Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Abdulloh Umar: Idul Adha Momen Menyembelih Nafsu yang Paling Diam

Maulida Chartagupta by Maulida Chartagupta
26/05/2026
in Cecurhatan
Abdulloh Umar: Idul Adha Momen Menyembelih Nafsu yang Paling Diam

Abdulloh Umar: Idul Adha momen menyembelih nafsu (Jurnaba)

Setiap tahun, gema takbir kembali memenuhi langit kampung. Pisau diasah. Tali-tali dipersiapkan. Hewan-hewan kurban diantar menuju tanah lapang dan halaman masjid. Orang-orang berkumpul sejak pagi, membawa kantong plastik, doa-doa, dan harapan yang sederhana: semoga hidup tahun ini lebih lapang daripada sebelumnya.

“Namun, Iduladha sesungguhnya bukan hanya soal daging. Ia adalah peristiwa batin” ucap Ketua DPRD Bojonegoro, Abdulloh Umar (26/5/2026)

Umar menyatakan, yang paling sulit disembelih dalam hidup manusia bukan kambing, bukan sapi, melainkan sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya sendiri: kerakusan, kesombongan, dan sikap merasa paling berhak atas segala hal.

Kisah Nabi Ibrahim,  kata Umar, bukan sekadar cerita kepatuhan seorang ayah kepada Tuhan. Namun tentang manusia yang diuji melalui sesuatu yang paling dicintai. Sebab, cinta pada titik tertentu, bisa berubah menjadi kepemilikan. Dan kepemilikan yang berlebih sering melahirkan ketakutan.

“Karena itu, kurban pada akhirnya bukan tentang apa yang dipotong, tetapi tentang apa yang dilepaskan”. Imbuh dia.

Umar melanjutkan, di zaman modern ini, manusia mungkin tidak lagi hidup di padang pasir seperti Ibrahim. Tetapi padang pasir itu tetap ada, dalam bentuk yang lain: ambisi tanpa batas, hasrat menumpuk kekayaan, kebutuhan untuk selalu diakui, dan kehidupan yang makin bising oleh perlombaan status sosial.

Karena itu, kata dia, Iduladha datang seperti cermin. Dalam tradisi kurban, daging dibagikan kepada banyak orang tanpa melihat latar belakang. Ada sesuatu yang sangat manusiawi, bahwa kebahagiaan tidak layak dimonopoli.  Di tengah dunia yang individualistik, Iduladha membawa pesan bahwa manusia tidak boleh hidup di atas penderitaan manusia lain.

Umar menambahkan, kurban mengajarkan bahwa yang membuat manusia mulia bukan seberapa banyak yang ia simpan, melainkan seberapa tulus yang ia lepaskan. Sebab dalam hidup, tidak semua yang digenggam benar-benar dimiliki. Sebab, yang menyelamatkan manusia adalah apa yang rela ia korbankan.

Tags: Filosofi KurbanIdul adha
Previous Post

Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)

Next Post

Percakapan di Tepi Kolam Bersama Mbah Moedjair

BERITA MENARIK LAINNYA

Percakapan di Tepi Kolam Bersama Mbah Moedjair
Cecurhatan

Percakapan di Tepi Kolam Bersama Mbah Moedjair

26/05/2026
Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)
Cecurhatan

Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)

26/05/2026
Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal
Cecurhatan

Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

25/05/2026

Anyar Nabs

Percakapan di Tepi Kolam Bersama Mbah Moedjair

Percakapan di Tepi Kolam Bersama Mbah Moedjair

26/05/2026
Abdulloh Umar: Idul Adha Momen Menyembelih Nafsu yang Paling Diam

Abdulloh Umar: Idul Adha Momen Menyembelih Nafsu yang Paling Diam

26/05/2026
Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)

Mencuri Melalui Cahaya, Riwayat Maling Cluring: Hikmah Humor dan Pencurian (17)

26/05/2026
Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

25/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: