Kita sedang mengalami kelangkaan orang-orang tua. Bukan tua karena usia. Namun tua karena kewibawaan ilmu. Dulu kita mengenal akademisi yang ketika berbicara, para pengambil kebijakan banyak mendengar daripada menyela.
Orang Jawa punya kebiasaan yang menarik. Kalau ada tamu penting datang ke kampung, bukan hanya tamunya yang diperhatikan. Cara tuan rumah menyambut tamu itu justru sering lebih menarik untuk diamati. Dari situ orang bisa membaca siapa yang sedang membutuhkan siapa.
Begitulah barangkali suasana ketika Menteri Pertanian datang ke UGM. Banyak orang melihatnya sebagai sebuah audiensi biasa. Tetapi, kalau dipandangi agak lama sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, rasanya ada cerita yang lebih dalam daripada sekadar kunjungan seorang menteri ke kampus. Pemerintah agaknya, sedang mencari teman seperjalanan.
Program-program pemerintah yang sekarang bergulir demikian deras. Besarnya seperti air sungai setelah hujan semalaman di lereng Merapi. Air sebanyak itu tentu tidak boleh dibiarkan menggenang. Ia harus segera menemukan saluran-saluran baru agar tidak meluap menjadi banjir. Kampus menjadi salah satu cabang sungai yang kini hendak dialiri.
Maka terdengarlah berbagai tawaran pendanaan riset. Dosen-dosen diminta mengajukan inovasi. Bahkan anggaran untuk setiap proyek hilirisasi disebut dapat diputuskan langsung oleh Menteri Pertanian. Suasana seperti ini tentu menghadirkan harapan yang sudah lama dirindukan dunia akademik.
Selama bertahun-tahun para peneliti sering merasa bekerja sendirian. Hasil riset berhenti menjadi laporan, masuk rak perpustakaan, lalu pelan-pelan ditelan debu.
Baca Selengkapnya: Catatan Pinisepuh Jurnaba, Toto Rahardjo
Kini, Pemerintah datang menawarkan jalan lain. Tetapi, sebagaimana lazimnya setiap perubahan besar, selalu ada syarat yang tidak tertulis. Inovasi yang didanai bukan lagi sekadar inovasi yang lahir dari rasa ingin tahu ilmiah. Ia diharapkan mampu melayani target-target pemerintah. Kampus tidak hanya diminta menemukan sesuatu yang baru, tetapi juga menyelaraskan langkah dengan agenda pembangunan yang sedang dipercepat.
Di sinilah hubungan negara dan universitas menjadi menarik. Universitas sejak awal hidup dari kebebasan berpikir. Negara hidup dari kebutuhan mencapai target. Yang satu mengutamakan proses. Yang lain mengejar hasil. Selama keduanya masih saling mendengarkan, hubungan itu bisa menjadi sangat produktif. Tetapi ketika salah satunya mulai terlalu mendominasi, ilmu pengetahuan perlahan kehilangan ruang bernapas.

Saya membayangkan para dosen yang selama ini akrab dengan laboratorium, sawah percobaan, atau ruang-ruang diskusi, kini harus mulai belajar berbicara dengan bahasa indikator kinerja, target produksi, dan tenggat waktu birokrasi. Tidak mudah. Tetapi memang zaman selalu meminta penyesuaian.
Menteri Pertanian sendiri tampak begitu bersemangat. Barangkali memang begitulah watak seorang pemimpin yang sedang diberi tugas besar. Target-target yang dipasang terdengar sangat tinggi. Bahkan bagi sebagian orang terasa nyaris mustahil bila diukur dengan kemampuan birokrasi, kondisi petani, kualitas data, maupun kenyataan di lapangan.
Namun orang yang sedang berlari memang sering melihat garis finis lebih dekat daripada kenyataannya. Optimisme kadang memang dibutuhkan. Hanya saja optimisme tanpa teman bernama pengalaman sering berubah menjadi ambisi. Sementara pengalaman tanpa optimisme hanya melahirkan pesimisme.
Negara memerlukan keduanya berjalan beriringan. Bagi kampus sendiri, derasnya dukungan dana tentu merupakan kabar baik. Tidak setiap hari penelitian memperoleh perhatian sebesar ini. Tetapi dana, sebesar apa pun, sesungguhnya hanyalah pupuk. Pupuk tidak pernah bisa menggantikan kesuburan tanah.
Yang dibutuhkan perguruan tinggi sesungguhnya adalah ekosistem. Ekosistem yang membuat gagasan berani lahir tanpa takut ditertawakan. Ekosistem yang memungkinkan mahasiswa doktoral datang bukan semata mengejar gelar atau kenaikan pangkat, melainkan benar-benar jatuh cinta pada pengetahuan. Ekosistem yang tidak menghabiskan energi dosen untuk mengurus formulir, laporan administrasi, dan rapat yang tak berujung, tetapi memberi ruang cukup luas untuk berpikir.
Inovasi lahir bukan karena formulir semakin tebal. Ia lahir karena orang-orang cerdas diberi kesempatan cukup lama untuk berpikir, berdialog, gagal, lalu mencoba lagi. Sayangnya, saya belum melihat arah itu benar-benar sedang dibangun. Bahkan kalaupun suatu hari ekosistem ideal itu berhasil kita ciptakan, masih ada satu persoalan yang jauh lebih sulit.
Kita sedang mengalami kelangkaan orang-orang tua. Bukan tua karena usia. Namun karena kewibawaan ilmu. Dulu kita mengenal sejumlah akademisi yang ketika berbicara, para pengambil kebijakan banyak mendengar daripada menyela. Bukan karena jabatan mereka, tapi karena perjalanan intelektualnya membentang begitu panjang.
Mereka memahami laboratorium sekaligus sawah. Mengerti statistik sekaligus watak petani. Mengenal teori sekaligus bau lumpur. Mampu membaca geopolitik dunia tanpa kehilangan pijakan pada kenyataan desa-desa Indonesia.
Kalau mereka berbicara, orang Jawa menyebutnya Idu Geni. Ludah yang keluar seperti api. Bukan karena keras suaranya, namun karena setiap kalimat lahir dari pengetahuan yang matang, pengalaman panjang, dan kebijaksanaan yang diuji waktu. Mereka tidak lahir setiap tahun. Mereka dibentuk oleh puluhan tahun membaca, meneliti, berdebat, gagal, lalu belajar lagi. Mereka bukan sekadar profesor, tetapi guru bangsa.
Nama seperti Habibie atau Sangkot Marzuki sering dikenang bukan hanya karena kecerdasannya. Yang lebih penting, mereka memiliki otoritas moral dan intelektual. Ketika memberi nasihat kepada negara, yang berbicara bukan kepentingan sesaat, melainkan horizon puluhan tahun ke depan. Bangsa yang besar selalu mempunyai orang-orang semacam itu. Mereka tidak selalu berada di depan kamera. Tidak selalu pandai membuat slogan. Tetapi mereka menjadi kompas ketika kapal mulai kehilangan arah.
Kalau kompas itu tidak ada, kita memang akan tetap sibuk. Riset berjalan. Program bergulir. Anggaran terserap. Seminar diselenggarakan. Hilirisasi dicanangkan. Tetapi kesibukan belum tentu berarti perjalanan. Jangan-jangan kita hanya seperti laron pada malam musim hujan. Berputar-putar mengelilingi cahaya yang sama, tampak ramai dari kejauhan, padahal sesungguhnya tidak sedang menuju ke mana-mana.[]







