangkap dalam tubuh, merindukan kembali ke asalnya. Musik membantu jiwa melepaskan diri dari belenggu materi dan terbang menuju Tuhan.”
Al-Farabi, dengan pemahaman mendalamnya tentang musik dan filsafat, menjadi jembatan antara dua tradisi ini. Ia menunjukkan secara ilmiah bagaimana suara dapat mempengaruhi jiwa, dan para sufi kemudian menggunakan pengetahuannya untuk mengembangkan praktik spiritual mereka.
Seiring dengan perjalanan waktu, pengaruh Al-Farabi menyebar ke seluruh dunia. Para musisi, ilmuwan, dan orientalis dari berbagai generasi dan latar belakang memberikan penghormatan mereka. George Sawa (Musikolog, University of Toronto), misalnya, yang menghabiskan puluhan tahun meneliti musik Arab masa pertengahan, menulis dalam Encyclopædia Iranica, “Dalam sejarah musik Timur Tengah, Al-Farabi tetap tak tertandingi sebagai seorang teoretisi.”
Di sisi lain, dapat dikatakan, Baron Rodolphe d’Erlanger (Orientalis dan Musisi Perancis) adalah orang yang paling berjasa dalam memperkenalkan Al-Farabi ke dunia Barat modern. Penerjemah Prancis pertama Kitâb Al-Musîqa Al-Kabîr ini menghabiskan separuh hidupnya-lebih dari 20 tahun-untuk memahami dan menerjemahkan karya Al-Farabi ke dalam bahasa Prancis. Hasilnya adalah La Musique Arabe, sebuah karya enam volume yang diterbitkan antara tahun 1930 dan 1959.
Dalam kata pengantar volume pertama, d’Erlanger menulis: “Al-Farabi bukan hanya seorang filsuf dan musisi. Ia adalah seorang visioner yang melihat hubungan mendalam antara matematika, fisika, psikologi, dan estetika. Karyanya tentang musik adalah sintesis brilian dari semua disiplin ini. Ketika saya membaca tulisannya, saya merasa seperti sedang berbicara dengan seorang kolega kontemporer, bukan dengan seorang sarjana dari seribu tahun yang lalu.”
Kita kembali lagi kepada Al-Farabi. Di istana Saif al-Daulah, Al-Farabi hanya menerima gaji empat dirham sehari. Ya, hanya empat dirham sehari atau hanya 120 dirham sebulan. Sebuah jumlah yang sangat kecil. Malah, untuk ukuran abad ke-10 sekalipun. Ia hidup dalam kesederhanaan yang nyaris menyedihkan. Pakaiannya usang. Makanannya sederhana. Ia tinggal di sebuah ruangan kecil hampir tanpa perabot. Duh!
Para sejarawan bertanya-tanya: mengapa seorang jenius sekaliber Al-Farabi, yang dihormati oleh para penguasa dan dikagumi oleh para ilmuwan, memilih hidup dalam kemiskinan?
Jawabannya mungkin terletak pada kata “qanâ‘ah”: sebuah konsep dalam tradisi Islam yang berarti merasa cukup dengan apa yang ada, tidak terikat pada dunia materi. Al-Farabi terdidik dalam tradisi ini. Al-Farabi berpandangan, mengejar ilmu adalah ibadah dan harta dunia hanya akan mengalihkan perhatian dari tujuan yang lebih tinggi!








