Pembangunan tak selalu dimulai dari alat berat. Di Desa Leran dan Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, ia berangkat dari musyawarah warga yang sama-sama menyadari satu hal sederhana: jalan yang baik membuka banyak peluang hidup.
Melalui Program Peningkatan Akses Ekonomi dengan Penyediaan Infrastruktur Publik yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas, masyarakat di sekitar wilayah operasi Lapangan Kedung Keris bersiap membangun jalan lingkungan secara gotong royong. Program ini bukan sekadar menghadirkan infrastruktur baru, tetapi juga menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan.
Sejak tahap perencanaan, warga dilibatkan untuk memetakan kebutuhan, menyusun prioritas, hingga membentuk tim pelaksana. Mereka pula yang nantinya mengawal proses pembangunan melalui mekanisme pengawasan bersama agar hasilnya benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Di Desa Leran, pembangunan jalan lingkungan sepanjang 400 meter dengan lebar 3,5 meter diproyeksikan memberi manfaat langsung bagi lebih dari 250 warga. Kepala Desa Leran, Mutabi’in, mengatakan pemerintah desa siap memastikan koordinasi antara masyarakat dan tim pelaksana berjalan dengan baik.
“Kami menyambut baik program ini dan siap memfasilitasi koordinasi antara warga dengan tim pelaksana di lapangan. Pemantauan berkala akan dilakukan agar kualitas fisik bangunan tetap optimal,” ujarnya.
Sementara itu, sekitar 200 warga Desa Sukoharjo juga akan memperoleh manfaat dari pembangunan jalan lingkungan sepanjang 450 meter dengan lebar 3 meter. Infrastruktur tersebut diharapkan memperlancar mobilitas sehari-hari sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Ketua Tim Pelaksana Kegiatan (Timlak) Imam Safi’i bersama Sekretaris Timlak Sulastri menilai pembangunan jalan merupakan kebutuhan yang telah lama dirasakan warga.
“Infrastruktur ini sangat dibutuhkan untuk mempermudah kegiatan ekonomi warga. Kami berharap pengerjaannya tepat sasaran serta memberikan manfaat jangka panjang,” kata Sulastri.
Pemerintah Desa Sukoharjo pun berkomitmen menggerakkan partisipasi masyarakat agar pelaksanaan pembangunan berlangsung secara terbuka dan akuntabel.
Bagi EMCL, pembangunan infrastruktur berbasis komunitas menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pemerataan pembangunan di Kabupaten Bojonegoro.
Perwakilan EMCL, Slamet Rijadi, berharap jalan yang dibangun mampu menjadi pengungkit kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi Lapangan Kedung Keris dan Banyu Urip.
“Semoga program ini bisa menjadi daya dongkrak bagi peningkatan taraf hidup masyarakat di sekitar wilayah operasi,” tuturnya.
Agar pembangunan berjalan sesuai standar, EMCL menggandeng Lembaga Studi Penguatan Masyarakat (LSPM) sebagai mitra pendamping. Direktur LSPM, Maksum Rozi, menjelaskan bahwa warga yang tergabung dalam tim pelaksana akan memperoleh pelatihan mengenai penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB), desain teknis, hingga tata kelola administrasi proyek.
Pembekalan tersebut bertujuan menjaga kualitas pembangunan sekaligus memperkuat transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran. Warga juga dibekali pemahaman mengenai tahapan pekerjaan, mekanisme pengadaan material, serta sistem pengawasan mutu yang dilakukan secara partisipatif.
Program peningkatan akses ekonomi ini tidak berhenti di Kalitidu. Secara bertahap, pelaksanaannya juga diperluas ke Kecamatan Ngasem, meliputi Desa Jampet, Jelu, Wadang, dan Bareng yang berada di sepanjang jalur pipa Lapangan Banyu Urip dan Kedung Keris.
Di tengah geliat industri hulu migas, pembangunan jalan lingkungan menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari besarnya investasi, tetapi juga dari semakin mudahnya warga menuju sawah, mengangkut hasil panen, mengakses sekolah, maupun menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari. Ketika infrastruktur dibangun bersama, manfaatnya pun tumbuh bersama.








