Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kejhung Lintas Terop di Bojonegoro, Panggung Kontemporer yang Mengajak Publik Memaknai Perempuan dalam Kesenian

Bakti Suryo by Bakti Suryo
20/06/2026
in Peristiwa
Kejhung Lintas Terop di Bojonegoro, Panggung Kontemporer yang Mengajak Publik Memaknai Perempuan dalam Kesenian

Kolaborasi Pementasan seni Kejhung Lintas Terop dari Neat Project dan Akataraksa di Bojonegoro (19/2/2026).

“Bagaimana kalian memaknai wanita dalam kesenian?”

Pertanyaan itu menggema di seluruh sudut ruangan bernuansa putih di Gedung Maharani Bakorwil Bojonegoro, Jumat malam (19/6/2026). Kalimat sederhana tersebut menjadi pembuka pementasan tari teatrikal Kejhung Lintas Terop, sebuah pertunjukan seni kontemporer yang mengajak penonton terlibat langsung dalam proses pemaknaan karya.

Pementasan ini merupakan bagian dari program Neat Project, sebuah proyek seni berbasis riset yang berupaya merekonstruksi bentuk pagelaran kontemporer melalui pertemuan berbagai disiplin seni, budaya, dan pengalaman artistik. Di Bojonegoro, pertunjukan tersebut menjadi hasil kolaborasi antara Neat Project dan Akataraksa dengan para penari lokal yang sebelumnya mengikuti lokakarya pada 18 Juni 2026.

Bojonegoro menjadi kota ketiga dalam rangkaian roadshow program tersebut di Jawa Timur. Sebelumnya, Kejhung Lintas Terop telah dipentaskan di Banyuwangi dan Pasuruan. Setelah Bojonegoro, perjalanan seni ini akan berlanjut dan ditutup di Sumenep, Madura.

Melalui pendekatan seni pertunjukan kontemporer, program ini berupaya melampaui batas-batas geografis maupun budaya. Ekspresi seni yang dihadirkan tidak hanya berbasis tari, tetapi juga mempertemukan berbagai disiplin artistik dalam satu ruang dialog yang sama.

Pertunjukan ini menjadi wadah perjumpaan para seniman, komunitas, dan ruang budaya dari sejumlah daerah di Jawa Timur. Di setiap kota, karya yang ditampilkan selalu melibatkan seniman lokal yang telah mengikuti proses lokakarya, sehingga lahir pertemuan antara metode penciptaan, pengalaman artistik, dan tradisi setempat.

Selain gerak tubuh para penari, pementasan juga memanfaatkan unsur new media art serta tata audio yang menjadi bagian penting dari pengalaman ruang yang dibangun selama pertunjukan berlangsung.

Perwakilan Neat Project, Sri Cicik Handayani, menjelaskan bahwa Bojonegoro memberikan pengalaman dan pengetahuan baru dalam perjalanan program tersebut.

“Kami, Neat Project hadir di beberapa kota dan ini adalah kota ketiga kami setelah sebelumnya dari Banyuwangi dan Pasuruan. Akhirnya kita bisa bertemu dengan banyak pengetahuan baru di Bojonegoro dan mari kita saling berdialog bersama,” ujar Cicik.

Pementasan tersebut juga mendapat perhatian dari pelaku seni dan penonton yang hadir. Salah satunya Dadang SB, seniman asal Bojonegoro yang mengapresiasi keberanian tema yang diangkat dalam pertunjukan.

“Terima kasih kepada Neat Project yang sudah singgah di Bojonegoro, di kota kecil kami ini,” katanya.

Menurut Dadang, tema yang dibawa dalam Kejhung Lintas Terop cukup sensitif sekaligus relevan. Pertunjukan itu menghadirkan perbincangan mengenai lokalitas, perempuan, dan persoalan sensualitas dalam ruang seni.

“Saya rasa secara tema, pertunjukan hari ini memang cukup sensitif sekali sebenarnya. Bagaimana Neat Project ini menghadirkan satu tentang lokalitas, yang kedua tentang tubuh perempuan berkaitan dengan sensualitas,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi konsep pertunjukan yang menghapus jarak antara penampil dan penonton. Pertunjukan ini memang tidak menggunakana panggung besar. Pentas dilakukan dalam satu ruang yang mana penampil dan penonton melebur jadi satu. Selain itu, penonton juga terlibat secara langsung dalam pertunjukkan.

“Secara pribadi saya mengapresiasi pertunjukan yang sangat partisipatif, peleburan antara penyaji dengan penonton,” tambahnya.

Penonton terlibat langsung dalam pementasan Kejhung Lintas Terop di Bojonegoro.

Dalam sesi dialog setelah pertunjukan, Cicik mengungkapkan bahwa karya tersebut lahir dari proses riset panjang yang dimulai sejak 2021. Penelitian awal mereka berangkat dari kesenian Tayub di Madura dan mencoba melihat posisi perempuan Tandhak dalam konstruksi sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat.

Menurutnya, pengalaman mengamati kesenian Tayub memunculkan pertanyaan tentang hubungan antara penampil dan audiens yang selama ini tidak memiliki jarak yang tegas.

“Kemudian kami bertanya, sampai kapan kami dengan eksplorasi yang berangkat dari kesenian Tayub yang tidak pernah berjarak dengan audiensnya, bahwa ketika perempuan Tandhak hadir dalam kesenian Tayub, dia langsung berhadapan dengan penayubnya,” jelas Cicik.

Dari kegelisahan itulah muncul eksperimen artistik yang menjadi dasar Kejhung Lintas Terop. Dalam pertunjukan ini, batas antara performer dan audiens sengaja dihilangkan. Penonton tidak lagi ditempatkan sebagai pihak yang hanya menyaksikan, melainkan menjadi bagian dari pengalaman artistik yang sedang berlangsung.

“Kami mencoba untuk bereksperimen, dalam konteks pertunjukan kami, menghadapkan bahwa menghapus batas-batas antara performer dan audiens. Kami menganggap bahwa seluruh audiens itu adalah performer,” katanya perempuan yang berasal dari tanah Madura tersebut.

Sebaliknya, performer juga diposisikan sebagai audiens yang turut mengamati dan memaknai respons penonton. Interaksi timbal balik tersebut menjadi bagian penting dari proses penciptaan makna dalam karya.

“Kita saling menatap dan mencoba saling memaknai bagaimana dalam konteks pertunjukan yang utuh, kami tidak pernah ada. Yang mana sih audiensnya atau yang mana sih performernya?” lanjutnya.

Bagi Cicik, ruang yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat tertentu akan melahirkan pengalaman dan pengetahuan baru. Ini termasuk gaya baru untuk seni kontemporer, yang mana penonton dan penampil saling mengisi ruang pertunjukkan. Tentu sesuai dengan peran masing-masing dalam satu medan hiburan.

“Saya percaya bahwa satu ruang ketika tidak diberi batas tertentu akan muncul satu pengetahuan baru. Bagaimana penonton merespon kami, itu suatu pengetahuan baru menurut kami,” ujarnya.

Sesi diskusi antara penampil dan penonton seusai pertunjukan Kejhung Lintas Terop.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa karya tersebut berupaya mempertemukan berbagai lapisan makna sekaligus. Mulai dari konstruksi dan dekonstruksi, realitas dan non-realitas, hingga pertanyaan-pertanyaan yang muncul sepanjang proses riset yang mereka jalani selama lima tahun terakhir.

Menurutnya, perempuan yang hadir dalam medan seni kerap ditempatkan pada dua posisi yang berbeda. Di satu sisi dimaknai secara spiritual, sementara di sisi lain dipandang sebagai objek tontonan.

Karena itulah, seluruh elemen yang hadir di atas panggung—baik tubuh, tatapan, visual, maupun audio—disusun sebagai rangkaian pertanyaan yang terus dieksplorasi.

“Jadi sekali lagi bahwa karya ini mencoba membenturkan konstruksi dan dekonstruksi, realitas dan non-realitas menjadi satu pertanyaan yang utuh, bagaimana hari ini kita memaknai perempuan seni atau medan seni itu sendiri?” pungkas Cicik.

Melalui pendekatan tersebut, Kejhung Lintas Terop tidak sekadar menawarkan pertunjukan tari kontemporer. Karya ini juga membuka ruang dialog mengenai perempuan, tubuh, budaya, dan cara masyarakat memandang seni di tengah perubahan zaman.

Tags: Kesenian BojonegoroPentas SeniPerempuan SeniPertunjukan SeniSeni Kontemporer
Previous Post

Gunung dan Pendakian Cinta: Tafsir Humanistik Pernikahan ala Modin Jawa

BERITA MENARIK LAINNYA

Jejak Geologi dan Sejarah Undak Bengawan Terungkap dalam Ekspedisi Naga Api Bojonegoro
Peristiwa

Jejak Geologi dan Sejarah Undak Bengawan Terungkap dalam Ekspedisi Naga Api Bojonegoro

17/06/2026
Diskusi Naga Api: Wonocolo dalam Tiga Pondasi
Peristiwa

Diskusi Naga Api: Wonocolo dalam Tiga Pondasi

07/06/2026
Pemkab Bojonegoro Salurkan Benih Tembakau Unggul, Petani Bidik Panen Lebih Produktif
Peristiwa

Pemkab Bojonegoro Salurkan Benih Tembakau Unggul, Petani Bidik Panen Lebih Produktif

03/06/2026

Anyar Nabs

Kejhung Lintas Terop di Bojonegoro, Panggung Kontemporer yang Mengajak Publik Memaknai Perempuan dalam Kesenian

Kejhung Lintas Terop di Bojonegoro, Panggung Kontemporer yang Mengajak Publik Memaknai Perempuan dalam Kesenian

20/06/2026
Gunung dan Pendakian Cinta: Tafsir Humanistik Pernikahan ala Modin Jawa

Gunung dan Pendakian Cinta: Tafsir Humanistik Pernikahan ala Modin Jawa

19/06/2026
Main Bola Suka-Suka: Merawat Persahabatan di Tengah Kejamnya Deadline

Main Bola Suka-Suka: Merawat Persahabatan di Tengah Kejamnya Deadline

18/06/2026
Lokakarya Media 2026: Etika, Akurasi, dan Tantangan Industri Pers di Era AI

Lokakarya Media 2026: Etika, Akurasi, dan Tantangan Industri Pers di Era AI

18/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: