Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Yang Menakutkan Bukan Pernikahan, Tapi Salah Pilih Orang

Sandra Alfiani by Sandra Alfiani
11/05/2026
in Cecurhatan
Yang Menakutkan Bukan Pernikahan, Tapi Salah Pilih Orang

Freepik

Bukan soal siap finansial, bukan soal karir yang perlu dikejar. Ada ketakutan lain yang lebih sunyi, yang jarang berani diucapkan keras-keras. 

Saya ingat betul percakapan itu.
Suatu malam, seorang teman saya perempuan, 27 tahun, karir bagus, hidup mandiri tiba-tiba berkata di tengah obrolan santai: “Jujur, ga takut nikah. Cuma nikah itu kayak judi. Menang seumur hidup, atau menderita seumur hidup, kalau pilih orang yang salah”

Ruangan sejenak hening. Bukan karena kalimat itu mengejutkan. Tapi karena semua orang di ruangan itu, diam-diam, merasakan hal yang sama. Itulah ketakutan yang sesungguhnya. Yang tidak muncul dalam statistik survei pernikahan. Tak terdeteksi dalam debat soal generasi anti komitmen. Ketakutan yang terlalu jujur untuk diucapkan, tapi terlalu besar untuk diabaikan.

Situationship dan Luka yang Tidak Punya Nama
Sebelum sampai ke ketakutan soal pernikahan, banyak dari kita lebih dulu melewati sesuatu yang lebih membingungkan yaitu situationship.
Hubungan yang tidak resmi tapi terasa seperti pacaran.

Situationship seolah jadi jalan tengah yang paling masuk akal bagi Gen Z yaitu tidak perlu drama hubungan resmi, tapi tetap ada someone to talk di malam panjang itu.

Saling perhatian, tapi tidak pernah ada pembicaraan soal status. Chat tiap hari, tapi kalau ditanya “kita ini apa?” jawabannya selalu menggantung “jalani aja dulu”, “nggak usah dikasih label”, “yang penting nyaman kan?” Yang menyakitkan dari situationship bukan ketidakjelasannya.

Tapi betapa lama kita bertahan di dalamnya sambil berharap sesuatu yang tidak pernah dijanjikan. Dan ketika akhirnya selesai, bukan putus, karena tidak pernah resmi, malah jadinya bingung mau sedih di mana. Tidak bisa cerita ke orang tua karena “pacar aja bukan”. Tidak bisa minta closure karena “memangnya ada apa?” Lukanya nyata, tapi tidak punya label.

Dari satu situationship ke situationship berikutnya, tanpa disadari kita mengumpulkan sesuatu berlabel kelelahan. Dan kelelahan itulah yang pelan-pelan berubah menjadi ketakutan.

Masalahnya Bukan Orangnya, Tapi Kita Belum Bisa Baca Karakter Satu Sama Lain
Tapi izinkan saya mengajukan satu pertanyaan yang mungkin tidak nyaman.
Jangan-jangan, sebagian besar situationship yang menyakitkan itu terjadi bukan karena orangnya memang salah, tapi karena kita dan dia tidak pernah benar-benar belajar cara membaca karakter satu sama lain?

Kita terlalu cepat berspekulasi. Dia tidak balas chat dua jam, langsung dicap avoidant. Tidak ekspresif soal perasaan, langsung dibilang emotionally unavailable. Butuh waktu sendiri setelah obrolan panjang, langsung masuk daftar red flag.

Padahal kenyataannya, tidak sesederhana itu.
Orang yang kita sebut avoidant itu sejatinya banyak di antara mereka bukan sedang menghindari kita. Mereka hanya tidak terbiasa menganggap kedekatan sebagai kenyamanan. Bagi mereka, kedekatan justru terasa seperti tekanan.

Bukan karena mereka tidak peduli. Justru seringkali, mereka peduli terlalu dalam dengan cara mereka sendiri dan itu yang dianggap menakutkan efeknya bagi mereka. Terbuka bagi mereka bukan hal yang mudah, karena setiap kali mereka membuka diri di masa lalu, itu berakhir menyakitkan.

Psikolog menyebutnya Hedgehog Syndrome layaknya landak yang ingin hangat berdekatan, tapi duri-durinya justru melukai siapa pun yang mendekat. Bukan niat. Bukan pilihan. Tapi cara bertahan yang sudah terlanjur terbentuk dari berbagai gelombang kehidupan selama ini.

Empat Cara Orang Berbicara?

Nah minusnya yang sering kita benarkan itu hanya dipermukaan saja tidak secara mendalam berujung salah dengar, salah makna, dan salah paham.

Jauh sebelum istilah attachment style viral di TikTok, manusia sebenarnya sudah lama mencoba memahami mengapa orang merespons dengan cara yang berbeda-beda.

Kita mengenalnya kali ini dalam empat tipe kepribadian dan memahaminya bisa mengubah cara kita membaca orang secara fundamental.

Ada yang berbicara dengan ketegasan. Singkat, langsung ke inti, tidak suka basa-basi. Kalau kamu curhat panjang dan dia hanya menjawab “terus maunya gimana?” bukan berarti dia tidak peduli.

Dia hanya tidak nyaman berenang di lautan perasaan tanpa tujuan. Baginya, cinta dibuktikan dengan solusi, bukan dengan kata-kata manis.

Ada yang berbicara dengan energi dan kehangatan. Ekspresif, mudah akrab, menyenangkan diajak ngobrol. Tapi jangan heran kalau hari ini dia sangat antusias, besok perhatiannya sudah berpindah ke hal lain. Bukan tidak serius dia hanya hidup di momen, dan momen selalu berganti.

Ada yang berbicara dengan kedalaman. Yang ingat detail percakapan tiga bulan lalu. Yang diam bukan karena malas merespons, tapi karena sedang memproses dengan sangat serius setiap kata yang kamu ucapkan. Justru karena dia peduli, dia butuh waktu lebih lama dari yang kamu harapkan.

Dan ada yang berbicara dengan ketenangan. Yang jarang reaktif, lebih memilih mendengar daripada mendominasi percakapan. Yang terlihat tidak bersemangat padahal sebenarnya sedang menikmati kehadiran kamu dengan caranya sendiri. Inilah yang paling sering salah dibaca sebagai avoidant padahal dia hanya nyaman dalam diam, dan diam baginya bukan penolakan.

Empat cara bicara yang berbeda, dan jika dua orang dengan ritme yang berbeda bertemu tanpa pernah belajar membaca satu sama lain, situationship bukan sekadar hasil yang paling mungkin terjadi. Ia adalah luka yang paling melelahkan, justru karena tidak ada yang bisa disalahkan.

Kenapa Akhirnya Kita Takut Salah Pilih
Setelah berkali-kali salah baca kepribadian orang, wajar kalau kita kemudian menjadi lebih berhati-hati. Lebih selektif. Lebih lama mengambil keputusan.

Dan di titik itulah, pernikahan terasa menakutkan. Bukan karena kita tidak mau berkomitmen. Bukan karena kita tidak percaya cinta. Tapi karena kita sudah cukup dewasa untuk tahu “memilih orang untuk seumur hidup adalah keputusan yang tidak bisa ditarik kembali”

Kita pernah salah baca orang yang kita kira terbuka, ternyata tertutup. Pernah salah baca orang yang kita kira serius, ternyata hanya menikmati prosesnya. Pernah bertahan terlalu lama dalam ketidakjelasan karena tidak tahu cara membedakan mana yang memang tidak cocok, mana yang hanya berbeda ritme komunikasinya.

Luka-luka itu tidak hilang, ia mengendap. Dan ketika seseorang yang baru datang, pertanyaan yang muncul bukan lagi “apa aku cukup baik untuknya?” tapi “apa aku cukup kenal dia untuk yakin dia orang yang tepat?”

