Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Subjek Wisata, bukan Objek Wisata

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
08/05/2026
in Cecurhatan
Subjek Wisata, bukan Objek Wisata

Subjek wisata, bukan objek wisata

Metode subjektivikasi sangat penting untuk dilakukan sebagai upaya memberi “nyawa” pada tempat wisata. 

Frasa “objek wisata” memang terasa janggal jika direnungkan. Objek. Coba sebut sekali lagi: objek. Ya, kata ini terasa dingin. Pasif. Tak bicara. Tak bercerita. Tak punya emosi. Ia, hanya sepintas ada: seperti meja di ruang tamu yang keberadaannya baru disadari saat ada tamu datang.

Dalam konteks tempat wisata budaya (sejarah), kondisinya justru lebih janggal lagi: kata “objek” telah menempatkan wisatawan sebagai subjek berkuasa namun buta. Sementara warga desa sebagai pemilik peta, justru tak diberi ruang menyampaikan perspektif mereka.

Menyebut Kayangan Api sebagai sebuah “objek” wisata, secara tak langsung telah menenggelamkan masyarakat sekitar di bawah kamera dan algoritma. Menyebut Museum Bengawan sebagai “objek” wisata, secara tak langsung telah meniadakan warga desa sebagai subjek peristiwa.

Tempat memang objek. Namun, begitu menjadi tempat wisata, sudah semestinya ia menjadi subjek. Sebab secara logika, keberadaan kata “wisata” telah mengubah tempat biasa menjadi lebih istimewa. Dan keistimewaan ini tidak berdiri sendiri. Butuh warga sekitar sebagai penjaga cerita.

Sebuah tempat, tentu tak bisa menceritakan dirinya sendiri. Butuh manusia. Butuh masyarakat yang menceritakannya. Bukan pegawai baru. Tapi butuh masyarakat yang sejak lama hidup di sana. Pertanyaannya, apakah masyarakat sekitar dilibatkan dalam mengonsep tempat wisata?

Tanpa warga desa, tempat wisata hanya akan jadi gedung tak bernyawa (Jurnaba)

Masyarakat desa adalah subjek peristiwa. Penjaga cerita. Dan pewaris makna. Membangun wisata tanpa melibatkan mereka, adalah cara instan untuk mengubur tempat itu sendiri. Sebab tanpa akar, pohon setinggi apapun akan tumbang. Tanpa warga desa, wisata semewah apapun akan hilang.

Baca juga: Bojonegoro Laboratorium Kebengawanan Nusantara 

Jika ada yang bertanya, “kenapa Pemkab Bojonegoro sering kesulitan membangun tempat wisata budaya?” Jawabannya sederhana. Coba tanya warga desanya. Bisa jadi, masyarakat tak pernah dilibatkan. Atau mungkin lebih parah lagi: warga desa tak diberi pintu untuk mengakses tempat itu.

Dari Objek ke Subjek

Dalam kaidah Jurnaba, objektivikasi tempat wisata adalah metode kolonial. Karena itu harus di-dekolonisasi, dibebaskan dari cengkeraman kolonial. Dan subjektivikasi adalah upaya mengakui status subjek pada tempatnya. Dengan subjektivikasi, sebuah tempat punya suara. Punya perspektif. Dan punya kedalaman untuk didengarkan.

Dalam gramatika bahasa, objek adalah pihak yang dikenai tindakan. Sementara subjek adalah pihak yang melakukan. Maka selama ini, tanpa sadar, kita telah menempatkan Kayangan Api, Museum Bengawan, dan ribuan tempat lain sebagai pihak yang dikenai kunjungan. Mereka pasif. Wisatawan yang aktif.

Tapi coba kita balik perspektifnya. Kayangan Api bukan sekadar tanah yang mengeluarkan api. Museum Bengawan bukan sekadar gudang penyimpanan perahu. Mereka adalah manifesto budaya. Mereka adalah bukti bahwa nenek moyang pernah mengelola api dan air sebagai bagian dari kehidupan.

subjektivikasi tempat wisata hanya bisa dilakukan dengan cara mengakomodir warga desa (Jurnaba)

Setiap tumpukan batu berapi, dan setiap relief kayu perahu, tentu menyimpan narasi; tentang kosmologi, perjalanan jiwa, hingga cita-cita manusia yang ingin memahami dunia. Kalau Kayangan Api dan Museum Bengawan adalah subjek, maka wisatawan adalah pihak yang diajak bicara. Mereka harus mendengar. Di sini, pergeseran itu terasa jauh lebih besar dari sekadar urusan terminologi bahasa.

