Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Banyu Wedang Bojonegoro Dikaji dari Perspektif Geologi, Sejarah, dan Budaya, Tim Ekspedisi Naga Api Ungkap Potensi Geosite

Bakti Suryo by Bakti Suryo
05/07/2026
in Peristiwa
Banyu Wedang Bojonegoro Dikaji dari Perspektif Geologi, Sejarah, dan Budaya, Tim Ekspedisi Naga Api Ungkap Potensi Geosite

Diskusi Geologi

Bagi Tim Ekspedisi Naga Api, situs Banyu Wedang bukan sekadar destinasi geowisata. Kawasan itu menyimpan jejak proses geologi yang panjang sekaligus membuka ruang dialog antara ilmu pengetahuan, sejarah, dan kebudayaan.

Sumber mata air panas alami Banyu Wedang di Desa Jari, Kecamatan Gondang, kembali menjadi perhatian para peneliti dan pegiat sejarah. Tim Ekspedisi Naga Api menggelar diskusi terbuka Volume V yang digelar di Deulleuda Coffee, Sabtu (4/7/2026). Diskusi dihadiri sejumlah akademisi, praktisi geologi, komunitas sejarah dan insan pemerhati geopark. Mereka mendalami potensi kawasan tersebut dari berbagai sudut pandang, mulai dari geologi, sejarah hingga budaya.

Diskusi tersebut merupakan tindak lanjut dari ekspedisi lapangan yang sebelumnya dilakukan Tim Ekspedisi Naga Api di kawasan pegunungan selatan Kabupaten Bojonegoro. Forum ini tidak hanya memaparkan hasil observasi. Ruang dialog mengenai nilai ilmiah dan peluang pengembangan Banyu Wedang juga dibuka. Khususny dalam konteks sebagai geosite yang memiliki signifikansi lebih luas.

Banyu Wedang dikenal sebagai sumber mata air panas alami yang berada di kawasan perbukitan Desa Jari. Bersama Situs Selo Gajah, lokasi ini menjadi salah satu tujuan geowisata. Pemandangan alam pedesaan, kawasan hutan, serta fenomena geologi menjadi daya tawar. Tetapi, situs ini masih menyimpan banyak ruang untuk diteliti.

Diskusi Ekspedisi Naga Api Volume V: Banyu Wedang, Sabtu (4/7/2026).

Ketua Komunitas Bojonegoro History, M. Andrea, mengatakan bahwa pembahasan tidak berhenti pada keberadaan mata air panas semata. Menurutnya, yang lebih penting adalah memahami karakteristik Banyu Wedang dibandingkan sumber-sumber mata air lain di Bojonegoro.

“Diskusi sore ini kita membincangkan persoalan bagaimana sih sumber mata air itu (Banyu Wedang) dibanding dengan sumber-sumber mata air lain. Itu sih sisi menariknya yang perlu kita bahas setelah ekspedisi di sana,” kata Andre membuka diskusi.

Perspektif ilmiah kemudian dipaparkan oleh praktisi geologi Burhanuddin Arizza untuk mengawali diskusi. Dia menjelaskan bahwa terbentuknya mata air panas Banyu Wedang berkaitan dengan proses geothermal. Khususnya mekanisme hydrothermal yang memanfaatkan panas bumi untuk memanaskan air bawah permukaan.

Menurutnya, panas tersebut melarutkan berbagai mineral yang terkandung dalam batuan sehingga air yang muncul ke permukaan memiliki suhu sekitar 40–60 derajat Celsius. Salah seorang anggota tim kala itu ada yang mencoba untuk menyentuh air. Sentuhan di salah satu titik sumber membuktikan bahwa air terasa hangat. Bahkan, di titik lain ada yang terasa sedikit lebih panas.

Selain temperatur, tim juga menemukan karakteristik lain yang dinilai cukup menarik. Temuan itu ialah rasa air yang cenderung asam hingga sedikit asin. Kondisi air yang demikian ialah air yang memiliki kandungan natrium cukup tinggi.

“Ada lagi yang sangat mencirikan itu, yaitu air yang berasa asam atau sedikit asin. Artinya, kandungan natriumnya cukup tinggi,” terang Riza.

Riza menjelaskan, kandungan tersebut muncul karena air mengalami proses hydrothermal yang melarutkan mineral dari batuan di bawah permukaan. Itulah yang membuat air sumber memiliki rasa yang asam atau asin.

Da menambahkan, proses tersebut berkaitan dengan metamorfisme kontak, sebuah proses pengendapan kimiawi yang berlangsung dalam waktu sangat lama. Sebagai ilustrasi, ia mencontohkan perubahan batu gamping menjadi batu marmer melalui akumulasi mineral secara bertahap.

“Tetapi air di sana (Banyu Wedang) agak hangat dan sifatnya juga terasa asin. Kurang lebihnya seperti itu,” jelasnya.

Sementara itu, pegiat sejarah dari Jelajah Taman Bumi, Agni Malagina, menilai penelitian ilmiah menjadi bagian penting dalam pembangunan kawasan geopark.

“Jelajah Taman Bumi ini lahir karena niat untuk mengisi ruang kosong ketika seharusnya pemerintah mulai sadar bahwa Geopark itu harus diisi dengan riset,” kata Agni.

Menurutnya, pengembangan geopark idealnya dibangun melalui pola kemitraan hexahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, serta lembaga pendukung lainnya.

“Karena Geopark itu sebenarnya polanya adalah kemitraan yang bersifat hexahelix partnership gitu ya,” tuturnya.

Dia menilai narasi sejarah dan budaya selama ini relatif berkembang. Namun, kajian geologi justru masih memerlukan penguatan. Itu semua agar mampu menjadi dasar dalam membangun nilai signifikansi internasional sebagai sebuah kawasan geopark yang diusulkan kepada UNESCO. Pasalnya, banyak negara-negara lain yang mengusulkan beberapa titik wilayah untuk menjadi gepoark.

Pandangan serupa juga disampaikan anggota tim riset Ekspedisi Naga Api, Wahyu Rizkiawan. Baginya, setiap kegiatan penelitian merupakan bagian dari upaya memahami ciptaan Tuhan melalui ilmu pengetahuan.

“Kalau menurut saya, ini membuat saya senang karena ini pemaknaan mendalam bahwa Gusti Allah menciptakan hamparan alam untuk dipelajari bersama,” ujar Wahyu.

Dia menilai kolaborasi lintas komunitas menjadi kekuatan utama dalam membangun budaya riset di Bojonegoro.

“Soal batuan saya tidak begitu tahu, tapi untungnya ada Mas Riza, Andre dan Mas Agni yang bisa berbagi ilmu dan menjelaskan kepada kawan-kawan yang awam,” pungkasnya.

Diskusi kemudian ditutup dengan refleksi bahwa penelitian mengenai Banyu Wedang tidak hanya memperkaya pengetahuan geologi, tetapi juga memperkuat kolaborasi antar komunitas yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian warisan alam dan budaya.

Bagi peserta diskusi, Desa Jari menyimpan potensi besar sebagai laboratorium alam. Keunikan fenomena geologi yang dimilikinya dinilai layak terus diteliti untuk memperkuat posisi Bojonegoro sebagai kawasan yang memiliki kekayaan geologi, sejarah, dan budaya yang saling melengkapi.

Diskusi Ekspedisi Naga Api Volume V menunjukkan bahwa Banyu Wedang bukan hanya menyimpan potensi wisata alam. Kawasan ini juga menawarkan laboratorium terbuka bagi pengembangan ilmu geologi, sejarah, budaya, hingga pendidikan lingkungan.

Desa Jari menjadi contoh bagaimana sebuah bentang alam dapat dimaknai lebih luas daripada sekadar destinasi wisata. Di balik hangatnya mata air, tersimpan cerita panjang tentang proses bumi yang berlangsung selama jutaan tahun. Di balik forum diskusi sederhana, tumbuh kolaborasi lintas komunitas yang berupaya menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kepedulian terhadap warisan alam.

Pada akhirnya, memahami Banyu Wedang bukan semata-mata tentang mengapa airnya terasa hangat. Lebih dari itu, kawasan tersebut mengajarkan bahwa setiap bentang alam memiliki kisah yang layak diteliti, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ekspedisi Naga Api merupakan bagian dari Program Literasi Geopark yang didukung ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan SKK Migas. EMCL mendukung upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro untuk pengembangan geopark sebagai kebanggaan dan identitas daerah.

Tags: Banyu WedangDiskusi Sejarah BojonegoroEkspedisi Naga ApiGeopark BojonegoroRiset dan PenelitianSerial Literasi Geopark
Previous Post

Voynich Manuscript: Kitab yang Menolak Dibaca Selama Enam Abad (Bagian 1)

Next Post

Haul Ki Andong Sari ke-244: Ledok Kulon Kukuhkan Warisan Budaya Lewat Kirab dan Buku Historiografi

BERITA MENARIK LAINNYA

Bojonegoro Institute Ajak Publik Kawal Dana Abadi Bidang Pendidikan demi Transparansi dan Keberlanjutan Manfaat Antar Generasi
Peristiwa

Bojonegoro Institute Ajak Publik Kawal Dana Abadi Bidang Pendidikan demi Transparansi dan Keberlanjutan Manfaat Antar Generasi

02/07/2026
Pelatihan Budidaya Maggot dan Kompos di Bojonegoro Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
Peristiwa

Pelatihan Budidaya Maggot dan Kompos di Bojonegoro Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

01/07/2026
STIT Muhammadiyah Bojonegoro Gelar Seminar Nasional, Tekankan Penguatan Karakter Menuju Indonesia Emas 2045
Peristiwa

STIT Muhammadiyah Bojonegoro Gelar Seminar Nasional, Tekankan Penguatan Karakter Menuju Indonesia Emas 2045

30/06/2026

Anyar Nabs

Voynich Manuscript: Ketika Para Pemecah Sandi Terbaik Dunia Menyerah (Bagian II)

Voynich Manuscript: Ketika Para Pemecah Sandi Terbaik Dunia Menyerah (Bagian II)

06/07/2026
Haul Ki Andong Sari ke-244: Ledok Kulon Kukuhkan Warisan Budaya Lewat Kirab dan Buku Historiografi

Haul Ki Andong Sari ke-244: Ledok Kulon Kukuhkan Warisan Budaya Lewat Kirab dan Buku Historiografi

06/07/2026
Banyu Wedang Bojonegoro Dikaji dari Perspektif Geologi, Sejarah, dan Budaya, Tim Ekspedisi Naga Api Ungkap Potensi Geosite

Banyu Wedang Bojonegoro Dikaji dari Perspektif Geologi, Sejarah, dan Budaya, Tim Ekspedisi Naga Api Ungkap Potensi Geosite

05/07/2026
Voynich Manuscript: Kitab yang Menolak Dibaca Selama Enam Abad (Bagian 1)

Voynich Manuscript: Kitab yang Menolak Dibaca Selama Enam Abad (Bagian 1)

04/07/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: