Forum Limolasan sebagai majelis Ngaji Dekolonisasi, dihelat di Dusun Bandar, Batokan, Kasiman, Bojonegoro pada (8/5/2026). Pada kegiatan ini, anggota forum membahas posisi sungai Bengawan sebagai kanal pembawa arus peradaban.
Seperti forum sebelumnya, pada Limolasan kali ini, kegiatan dihadiri sejumlah penulis, periset, pembaca tanda, dan para pegiat lingkungan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama Blora dan Bojonegoro, dua kawasan yang dipersatukan kanal sungai Bengawan.
Dalam kegiatan kali ini, anggota forum membahas periode waktu dan nama-nama pada masa lalu. Sebelum di-Solo kan pada abad 19 M, sungai terpanjang di Pulau Jawa ini bernama sungai Wulayu. Dengan sejumlah bagian seperti Kali Jero, Kali Bengawan, Kali Madiun, dan Kali Solo.
Baca juga: Seri Forum Limolasan, Rutinan Ngaji Dekolonisasi
Kali Jero membentang dari muara laut hingga Babat Lamongan, Kali Bengawan membentang dari Babat hingga Ngawi. Sesampai di Ngawi, dua jalur membentang: ke arah Madiun (Kali Madiun) dan ke arah Solo (Kali Solo). Nama-nama ini hilang belum lama. Baru pada abad 19 M, pasca pembangunan Solo Valley.
Kali Bengawan yang membentang dari Babat hingga Ngawi, terdapat lajur Jipangulu (hulu) dan Jipangilir (hilir). Kawasan ini, saat ini menjahit dua provinsi (Jawa Tengah dan Jawa Timur), dan menali tiga kabupaten (Blora, Bojonegoro, dan Tuban).
Bojonegoro, Blora, dan Tuban selatan, secara kultur budaya, khususnya dialek dan bahasa, memiliki rumpun yang sama. Dalam berbahasa, tiga kawasan ini tidak halus-halus feodal ala pegunungan, juga tidak kasar-kasar vulgar ala pesisiran. Namun egaliter serupa bengawan dan adaptatif serupa bukit kapur.
Kesyahbandaran Bengawan
Kedatangan forum Limolasan di Dusun Bandar, Batokan, Kasiman, Bojonegoro tentu bukan tanpa alasan. Selain menjadi titik penyatu kultur Blora dan Bojonegoro, Dusun Bandar menyimpan jejak penting kesyahbandaran bengawan. Lokasi pusat perlintasan ekonomi berbasis perahu sungai.

Anggota forum tentu menyinggung jejak-jejak kebesaran Pucangan (1041 M), Maribong (1246 M), Adan-adan (1301 M), hingga Naditira Canggu (1358 M) sebagai pijakan literatur sekaligus bukti empiris atas digdayanya peradaban sungai Bengawan.
Kesyahbandaran sungai di Dusun Bandar ini, dipertebal catatan pelancong Belanda (1857 M), yang bercerita perjalanan perahu sungai dari Jogjakarta menuju Surabaya. Cerita ini cukup meng-capture keberadaan pusat pasar perahu sekaligus kesyahbandaran (pelabuhan) sungai di Padangan yang kini dikenal Bandar itu.
Melalui forum Limolasan, para anggota forum berupaya membaca dan memahami nilai-nilai masa silam yang ditinggalkan para pendahulu sebagai ageman hidup sosial. Sehingga ibrah tidak berhenti sebagai romantisasi, namun diunduh untuk memahami esensi.
Limolasan sebagai “Lingkar Moderasi Kearifan Lokal dan Sains”, memang membaca masa lalu dengan kacamata dekolonisasi. Untuk dijadikan referensi hari ini, dan inovasi masa depan. Sehingga cenderung mengakomodir sesuatu yang tak diakomodir oleh narasi kolonial.
Forum Limolasan merupakan bagian dari program Ngaji Dekolonisasi diinisiasi Komunitas Bumi Budaya. Komunitas yang menyatukan para periset dari Jawa Tengah dan Jawa Timur ini, menggelar forum rutin di malam Limolasan (purnama) tiap sebulan sekali.








