Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Relasi Kuasa dan Ketimpangan Sosial dalam Novel Cantik Itu Luka

Anggun Sofia Ardila by Anggun Sofia Ardila
21/07/2026
in Cecurhatan
Relasi Kuasa dan Ketimpangan Sosial dalam Novel Cantik Itu Luka

Analisa Novel Cantik itu Luka

Cantik Itu Luka bukan sekadar novel tentang sejarah atau tragedi keluarga. Eka Kurniawan menghadirkan kisah yang menyindir keras masyarakat yang terlalu lama menormalisasi ketidakadilan. Luka dalam novel ini bukan hanya milik Dewi Ayu, tapi warisan dari kolonialisme, patriarki, dan kekuasaan.

Melalui perspektif sosiologi feminisme, Dewi Ayu dan perempuan-perempuan dalam novel ini menjadi gambaran bagaimana perempuan sering kali kehilangan hak atas tubuh dan hidupnya sendiri akibat sistem patriarki. Kritik itu terasa sangat tajam dalam kalimat Eka di buku ini:

“Ada dua jenis perempuan yang bisa dicintai seorang lelaki: pertama perempuan yang dicintai untuk disayangi, kedua perempuan yang dicintai untuk disetubuhi.”

Kutipan tersebut bukanlah bentuk pelecehan terhadap perempuan, melainkan satire atas realitas sosial yang menempatkan perempuan hanya dalam dua posisi: dihormati atau dijadikan objek seksual.

Ironisnya, kritik itu masih relevan hingga hari ini. Berbagai kasus kekerasan seksual, victim blaming, eksploitasi tubuh perempuan di media, hingga kecenderungan menilai perempuan dari penampilan dibandingkan kapasitasnya menunjukkan bahwa cara pandang tersebut masih mengakar.

Jika dibaca melalui teori konflik Karl Marx, penderitaan dalam novel ini lahir dari relasi kuasa yang timpang. Eka Kurniawan menggambarkan bagaimana kaum pribumi lebih dulu ditindas oleh para raja, lalu dieksploitasi oleh kolonial Belanda. Petani dipaksa bekerja, menyerahkan hasil panen, bahkan merendahkan martabatnya hanya demi menghormati penjajah.

Dari ketidakadilan itulah lahir mimpi tentang masyarakat yang lebih setara. Hingga kini, bentuk penjajahan berubah, tetapi ketimpangan tetap nyata. Mereka yang bekerja paling keras sering kali menikmati hasil paling sedikit, sementara kekuasaan masih berpihak kepada mereka yang telah memiliki privilese.

Melalui teori hegemoni Antonio Gramsci, novel ini menunjukkan bahwa penindasan bertahan bukan karena kekerasan fisik, melainkan karena kelumrahan yang dikonstruksi. Patriarki dan ketimpangan kuasa terus hidup karena diwariskan sebagai kebudayaan, bukan lagi digugat sebagai ketidakadilan.

Bagi saya, Cantik Itu Luka adalah bukti bahwa luka sosial tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan kasat mata. Ia hidup dalam perlakuan yang merendahkan martabat, yang langgeng karena telanjur dianggap biasa. Siapa pun bisa menjadi korban dari cara pandang yang tidak menghormati sesamanya, terutama perempuan.

Dan justru ketika ketidakadilan tidak lagi dianggap sebagai masalah, di situlah ia menjadi semakin berbahaya. Sebagai perempuan, saya memaknai novel ini sebagai alarm untuk tidak pernah berhenti mempertanyakan hal-hal yang selama ini diterima begitu saja, padahal sesungguhnya melukai kemanusiaan.

 

Tags: Cantik Itu LukaKajian Sastra
Previous Post

Mahasiswa KKN Unigoro dan Bojonegoro History Temukan Koin Kuno Tiongkok di Lereng Desa Drenges

Next Post

Menyusuri Jejak Alam: Mahasiswa KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Soko

BERITA MENARIK LAINNYA

Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor
Cecurhatan

Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor

15/10/2026
Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok
Cecurhatan

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026
Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis
Cecurhatan

Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis

12/10/2026

Anyar Nabs

Dari Api Abadi hingga Doa Bersama, Merawat Kebersamaan di HJB 349

Dari Api Abadi hingga Doa Bersama, Merawat Kebersamaan di HJB 349

20/10/2026
Skill Saja Tak Cukup, EMCL Gembleng Etos dan Mental Kerja Para Pelajar dan Mahasiswa Magang

Skill Saja Tak Cukup, EMCL Gembleng Etos dan Mental Kerja Para Pelajar dan Mahasiswa Magang

19/10/2026
Api Abadi Singgah di Trucuk, Kali Pertama dalam Sejarah Kirab Hari Jadi Bojonegoro

Api Abadi Singgah di Trucuk, Kali Pertama dalam Sejarah Kirab Hari Jadi Bojonegoro

18/10/2026
Kirab Api Abadi: Singgah ke Bengawan, Merawat Keseimbangan Pembangunan

Kirab Api Abadi: Singgah ke Bengawan, Merawat Keseimbangan Pembangunan

17/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: