Masyarakat Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, menargetkan desanya menjadi penggerak pengelolaan sampah hingga tingkat kecamatan. Tekad itu lahir dari kesadaran bahwa persoalan sampah tak lagi bisa ditunda, terutama karena limbah rumah tangga yang kerap bermuara ke Bengawan Solo dan mengganggu lingkungan desa.
“Kami bertekad bekerja bersama, bergotong royong mengelola sampah di desa dan menjadikan Bengawan Solo bersih,” ujar Sekretaris Desa Sudu, Ispamilih, dalam Sosialisasi Program Kampanye Praktik Baik Pengelolaan Sampah di Sekolah dan Komunitas Aliran Sungai di Balai Desa Sudu pada (21/7/2026).
Bagi Ispamilih, sampah bukan semata persoalan lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi. Selain sampah rumah tangga, ia menilai limbah dari aktivitas industri di sekitar desa memiliki potensi untuk dikelola menjadi sumber nilai tambah apabila ditangani secara sistematis.
Optimisme itu disampaikan di hadapan Camat Gayam, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kepala dusun, ketua RT, PKK, Karang Taruna, serta tokoh masyarakat. Langkah tersebut mendapat dukungan melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) yang bermitra dengan Yayasan Daya Tumbuh Indonesia (YDTI).
Camat Gayam, Erna Zulaikah, menyambut penuh inisiatif tersebut. Menurut mantan pejabat Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bojonegoro itu, Desa Sudu memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kecamatan Gayam.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada EMCL, pemerintah desa, masyarakat Sudu, dan YDTI. Semoga program ini menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Kecamatan Gayam,” katanya.
Erna menambahkan, pengelolaan sampah telah menjadi salah satu program prioritas Kecamatan Gayam. Tantangan terbesar, menurutnya, justru berada pada tahap paling awal, yakni pemilahan sampah dari rumah tangga dan sekolah.
Ia berharap gerakan tersebut berkembang dari kebiasaan memilah sampah, pembentukan bank sampah, hingga pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Melalui sistem itu, sampah bernilai ekonomi dapat didaur ulang, sampah organik diolah menjadi kompos maupun maggot, sementara hanya sampah residu yang dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Dengan begitu, yang berakhir di TPA hanyalah sampah residu,” ujarnya.
Perwakilan EMCL, Almaliki Ukay Sukaya Subqy, menilai kesadaran warga merupakan fondasi utama keberhasilan program. Baginya, inisiatif yang lahir dari masyarakat jauh lebih berpeluang bertahan dibanding program yang hanya bergantung pada pendampingan.
“Kesadaran, kekompakan, dan saling mendukung antara masyarakat serta pemerintah desa menjadi kunci keberhasilan program ini,” tuturnya.
Sosialisasi ditutup dengan diskusi dan pembentukan tim pelaksana pembangunan TPS3R. Suasana balai desa pun bergemuruh ketika seluruh peserta bersama-sama meneriakkan komitmen yang ingin mereka wujudkan: “Desa Sudu! Bersih, Bersih! Sehat!”
Di Desa Sudu, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai urusan membuang limbah. Ia mulai menjelma menjadi gerakan bersama untuk merawat Bengawan Solo, memperkuat gotong royong, sekaligus membangun ekonomi sirkular dari tingkat desa.