Baca Juga: Sendangharjo, Desa Penyimpan Narasi Kayangan Api 

Ada konsekuensi besar dari penyebutan “objek wisata” yang jarang dipahami. Ketika sesuatu disebut objek, ia menjadi benda yang boleh dieksploitasi. Dikeruk manfaatnya. Dijual tiket masuknya. Dibuangi sampah sembarangan. Tidak ada yang merasa bersalah. Sebab terhadap objek, begitulah cara manusia memperlakukannya.

Namun berbeda jika ia adalah subjek wisata. Ia punya cerita dan punya suasana. Secara otomatis, wisatawan akan lebih sadar diri. Sebab ia sedang bertamu, bukan sedang berbelanja. Subjek wisata jelas punya ruang emosi yang hadir dari cerita. Dan cerita, kita tahu, lahir dari pengalaman hidup warga desa.

Pernahkah kamu datang ke suatu tempat dan merasa seperti disambut? Atau sebaliknya, merasa seperti tak diundang: seakan udara lebih berat, lebih sunyi, lebih misterius dari yang kamu bayangkan? Ini nyel bukan imajinasi. Ini adalah akumulasi cerita yang menempel pada sebuah tempat. Di sinilah pentingnya narasi cerita dalam konteks subjek wisata.

Bangunan tua menyimpan ingatan. Hutan menyimpan keheningan. Sungai pada pagi hari dan sungai pada malam hari adalah dua subjek yang berbeda, dengan “emosi” yang berbeda pula. Para penulis dan periset sudah lama tahu ini. Mereka tidak pergi ke suatu tempat hanya untuk melihat. Mereka pergi untuk merasakan apa yang ingin dikatakan tempat itu pada mereka.

Dan ketika kita menyebut sebuah tempat sebagai “subjek” wisata, sesungguhnya kita sedang membuka kemungkinan hadirnya “emosi” itu bagi semua orang, bukan hanya bagi penulis dan periset saja. Sehingga berkunjung ke tempat wisata bukan sekadar memotret benda, tapi mendengar cerita dan menangkap suasana.

Mari kita Mulai

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah cara berpikir. Cara memandang dunia. Ketika kita terus menyebut “objek wisata”, kita sedang mengajak orang lain dan generasi berikutnya untuk melihat tempat sebagai komoditas; sesuatu yang dikonsumsi, dieksploitasi, dan habis nilainya setelah difoto. Hanya itu.

Sebaliknya. Dengan menyebut “subjek wisata”, kita sedang mengajak orang lain dan generasi berikutnya untuk datang di suatu tempat dengan rasa ingin tahu. Kita mengajarkan generasi penerus untuk mendengar sebelum berfoto. Sehingga mereka pulang membawa cerita, bukan hanya kenangan visual.

Pergeseran ini kecil. Hanya dua kata. Tapi dampaknya bisa panjang. Lintas generasi.

Tags: Makin Tahu IndonesiaSubjek WisataSubjek Wisata bukan Objek Wisata
Previous Post

Yang Ditakuti Penguasa

Next Post

Limolasan Bandar: Membaca Kesyahbandaran Bengawan 

BERITA MENARIK LAINNYA

Cara Pandang yang Diam-diam Menguasai Kita
Cecurhatan

Cara Pandang yang Diam-diam Menguasai Kita

24/06/2026
Curaçao dan Indonesia: Bukan soal Bakat, Tapi Sistem
Cecurhatan

Curaçao dan Indonesia: Bukan soal Bakat, Tapi Sistem

23/06/2026
Desa Prangi, Kampung yang Memuliakan Bengawan
Cecurhatan

Desa Prangi, Kampung yang Memuliakan Bengawan

22/06/2026

Anyar Nabs

Cara Pandang yang Diam-diam Menguasai Kita

Cara Pandang yang Diam-diam Menguasai Kita

24/06/2026
Curaçao dan Indonesia: Bukan soal Bakat, Tapi Sistem

Curaçao dan Indonesia: Bukan soal Bakat, Tapi Sistem

23/06/2026
Desa Prangi, Kampung yang Memuliakan Bengawan

Desa Prangi, Kampung yang Memuliakan Bengawan

22/06/2026
Timnas Sepak Bola: Mazhab, Filosofi, dan Identitas Bangsa

Timnas Sepak Bola: Mazhab, Filosofi, dan Identitas Bangsa

21/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: