Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Bojonegoro menggelar kegiatan Syawalan yang dirangkai dengan diskusi ilmiah pada Sabtu (19/4/2026). Acara berlangsung di Smart Class UNUGIRI Bojonegoro ini, bertujuan untuk membangun tradisi intelektual yang responsif terhadap isu-isu internasional.
Mengusung tema “Catur Timur Tengah: Membaca Benturan Poros Teheran vs Washington–Tel Aviv dan Posisi Indonesia”, kegiatan ini bertujuan memperdalam pemahaman publik, khususnya kalangan akademisi dan mahasiswa, terhadap dinamika geopolitik global yang kian kompleks.
Hadir sebagai narasumber, Ketua PC ISNU Bojonegoro, Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., MA, bersama Dr. Ima Isnaini, TR, M.Pd., yang merupakan Research Fellow di Eropa dan Timur Tengah. Keduanya mengupas berbagai aspek konflik dan relasi kekuatan di kawasan Timur Tengah serta implikasinya bagi kebijakan luar negeri Indonesia.
Kegiatan ini juga menjadi momentum Syawalan untuk mempererat silaturahmi antaranggota ISNU dan masyarakat akademik di Bojonegoro. Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif peserta yang antusias menggali perspektif baru terkait posisi strategis Indonesia di tengah percaturan global.

Ketua PC ISNU Bojonegoro, Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., MA, dalam pemaparannya menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah tidak semata bisa dipahami sebagai benturan aqidah atau aliran keagamaan. Ia melihat, salah satu kepentingan utama adalah upaya Israel dalam menguatkan eksistensi dan posisi strategisnya di kawasan.
”Konflik ini juga tidak lepas dari kuatnya propaganda Barat yang membentuk opini global,” ujar Dr. Yogi.
Dalam konteks tersebut, ia menilai posisi Indonesia saat ini ibarat menari di atas gajah. harus lincah, hati-hati, dan cermat mengambil sikap. Indonesia, menurutnya, tetap konsisten pada prinsip politik luar negeri bebas aktif dengan menjaga posisi netral (non-blok), tanpa kehilangan keberpihakan pada nilai kemanusiaan dan perdamaian.
Sementara itu, Dr. Ima Isnaini menawarkan perspektif yang lebih konseptual terkait perang dan konflik global. Ia membagi perang ke dalam dua kategori besar: hard power dan soft power. Hard power mencakup kekuatan militer dan ekonomi, sedangkan soft power meliputi aspek budaya, bahasa, pendidikan, hingga nilai moral.
“Di era sekarang, perang tidak selalu hadir dalam bentuk senjata. Ia bisa hadir melalui narasi, budaya, bahkan sistem pendidikan,” jelasnya.
Dr. Ima menilai ISNU memiliki potensi strategis sebagai kekuatan soft power untuk mendorong perdamaian. Dengan kekuatan demografi, tradisi intelektual, serta karakter Islam moderat yang diusung Nahdlatul Ulama, ISNU dinilai mampu membangun narasi tandingan yang sejuk dan konstruktif di tengah polarisasi global.
Menurutnya, diplomasi damai berbasis pengetahuan dan nilai keislaman moderat dapat menjadi kontribusi nyata ISNU dalam percaturan global. Intelektual NU, kata dia, harus hadir, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi juga sebagai produsen gagasan yang menenangkan dan mencerahkan.
Melalui forum ini, PC ISNU Bojonegoro berharap dapat terus berkontribusi dalam membangun tradisi intelektual yang kritis, moderat, dan responsif terhadap isu-isu internasional. Di tengah kompleksitas konflik dunia, suara-suara jernih dari daerah diharapkan mampu memberi kontribusi nyata bagi peradaban yang lebih damai dan berkeadilan.








