Masa depan WKP Gunung Pandan barangkali bukan sekadar soal seberapa ukuran panas bumi. Namun untuk siapa panas itu bekerja: untuk tenaga besar berskala industri, atau penyembuh tubuh berskala manusiawi.
Ada gunung yang tidak lagi meletus, tapi belum benar-benar diam. Gunung Pandan berdiri tenang di perbatasan Bojonegoro, Nganjuk, dan Madiun — puncak tertinggi Pegunungan Kendeng Jawa, 897 meter di atas permukaan laut, tempat kabut pagi sering berbaring seperti negeri di atas awan.
Ia lahir jutaan tahun silam, di masa ambang Pleistosen ketika magma masih aktif. Kini gunung itu dorman, tetapi panas belum sepenuhnya hilang. Di sanalah mata air panas dan endapan travertine muncul. Sebuah jejak dari sistem hidrotermal yang pernah dan masih bekerja di tubuh gunung.
Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya tidak: seberapa panas sebenarnya bisikan itu, dan untuk apa ia pantas dipakai? Ilmu pengetahuan, ternyata, juga bisa ragu-ragu. Para peneliti yang turun ke Gunung Pandan membawa pulang angka berbeda-beda, tergantung dari mana mereka mengukurnya.
Tim Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Jogyakarta, dalam kajian yang terbit 2018 di Jurnal Geosains dan Teknologi terbitan UNDIP, memakai geotermometer silika, mentaksir suhu reservoir Gunung Pandan sebesar 153 hingga 222 derajat celsius.
Tim dari Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), dalam kajian tahun 2018 di jurnal Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi (ReTII), memakai metode geotermometer Na-K-Mg — hasilnya, suhu diperkirakan berkisar 160 hingga 190 derajat Celsius.
Tapi karena fluida panas buminya bercampur dengan travertine, tim yang sama mengoreksi hitungannya memakai metode lain, Na-K-Ca. Hasilnya turun drastis: hanya 90 derajat, dan inilah angka yang mereka simpulkan sebagai suhu reservoir paling mendekati kenyataan.
Dalam bahasa industri, 90 derajat celsius masuk kategori panas bumi bersuhu rendah. Terlalu dingin memutar turbin generator secara ekonomis. Tapi karena tak ada satu pun sumur eksplorasi yang pernah ditembuskan ke jantung Gunung Pandan, semua angka itu (90, 160, 222) tetaplah tebakan, bukan kepastian.
Di sinilah negara masuk, dengan caranya sendiri. Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Pandan sudah ditetapkan sejak 2014, mencakup hampir 20 ribu hektare lintas tiga kabupaten. Potensinya ditulis di atas kertas: 60 megawatt, berlabel terduga.
Kategori paling awal dalam tangga klasifikasi sumber daya panas bumi, disusun dari data permukaan saja: mata air panas, kolam lumpur, dan pembacaan magnetik. Belum ada satu sumur pun yang membuktikannya.
Tahun 2026 ini, Gunung Pandan kembali masuk daftar lelang, satu dari 14 Wilayah Kerja Panas Bumi yang ditawarkan Kementerian ESDM kepada para investor. Indonesia memang menyimpan sekitar 40 persen potensi panas bumi global, dan baru memanfaatkan sepersepuluhnya.
Tapi lelang bukan jaminan. Hanya undangan bagi investor untuk menanggung risiko: menggali, membuktikan, lalu baru tahu — apakah 90 derajat yang benar, atau 190. Negara, dengan kata lain, sering bertaruh dulu di atas kemungkinan. Kepastian menyusul belakangan, itu pun kalau beruntung.
Jika ukuran yang benar adalah 90 derajat celcius, maka Gunung Pandan bukan raksasa energi seperti yang sering digambarkan orang. Ia sisa bara tua, residu yang menghangat dalam skala manusiawi. Tempat untuk pemandian air panas, dan penyembuhan terapi.
Namun jika ukuran yang benar adalah 190 atau 222 derajat celcius, ceritanya tentu berbeda. Mungkin suatu hari Gunung Pandan adalah raksasa energi yang terabaikan. Kelak ia benar-benar menyalakan lampu-lampu di tiga kabupaten yang mengelilinginya.
Di antara keduanya, masa depan WKP Gunung Pandan barangkali bukan sekadar soal seberapa ukuran panas bumi. Namun untuk siapa panas itu bekerja: untuk tenaga besar berskala industri, atau penyembuh tubuh berskala manusiawi.








