Jejak masa silam diduga kembali muncul dari bentang alam Bojonegoro. Sejumlah keping koin yang diduga merupakan koin kuno asal Tiongkok ditemukan dalam kegiatan eksplorasi sejarah di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, Minggu (19/7/2026).
Temuan tersebut merupakan hasil kolaborasi Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKN-TK) 04 Universitas Bojonegoro (Unigoro), Komunitas Bojonegoro History, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kedung Lantung, serta perwakilan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri).
Penelusuran dilakukan dengan menyusuri kawasan lereng perbukitan, lahan pertanian, hingga aliran sungai yang selama ini diduga menyimpan jejak aktivitas masa lampau.
Eksplorasi itu merupakan bagian dari upaya mengidentifikasi sekaligus mendokumentasikan potensi sejarah dan warisan budaya yang dimiliki Desa Drenges.
Di salah satu titik penyisiran, tim menemukan beberapa keping koin yang tersebar di permukaan tanah. Penelusuran kemudian diperluas hingga akhirnya kembali ditemukan sejumlah koin berbentuk bulat dengan lubang persegi di bagian tengah. Bentuk fisik temuan memiliki karakteristik yang menyerupai mata uang logam Tiongkok kuno.
Koordinator penelusuran, Jenia Lucyta mengatakan, kegiatan ini merupakan kolaborasi antara KKN-TK 04 Universitas Bojonegoro, Komunitas Bojonegoro History, Pokdarwis Kedung Lantung, dan rekan-rekan dari Unugiri. Kegiatan bertujuan mengidentifikasi potensi sejarah budaya di Desa Drenges.
“Saat melanjutkan penelusuran di titik lain, kami kembali menemukan sejumlah koin berbentuk bulat dengan lubang persegi di bagian tengah yang memiliki ciri menyerupai koin kuno Tiongkok,” ujar Jenia.
Dari pengamatan awal, kata dia, permukaan koin telah mengalami oksidasi dan masih memperlihatkan guratan aksara Han. Meski demikian, identitas, asal-usul, maupun usia temuan tersebut belum dapat dipastikan. Seluruhnya masih memerlukan kajian arkeologis dan identifikasi ilmiah oleh instansi yang berwenang.
Seluruh temuan telah didokumentasikan dan akan dikoordinasikan dengan pihak terkait sebagai langkah awal penelitian lebih lanjut. Proses identifikasi diharapkan mampu mengungkap nilai historis benda tersebut sekaligus memperkaya data mengenai jejak interaksi perdagangan dan peradaban yang pernah berkembang di kawasan Bojonegoro.
Sementara itu Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-TK 04 Universitas Bojonegoro, Ichwan Hadi Saputra mengapresiasi sinergi antara mahasiswa, komunitas sejarah, kelompok sadar wisata, dan perguruan tinggi dalam menggali potensi sejarah Desa Drenges.

Menurutnya, kolaborasi lintas elemen menjadi langkah penting untuk memperkuat pendataan tinggalan budaya sekaligus menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian warisan sejarah yang masih tersimpan di lingkungan sekitar.
“Apabila hasil identifikasi nantinya menunjukkan nilai arkeologis yang signifikan, temuan tersebut berpotensi menjadi kepingan penting dalam menyusun kembali mozaik sejarah Bojonegoro, wilayah yang sejak lama berada di persimpangan jalur sungai, perdagangan, dan perjumpaan berbagai kebudayaan”. Pungkas dia.