Bukan pasangan sempurna secara finansial Saja, tapi juga secara emosional
Satu hal yang sering terlewat dalam semua percakapan soal hubungan dan pernikahan adalah kita tidak bisa benar-benar mengenal seseorang hanya dari cara dia membalas chat, atau seberapa ekspresif dia mengungkapkan perasaan, atau apakah dia tipe yang suka ngobrol panjang atau lebih nyaman dalam diam.

Mengenal orang butuh waktu, butuh kesabaran, dan yang paling penting, butuh kemauan untuk memahami bahwa cara dia mencintai mungkin tidak sama dengan cara kamu ingin dicintai. Dan itu bukan kegagalan. Itu justru tantangan paling manusiawi dari sebuah hubungan.

Mungkin yang kita butuhkan bukan orang yang sempurna di atas kertas. Tapi orang yang mau duduk bersama kita, belajar membaca ritme masing-masing, dan tidak buru-buru kabur ketika menemukan perbedaan.

Karena pada akhirnya, pernikahan bukan tentang menemukan orang yang tidak pernah menyulitkan. Tapi tentang menemukan orang yang kesulitannya masih sanggup dan mau kita pahami, dan mereka memahami bahwa hidup bersama berarti menyatukan dua kepala, dua kepribadian, dan dua cara melihat dunia.

Dan mungkin itu alasan kenapa generasi sekarang terlihat lebih hati-hati.
Mereka bukan anti pernikahan, Mereka cuma tidak ingin pulang ke seseorang yang membuat rumah terasa asing
Cuma ingin punya rumah yang ramah, saat dunia sudah terlalu banyak tuntutan yang bikin lelah.

Cuma ingin dicintai tanpa harus terus merasa cemas. Cuma ingin komunikasi yang tidak selalu membuat mereka saling menebak-nebak. Sebab semakin dewasa, kita mulai sadar yang membuat hubungan bertahan bukan sekadar rasa nyaman di awal, tapi kemampuan dua orang untuk saling memahami cara berkomunikasi satu sama lain. Karena ternyata, tidak semua hubungan gagal karena tidak ada cinta.
Kadang, dua orang hanya sama-sama belum tahu cara saling mengerti.

 

 

Tags: Attachment StyleGen zKepribadianKomunikasiPernikahanSituationship
Previous Post

Makrifat Sengkuni dan Kebiasaan Lupa Gosok Gigi

BERITA MENARIK LAINNYA

Makrifat Sengkuni dan Kebiasaan Lupa Gosok Gigi
Cecurhatan

Makrifat Sengkuni dan Kebiasaan Lupa Gosok Gigi

10/05/2026
Waspada ‘Kubu-kubuan’ di Kantor! Cara Gen Z Pimpin Senior Tanpa Harus Jadi ‘Anak Kemarin Sore’ yang Songong
Cecurhatan

Waspada ‘Kubu-kubuan’ di Kantor! Cara Gen Z Pimpin Senior Tanpa Harus Jadi ‘Anak Kemarin Sore’ yang Songong

10/05/2026
Limolasan Bandar: Membaca Kesyahbandaran Bengawan 
Cecurhatan

Limolasan Bandar: Membaca Kesyahbandaran Bengawan 

09/05/2026

Anyar Nabs

Yang Menakutkan Bukan Pernikahan, Tapi Salah Pilih Orang

Yang Menakutkan Bukan Pernikahan, Tapi Salah Pilih Orang

11/05/2026
Makrifat Sengkuni dan Kebiasaan Lupa Gosok Gigi

Makrifat Sengkuni dan Kebiasaan Lupa Gosok Gigi

10/05/2026
Waspada ‘Kubu-kubuan’ di Kantor! Cara Gen Z Pimpin Senior Tanpa Harus Jadi ‘Anak Kemarin Sore’ yang Songong

Waspada ‘Kubu-kubuan’ di Kantor! Cara Gen Z Pimpin Senior Tanpa Harus Jadi ‘Anak Kemarin Sore’ yang Songong

10/05/2026
Limolasan Bandar: Membaca Kesyahbandaran Bengawan 

Limolasan Bandar: Membaca Kesyahbandaran Bengawan 

09/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: