Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

Toto Rahardjo by Toto Rahardjo
19/04/2026
in Cecurhatan
Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

Di Bawah Langit Teheran

Di negeri yang sering dikepung tekanan geopolitik, pendidikan tidak hanya menjadi jalan menuju pekerjaan. Ia menjadi cara sebuah bangsa mengingat dirinya sendiri untuk mempertahankan kedaulatan.

Pagi di sebuah sekolah negeri di pinggiran Teheran selalu dimulai dengan suara yang nyaris sama setiap hari: derit pintu besi, langkah sepatu di koridor, dan napas panjang anak-anak yang baru saja berlari dari halaman. Udara dingin dari pegunungan Pegunungan Alborz masih terasa di sela-sela jendela kelas yang terbuka setengah.

Di dinding depan kelas, tergantung foto dua tokoh: seorang ilmuwan dengan jas laboratorium, dan seorang ulama dengan sorban hitam. Tidak ada yang merasa aneh melihat keduanya berdampingan. Di negeri ini, ilmu dan iman tidak dipisahkan—mereka dipaksa hidup bersama, seperti dua saudara yang pernah bertengkar tetapi tak pernah benar-benar berpisah.

Fatemeh Rahimi, guru fisika berusia empat puluh dua tahun, selalu datang paling pagi. Ia menyalakan lampu laboratorium, memeriksa alat-alat praktikum, lalu menuliskan satu kalimat di papan tulis: “Ilmu adalah bentuk lain dari kemerdekaan.” Kalimat itu bukan slogan kosong. Ia lahir dari sejarah panjang bangsa ini—sejak revolusi tahun 1979, ketika negeri ini dipaksa berdiri sendiri setelah dunia menutup pintu perdagangan dan teknologi.

Peristiwa itu dikenal sebagai Revolusi Iran 1979. Sejak saat itu, pendidikan diubah menjadi benteng. Bukan sekadar tempat belajar, tetapi tempat bertahan hidup. Fatemeh masih ingat cerita ayahnya, seorang teknisi sederhana di pabrik mesin. “Ketika suku cadang tidak bisa dibeli dari luar negeri,” kata ayahnya suatu malam, “kami harus belajar membuatnya sendiri.” Kalimat itu, bagi Fatemeh, lebih kuat daripada pidato politik mana pun.

Di kampus teknik di Isfahan, Leila—mahasiswi tahun ketiga jurusan teknik material—menarik jilbabnya sedikit lebih rapat saat memasuki ruang kuliah. Tangannya membawa buku tebal yang sudah penuh coretan. Ia tidak menunggu dosen menjelaskan. Ia sudah membaca materi semalam.

Di universitas-universitas Iran, mahasiswa terbiasa datang ke kelas dengan persiapan. Diskusi dimulai dari pemahaman, bukan dari kebingungan. Disiplin akademik bukan sekadar aturan—ia menjadi budaya.

Leila adalah anak pertama dalam keluarganya yang masuk universitas. Ibunya dulu hanya sempat sekolah sampai kelas sembilan. Tetapi hari ini, ibunya selalu berkata dengan bangga kepada tetangga: “Anak perempuan saya akan menjadi ilmuwan.” Tiga puluh tahun terakhir mengubah pemandangan sosial negeri ini.
Perempuan tidak lagi sekadar hadir di ruang kelas—mereka memenuhi ruang laboratorium, perpustakaan, dan ruang penelitian.

Di beberapa fakultas sains, jumlah mahasiswi bahkan melampaui mahasiswa laki-laki. Namun perubahan itu tidak datang tanpa beban. Setiap keberhasilan selalu dibarengi tuntutan untuk menjaga moral, menjaga keluarga, dan menjaga martabat bangsa. Leila merasakan itu setiap hari.

Di lapangan sekolah menengah di kota kecil dekat Shiraz, peluit ditiup keras. “Lari lagi!” teriak pelatih Hassan. Anak-anak berlari mengelilingi lapangan, napas mereka membentuk kabut tipis di udara pagi. Pendidikan di negeri ini tidak hanya menekankan kecerdasan otak. Tubuh juga harus kuat. Hassan percaya satu hal sederhana: “Bangsa yang lemah fisiknya akan mudah tunduk.”

Karena itu, olahraga bukan kegiatan tambahan. Ia adalah bagian dari kurikulum. Anak-anak belajar bahwa kesehatan adalah tanggung jawab moral, bukan sekadar kebutuhan pribadi. Di ruang ganti, poster kecil menempel di dinding: “Disiplin adalah bentuk cinta kepada tanah air.”

Di sebuah universitas riset di Mashhad, Profesor Reza Darvishi menatap layar komputer yang menampilkan grafik jumlah doktor baru setiap tahun. Garisnya menanjak tajam. Ia menghela napas pelan. Bertahun-tahun sanksi ekonomi membuat banyak peralatan laboratorium sulit diperoleh. Tetapi justru di tengah keterbatasan itu, universitas-universitas Iran mempercepat produksi ilmuwan. “Jika dunia tidak memberi kita teknologi,” katanya dalam rapat senat, “maka kita harus menciptakan teknologi sendiri.” Kalimat itu terdengar keras, tetapi sebenarnya lahir dari rasa takut yang dalam—takut bergantung pada orang lain.

Trauma nasional tidak selalu terlihat dalam bentuk luka fisik. Kadang ia hidup sebagai kebiasaan. Di Iran, trauma itu berasal dari pengalaman panjang embargo, isolasi, dan ancaman konflik. Ia mengendap dalam cara orang tua mendidik anak, dalam cara guru menyusun kurikulum, dalam cara negara merancang universitas. Pendidikan menjadi alat pertahanan—bukan hanya untuk ekonomi, tetapi untuk martabat.

Karena itu, sistem pendidikan di negeri ini dibangun dengan struktur yang terpusat. Sekolah dasar dan menengah berada di bawah kementerian pendidikan. Universitas diawasi kementerian ilmu dan teknologi. Semuanya bergerak dalam satu arah: kemandirian nasional. Bagi banyak orang luar, sistem ini terlihat kaku. Bagi warga di dalamnya, sistem ini terasa seperti perisai.

Menjelang sore, lonceng sekolah berbunyi di sebuah sekolah di pinggiran Teheran. Anak-anak keluar kelas dengan langkah lelah, tetapi mata mereka tetap terang. Di halaman, seorang anak laki-laki memegang buku matematika.

Seorang anak perempuan membawa tas olahraga. Mereka berjalan berdampingan, tanpa menyadari bahwa mereka sedang menjadi bagian dari proyek besar sebuah bangsa. Proyek itu tidak selalu terlihat dalam pidato politik atau laporan statistik. Ia hidup dalam kebiasaan kecil: membaca sebelum kelas, berlari sebelum sarapan, dan percaya bahwa ilmu adalah bentuk kemerdekaan.

Di negeri yang sering dikepung tekanan geopolitik, pendidikan tidak hanya menjadi jalan menuju pekerjaan. Ia menjadi cara sebuah bangsa mengingat dirinya sendiri—dan cara paling sunyi untuk mempertahankan kedaulatan.

 

Tags: Catatan Toto RahardjoLangit TeheranMakin Tahu Indonesia
Previous Post

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

BERITA MENARIK LAINNYA

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)
Cecurhatan

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026

Anyar Nabs

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

19/04/2026
Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: