Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Lintanggiri Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro membuat pagelaran pentas teater di Gedung Tarbiyah lantai 3 pada Selasa malam (7/7/2026). Sebuah pementasan teater yang mengangkat naskah berjudul “Aktor-Aktor yang Tersesat dalam Drama Tanda Tanya” karya Irwan Jamal. Pentas teater tersebut sebagai penutup rangkaian kegiatan menyambut anggota baru UKM Lintanggiri.
Pentas teater Lintanggiri merupakan agenda rutin tahunan. Pagelaran seni pertunjukan kali ini mengangkat tema “16 Tahun Menjaga Panggung Tetap Bernafas”. Tema ini diambil sebagai refleksi perjalanan panjang Lintanggiri dalam berkesenian. Selain itu, Lintanggiri bermaksud mengajak seluruh anggota untuk memahami makna yang terkadung di dalam proses pembelajaran selama ini.
Ketua panitia pentas teater, Rahmatul Humayro, menyampaikan kepada semua yang hadir, khususnya anggota baru, bahwa seluruh rangkaian ini adalah proses untuk saling belajar. Proses ini yang nantinya akan menjadi kesan dan selalu diingat. Hasil bukan satu-satunya tujuan. Pengalaman dalam berproseslah yang akan menjadikan kesan yang indah. Termasuk saat membangun panggung pertunjukan teater.
“Bahwasanya semua itu tidak bisa dilihat dari hasilnya. Namun, sebuah proseslah yang menjadi sangat berkesan. Itulah kesan yang paling indah,” kata Rahma saat memberikan sambutan sebelum penampilan pentas teater.
Selain itu, Ketua UKM Teater Lintanggiri, Chindy Aviesha Charisma menyampaikan hal yang senada. Chindy berharap seluruh anggota baru dan para penonton dapat menikmati hasil belajar dan kerja keras Lintanggiri. Sebuah pagelaran pentas teater yang layak diberi apresiasi.
“Malam ini bukan hanya sebuah pertunjukkan, tetapi malam perayaan perjalanan panjang yang dijaga oleh banyak tangan dan hati,” ucap Chindy saat menyampaikan sambutan.
Pementasan dimulai dengan open mic. Sebuah sarana unjuk bakat bagi anggota yang terlibat. Pentas dibuka dengan satu penampilan menyanyikan lagu oleh anggota. Kemudian, dilanjutkan dengan dua penampilan teater monolog. Sebuah monolog yang dipertunjukkan oleh dua seniman dari Lamongan. Sebuah bentuk dukungan nyata dari para pelaku seni.
Akhirnya, lampu ruangan padam dan penampilan para anggota Lintanggiri telah jatuh tempo. Empat pemeran dengan pakaian layaknya bajak laut muncul di atas panggung. Adegan drama mulai menceritakan kisah mereka. Berbagai konflik dan emosi dimunculkan melalui gerak tubuh, ekspresi dan dialog-dialog kuat.

Naskah “Aktor-Aktor yang Tersesat dalam Drama Tanda Tanya” ialah naskah absurd. Sebuah naskah yang menggambarkan kebingungan manusia dalam menjalani kehidupan. Gambaran yang ditampakkan memalui aktor-aktor yang tampak hilang arah. Berdebat tentang dunia teater, makna kehidupan, identitas diri hingga menyeruaknya berbagai pertanyaan dan ketidakpastian.
Setiap tokoh saling tuding, saling tuduh, saling membantah. Emosi dan pikiran diacak-acak sesuai naskah. Teori dan kutipan para sastrawan dan filsuf saling dilempar dalam dialog. Jatuh berhamburan ke gendang telinga dan menghantam pemikiran para aktor. Konflik semakin parah. Bahkan, drama diakhiri dengan kematian para tokoh yang tak mampu menghadapi kebuntuan.
Ada beberapa pengetahuan yang ditawarkan melalui pementasan drama ini, yaitu tentang sebuah gagasan terkait eksistensialisme, sebuah pencarian jati diri. Terus ada sebuah pertanyaan, bagaimana sesorang menjalani hidup di dalam sebuah kelompok? Bahkan, ketika ada banyak karakter yang ingin mendominasi. Semua karakter seolah ingin berebut menunjukkan egonya masing-masing sebagai bentuk keberadaan.
Okky Dwi Cahyo, pelaku seni peran asal Bojonegoro memberikan apresiasi penuh atas pementasan teater tersebut. Okky mengungkapkan bahwa pertunjukkan malam itu sangat bagus, terutama dalam konteks mahasiswa yang belajar berkesenian di bidang teater. Menurut Okky, para aktor sudah mampu membawakan cerita dari keseluruhan naskah.
“Saya sangat mengapresiasi pertunjukan malam ini. Apalagi yang berperan para mahasiswa semester dua yang sudah mampu menghafal naskah panjang,” kata pria gondrong yang akrap disapa Kochin tersebut.

Namun, dalam proses belajar, bukan berarti pertunjukan sudah sempurna. Pembelajaran dalam seni pertunjukan juga harus memperhatikan hal-hal di luar naskah cerita. Misalnya set panggung, pencahayaan, sound dan lain sebagainya. Seni pertunjukkan tidak berhenti pada para pemeran, tetapi juga seluruh kru yang terlibat. Termasuk yang berada di balik panggung.
Selain sebagai ruang ekspresi dan apresiasi seni, pementasan ini juga sebagai media UKM Lintanggiri berkontribusi kepada masyarakat. Khususnya bidang seni dan hiburan bagi masyarakat Bojonegoro. Sebab, Lintanggiri merupakan wadah pembelajaran yang berada di ruang lingkup civitas akademik. Termasuk juga keterlibatan para anggota, pengurus, alumni, pembina, pegiat kesenian dan pelaku seni itu sendiri serta seluruh pihak yang selalu memberi dukungan.
“Kami menyadari bahwa Teater Lingtanggiri dapat bertahan hingga usia 16 tahun bukan karena satu orang, melainkan karena kebersamaan seluruh keluarga besar Lintanggiri, alumni, pembina dan sahabat-sahabat yang tidak pernah berhenti memberikan dukungan,” ucap Chindy kepada Jurnaba.
Teater Lintanggiri ingin menghadirikan sebuah pertunjukkan yang lebih dari sekadar menghibur, tetapi juga berdampak bagi para penonton. Misalnya, agar penonton turut merenungkan kembali kehidupan di dunia ini. Pentas Teater Lintanggiri diharap dapat meningkatkan eksistensi sebagai wadah pengembangan minat dan bakat di bidang seni. Khususnya para mahasiswa aktif yang penuh optimisme untuk belajar.








