Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Ngaji Dekolonisasi: Algoritma Lantung Harmoni

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
10/09/2025
in Peristiwa
‎Ngaji Dekolonisasi: Algoritma Lantung Harmoni

Harmoni Medang Kamolan

Lantung bukan sekadar entitas perekonomian Bojonegoro dan Blora. Namun laboratorium penyedia pengetahuan yang harus diunduh sebagai hikmah kehidupan.

‎Ngaji Dekolonisasi menjadi forum pertemuan para periset Blora dan Bojonegoro. Kegiatan diinisiasi Bumi Budaya dan Kesekretariatan Riset Kearifan Lokal (KerisKeloka) ini, dilaksanakan di Sycamore Coffe, Blora, pada malam (9/9/2025). Forum ini, membincang metode para Begawan dalam mengelola energi dan SDA di wilayah Blora-Bojonegoro.

‎Ngaji Dekolonisasi kali ini, mengambil tema Lantung Harmoni sebagai tema besar diskusi. Bojonegoro dan Blora sebagai kabupaten strategis di Pulau Jawa, memang memiliki keistimewaan berupa sumber energi. Tak heran jika selama berabad-abad silam, dua wilayah alas kandhawa ini masyhur sebagai “denyut nadi” Nusantara.

Sebagai pewaris spirit Medang Kamulan, Blora dan Bojonegoro dipertautkan entitas energi bernama Lantung (minyak bumi). Khazanah istimewa ini, membuat dua wilayah ini sejak lama dikenal sebagai Bale Lantung — perbukitan Lemah Citra yang membentang di kawasan Bojonegoro dan Blora.

Baca Juga: Medang Kamulan, Cikal Bakal Njipangan 

Raja Dyah Baletung, sang penguasa Bale Lantung, menanam spirit pemanfaatan Lantung (lengo) dengan penuh kebijaksanaan. Seperti tercatat dalam prasasti Telang dan Sangsang, Raja Dyah Baletung menginstruksikan agar perahu yang memuat lantung tak dikenai biaya pajak penyeberangan.

Melalui kredo keramat “Devata Lumah ing Sotasrungga”, Raja Dyah Baletung memberi tauladan penting bagi para pemimpin berikutnya, bahwa siapapun yang akan berkuasa di kawasan Bale Lantung, harus bisa bijaksana dalam menjadikan lantung (minyak bumi) sebagai berkah bagi masyarakat.

Baca Juga: Sotasrungga, Perbukitan Para Begawan 

Aturan tentang kebijaksanaan, tentu ajaran universal yang sudah sepatutnya dilestarikan para pemimpin yang berperadaban. Dalam konteks Jawa, para Bijak Bestari (Begawan) dari kalangan apapun, mengajarkan metode kebijaksanaan ini. Baik itu para Brahmana, Maharsi, atau Para Wali.

‎Sesuai makna “dekolonisasi” yang memberi kebebasan narasi terhadap masyarakat lokal, Ngaji Dekolonisasi merupakan upaya ngoceki bungkus kolonial, untuk menunjukan supremasi lokal dalam menentukan narasi kebudayaannya sendiri. Terkhusus dalam memanen pengetahuan lokal dari para leluhur.

Ngaji Dekolonisasi: Algoritma Lantung Harmoni

Selain berarti minyak mentah, kami memaknai LANTUNG sebagai Literature and Analogies for Spiritual Engineering (LANTUNG) —- susastera dan sanepa (semiotika) dalam mengaransemen nilai-nilai dan norma kehidupan. Dalam kegiatan ini, kami mendiskusikan sumber susastera dan semiotika yang memuat metode Spiritual Engineering dari para pendahulu tersebut.

‎Spiritual Engineering, dalam konteks ini, adalah pencarian makna, tujuan, dan nilai-nilai hidup, yang melibatkan koneksi dengan alam, serta hubungan baik antar sesama manusia. Sebab, kami mengibaratkan spiritualitas sebagai “oli pelumas” bagi kehidupan sosial-ekologis antara manusia dengan alam.

Kita tahu, masyarakat Jawa dikenal sebagai para ahli sanepa. Mereka banyak mengajarkan kebijaksanaan melalui metode simbol dan semiotika. Sejak zaman Medang, wilayah Bale Lantung (Blora dan Bojonegoro) sudah dikenal banyak dihuni para Bijak Bestari.

Di wilayah Bale Lantung ini, ajaran-ajaran bijaksana dari Raja Dyah Baletung (abad 10 M) masih terus dipertahankan dari zaman ke zaman. Tercatat sampai abad 14 M, bermacam kebijaksanaan berbasis harmoni di wilayah Bale Lantung ini, faktanya terus dipertahankan.

Empu Prapanca yang hidup pada abad 14 M, faktanya masih menulis dan mengabadikan ajaran kuno yang pernah ditanam Raja Dyah Baletung dari abad 10 M. Data ini bisa kita lihat dalam magnum opus Empu Prapanca yang berjudul Kakawin Nagarakrtagama.

Kakawin Nagarakrtagama versi Indonesia memang banyak dihilangkan di bagian-bagian tertentu. Karena itu, atas kepentingan dekolonisasi, kami sengaja membaca Kakawin Nagarakrtagama versi German yang terhimpun dalam Materials for the Medieval History of Indonesia (Universitat Hamburg).

Tentu saja, ada banyak fakta menarik yang bisa dipelajari. Khususnya dalam mengelola SDA di kawasan Telang (Blora dan Bojonegoro). Terkhusus lagi tentang bagaimana mereka merawat harmoni di kawasan titik-titik “mandala tanpa candi” yang tersebar di sepanjang Bengawan Telang (Bojonegoro – Blora).

Keberadaan Arya Ramadhiraja (kementerian kebudayaan), Kalagyan (parlemen budayawan dan intelektual), hingga para Janggan (tabib yang merawat orang sakit), faktanya masih terus dipertahankan selama 400 tahun. Dari abad 10 M hingga abad 14 M. Dari zaman Raja Dyah Baletung (periode 901 M) hingga zaman Empu Prapanca (periode 1301 M).

Mempertahankan tradisi baik, memang ajaran luhur para pendahulu Jawa. Buktinya, mereka yang hidup pada masa Empu Prapanca (abad 14 M), nyatanya masih menjaga dan mempertahankan aturan-aturan bijak dari zaman Raja Dyah Baletung (abad 10 M).

Dalam konteks Islam, al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih (menjaga warisan lama yang baik) juga jadi prinsip utama Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Tak heran jika kelak, banyak para Wali, dalam konteks ini adalah para Wali Njipangan, yang memuliakan pinggir Bengawan sebagai lokasi penting.

Dalam konteks Islam, kebijaksanaan mengelola alam kerap disinggung Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kanjeng Nabi SAW pernah ngendikan: “orang-orang Muslim bersekutu dalam tiga hal: rumput, air, dan api.” — Hadis ini termaktub dalam Kitab Bulughul Maram, Bab Ihya’ al-Mawat, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Terj. Bulughul Maram (Al Ikhlas, 1993, h 612).

‎Kanjeng Nabi menyebutkan, ada tiga hal yang tak bisa dimonopoli. Yaitu rerumputan, air, dan api. Ketiga hal ini jelas merupakan sumber energi kehidupan manusia, sebagaimana udara. Karena itu, keberadaan dan pengelolaannya harus bisa memberi manfaat bagi masyarakat. Bukan sekadar untuk segelintir aristokrat.

‎Imam Ghazali dalam Hikmah al Maqlukotillah, menceritakan  bahwa di dasar bumi dan gunung (perbukitan) tersimpan beragam mutiara seperti emas, perak, yakut, zamrud, tambang besi, tembaga, minyak bumi, dan lainnya. Ini pun boleh dipakai oleh manusia, namun dalam kadar bijaksana.

‎Pandangan Al Ghazali ini, membentuk etika Ekosufisme dalam membangun relasi harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Kecintaan pada Tuhan, harus dimanifestasikan pada bentuk cinta pada alam, karena alam adalah manifestasi ciptaan Tuhan di muka bumi. Dan lantung (minyak bumi), tentu adalah bagian kecil dari ciptaan Tuhan.

Ngaji Dekolonisasi adalah upaya sederhana kami untuk tetap “tholabul ilmi” dan membangun koneksi terhadap ajaran-ajaran luhur masa silam. Kegiatan ini juga bagian dari melanjutkan tradisi Para Kalagyan dalam menjaga harmoni sosial di kawasan Telang Sangsang.

Melalui Ngaji Dekolonisasi bertema Lantung Harmoni ini, kami memaknai lantung bukan sekadar entitas perekonomian Bojonegoro dan Blora. Namun laboratorium yang menyediakan banyak pengetahuan untuk diunduh sebagai hikmah kehidupan.

Tags: KERISKELOKALantung HarmoniMakin Tahu IndonesiaNgaji DekolonisasiPara KalagyanRaja Dyah BaletungSeri Dekolonisasi PengetahuanSpiritual Engineering
Previous Post

Suluh Bengawan, Bojonegoro dalam Kronik Ekologi dan Peradaban

Next Post

Momentum Maulid Nabi dan Transformasi Sosial

BERITA MENARIK LAINNYA

Komisi C DPRD Bojonegoro Bahas Realisasi APBD 2025 dan Proyeksi Pelaksanaan APBD 2026
Peristiwa

Komisi C DPRD Bojonegoro Bahas Realisasi APBD 2025 dan Proyeksi Pelaksanaan APBD 2026

09/01/2026
Bakti Bumi, Diskusi Agro Ekologi di Bukit Pagerwesi
Peristiwa

Bakti Bumi, Diskusi Agro Ekologi di Bukit Pagerwesi

28/12/2025
Abdulloh Umar Ajak Masyarakat Bersikap Empatik Sambut Tahun Baru 2026
Peristiwa

Abdulloh Umar Ajak Masyarakat Bersikap Empatik Sambut Tahun Baru 2026

24/12/2025

Anyar Nabs

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: