Masyarakat Kelurahan Ledok Kulon gelar Haul Ki Andongsari ke-244 sebagai upaya melestarikan tradisi masyarakat. Selain parade Kirab Pusaka, kegiatan yang resmi dibuka pada Minggu (5/7) ini, juga terdapat launching buku historiografi.
Peringatan haul Ki Andong Sari tahun ini dikemas dalam tiga rangkaian kegiatan yang memadukan nilai religius, budaya, dan kebersamaan. Di antaranya Sholawat Munajat Cinta (Jumat, 3 Juli 2026), Kirab Agung Pusaka Ki Andongsari (Minggu, 5 Juli 2026), dan Sedekah Bumi (Selasa, 7 Juli 2026).
Lurah Ledok Kulon, Anton Simbolon bersyukur haul Ki Andong Sari terselenggara tahun ini. Kata dia, acara itu terlaksana berkat kerja sama pemerintah kelurahan dengan para warga. Sesarengan. Ia berharap, tradisi haul Ki Andong Sari terus lestari sebagai momen warga Ledok Kulon untuk refleksi dan berkontemplasi.
Menurut Anton, kegiatan ini merupakan upaya warga dalam nguri-uri sejarah dan budaya Ki Andong Sari dan warga Ledok Kulon secara umum. Ia berharap, ketauladanan Ki Andong Sari tidak hanya menjadi milik warga Ledok Kulon. Namun, menjadi milik warga Bojonegoro.
“Kami berharap, Ki Andong Sari tidak hanya milik warga Ledok Kulon, tapi warga Bojonegoro” tutur Anton.
Dalam kesempatan sama, Wabup Nurul Azizah menyampaikan apresiasi kepada pemerintah kelurahan dan segenap warga Ledok Kulon. Kerja sama pemerintah kelurahan dan para warga Ledok Kulon dalam penyelenggaraan Haul ke-244 Ki Andong Sari, sangat bagus.

Nurul Azizah juga mendukung harapan warga untuk merancang dan mengembangkan Makam Ki Andong Sari sebagai wisata religi atau wisata budaya. Bahkan, Wabup Nurul juga mendukung adanya perbaikan lokasi. Kata dia, perbaikan akan dilakukan segera.
‘’Saya meminta, acara ini dimasukkan ke kalender event tahunan Pemkab Bojonegoro,’’ tuturnya.
Launching Buku Historiografi
Banyak hal baru dalam Haul Ki Andong Sari tahun ini. Mengukuhkan Kelurahan Ledok Kulon sebagai kelurahan sarat sejarah budaya. Selain tersaji seni Sandur dan Kentrung Pengkolan, dalam Kirab Pusaka Ki Andong Sari, juga terbit buku mengenai historiografi Ki Andong Sari.

Buku itu perdana. Baru satu-satunya. Berjudul Historiografi Ki Andong Sari. Disusun Pemerintah Kelurahan Ledok Kulon. Bekerja sama dengan Bojonegoro Raya. Dua di antara tiga jurnalis atau penulis buku tentang lakon Ledok Kulon tersebut, merupakan warga setempat. Lahir di Ledok Kulon. Lekat dengan aliran Sungai Bengawan.
Lurah Ledok Kulon, Anton Simbolon memimpin launching buku tersebut. Disaksikan ratusan warga Ledok Kulon dan para tamu undangan. Termasuk Wabup Bojonegoro Nurul Azizah. Anton menegaskan, buku Historiografi Ki Andong Sari mewedar sejarah dan budaya Ki Andong Sari berikut tlatah Ledok secara mendalam.
‘’Buku Historiografi Ki Andong Sari ini kado haul Ki Andong Sari tahun ini,’’ tutur Anton Simbolon dalam kesempatan itu.
Buku disusun berdasar data-data sejarah dan wawancara sesepuh itu, harap Anton, dapat menjadi acuan masyarakat dan generasi Ledok Kulon dalam memahami Ki Andong Sari serta tlatah Ledok. Sebab, sarat nilai sejarah dan tauladan budaya. Sehingga penting untuk masyarakat dan generasi selanjutnya.
Wabup Nurul Azizah yang menjadi saksi launching-nya buku Historiografi Ki Andong Sari, memberi apresiasi tinggi untuk Pemerintah Kelurahan Ledok Kulon. Menurut dia, langkah Kelurahan Ledok Kulon untuk menyusun buku tentang sejarah dan budaya Ki Andong Sari serta tlatah Ledok, sangat visioner.
‘’Buku ini menjadi karya untuk anak cucu kita. Generasi selanjutnya,’’ kata dia.
Melalui buku tersebut, lanjut Wabup Nurul Azizah, berbagai hal atau nilai positif yang dilakukan dan ditunjukkan Ki Andong Sari bisa lebih dipahami serta diteladani. Dia juga meminta agar buku itu dicetak lebih banyak. Dia pun meminta Disbudpar Bojonegoro menindaklanjuti.
‘’Beliau (Ki Andong Sari, red) adalah tokoh dan leluhur. Kita harus meneladani beliau. Tidak boleh memunahkannya,’’ ucapnya.
Terpisah, project officer buku Historiografi Ki Andong Sari, Khorij Zaenal Assrori mengatakan, pihaknya bersyukur buku tersebut mendapat sambutan dan dukungan baik. Jurnalis Bojonegoro Raya ini mengemukakan, buku Historiografi Ki Andong Sari disusun dalam waktu sekitar satu bulan. Namun, pengumpulan materinya sekitar dua tahun.
‘’Kami berterima kasih kepada Pemerintah Kelurahan Ledok Kulon dan Pemkab Bojonegoro. Insyaallah buku ini layak jadi acuan. Mewariskan pengetahuan untuk masyarakat. Terutama, Ledok Kulon,’’ tutur dia.








