Jika Maryam Mirzakhani menaklukkan dunia abstrak, seorang ilmuwan Iran lain, Firouz Naderi, meraih Bintang secara harfiah. Lahir di Shiraz, kota sastra dan puisi Persia, pada tahun 1946, Naderi muda tidak pernah bermimpi menjadi seorang birokrat antariksa. Namun, ia adalah seorang pragmatis. Ia melihat teknologi adalah masa depan dan ia tidak ingin ketinggalan.
Baca Juga: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)
Kemudian, untuk “memburu mimpinya”, pada usia 18 tahun, Firouz Naderi meninggalkan Iran, meninggalkan kota tua dengan taman-taman mawar dan sajak Hafez, untuk mengejar pendidikan di Amerika Serikat. Di negara adikuasa tersebut, ia meraih gelar sarjana di Iowa State University dan gelar magister serta doktor di bidang teknik elektro dari University of Southern California (USC).
Usai meraih gelar PhD, Naderi kemudian bergabung dengan Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA pada tahun 1979: tepat pada tahun yang sama ketika Revolusi Islam sedang mengguncang Iran. Bagi banyak orang Iran, tahun-tahun itu adalah tahun-tahun perpindahan dan trauma. Namun bagi Naderi, itu adalah awal dari petualangan yang akan mengantarkannya ke luar angkasa.

Firouz Naderi memiliki karier yang cemerlang di NASA: memegang berbagai posisi teknis dan eksekutif senior. Ia kemudian, pada tahun 2000, dipromosikan menjadi manajer program Mars: sebuah peran yang akan menentukan warisannya.
Selama lima tahun ke depan, ia memimpin tim yang bertanggung jawab atas beberapa misi paling penting NASA ke Planet Merah. Termasuk pendaratan wahana penjelajah Spirit dan Opportunity yang fenomenal.
Misi-misi ini bukanlah hal yang mudah. Mars adalah kuburan bagi banyak misi luar angkasa. Atmosfernya yang tipis, suhu yang sangat dingin, dan medan yang berbahaya telah menghancurkan banyak wahana.
Namun, di bawah kepemimpinan Naderi, Spirit dan Opportunity tidak hanya berhasil mendarat. Akan tetapi, juga bertahan bertahun-tahun lebih lama dari yang diharapkan, mengirimkan foto-foto menakjubkan dan data berharga tentang geologi dan iklim Mars. Prestasi ini membuat Naderi mendapatkan julukan “Bapak Mars” di kalangan rekan-rekannya.
Sebagai seorang pemimpin, Firouz Naderi dikenal karena ketegasannya dan kemampuannya dalam memotivasi tim yang terdiri dari ribuan ilmuwan dan insinyur. Ia kerap menggambarkan dirinya sebagai “seorang organisator dan pelaku”. Ia adalah simbol ambisi manusia untuk menjangkau dunia lain, di samping menjadi kebanggaan bagi diaspora Iran.
Setelah sukses dengan Mars, Naderi terus memegang posisi penting di JPL, termasuk sebagai direktur asosiasi JPL dan direktur Eksplorasi Sistem Tata Surya. Sebagai seorang pemimpin, ia dikenal karena ketegasannya dan kemampuannya memotivasi tim yang terdiri dari ribuan ilmuwan dan insinyur. Ia adalah simbol ambisi manusia untuk menjangkau dunia lain, dan kebanggaan bagi diaspora Iran.
Setelah pensiun dari NASA pada tahun 2016, ia tetap aktif sebagai penasihat dan pembicara publik, menginspirasi generasi muda untuk tidak pernah berhenti bertanya tentang semesta alam. Hingga akhir hayatnya pada tahun 2023 pada usia 77 tahun, ia dikenang sebagai salah satu tokong terkemuka dalam eksplorasi antariksa. The Washington Post, dalam obituarinya, memujinya sebagai “pejabat NASA yang mengawasi pendaratan dua wahana penjelajah di Mars”.
Kisah Firouz Naderi adalah kisah tentang keberanian untuk meninggalkan zona nyaman. Ia meninggalkan Iran yang indah untuk mengejar mimpi yang tidak mungkin di tanah airnya. Dan melalui kerja keras, ia tidak hanya membawa nama Iran harum di dunia. Namun, juga membuka jalan bagi manusia untuk menapaki planet lain.







