Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Spirit Mbah Wahab Hasbullah: Sarekat Islam, Komite Hijaz, dan Refleksi Muktamar Hari Ini

Moh. Bahrul Hikam by Moh. Bahrul Hikam
05/08/2026
in Figur
Spirit Mbah Wahab Hasbullah: Sarekat Islam, Komite Hijaz, dan Refleksi Muktamar Hari Ini

Mbah Wahab dan Bung Karno (JNB)

Dari Mbah Wahab Hasbullah kita belajar: sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang hanya menonton dari tepi. Namun oleh mereka yang berani terjun ke ruang-ruang interaksi. 

Sosok Mbah Wahab tidak berangkat dari ruang yang hampa, beliau lahir dari ruang interaksi-interaksi yang membentuk karakter dan pemikiran beliau. Dialektika pemikiran, keberanian bertindak, serta keterbukaannya terhadap arus zaman tidak tumbuh dalam keterasingan.

Ia ditempa lewat gelombang dinamika sosial, tradisi keilmuan pesantren yang mengakar, hingga panggung pergerakan nasional yang amat pekat. Dari rahim interaksi itulah, K.H. Abdul Wahab Hasbullah tumbuh sebagai sosok penggerak yang piawai membaca tanda-tanda zaman.

Jejak perjumpaan Mbah Wahab dengan pergerakan modern sejatinya makin mengkristal tatkala beliau bersinggungan erat dengan Sarekat Islam (SI). Bahkan, kapasitas kepemimpinan dan insting organisatoris beliau telah teruji jauh sebelum kembali ke tanah air.

Saat menimba ilmu di Tanah Suci, Mbah Wahab bersama para mukimin Nusantara turut menginisiasi lahirnya Sarekat Islam Cabang Mekkah; sebuah manuver pergerakan yang terbilang amat berani di bawah tatapan ketat otoritas lokal maupun intelijen kolonial kala itu.

Sekembalinya ke Tanah Jawa, Mbah Wahab tidak mengurung diri dalam tembok pesantren. Beliau melangkah keluar dan bergabung ke dalam kepengurusan SI Cabang Surabaya, sebuah kawah candradimuka pergerakan yang kala itu dipimpin oleh H.O.S. Tjokroaminoto.

Baca Juga: Saat Mbah Wahab Hasbullah Sowan ke Poros Padangan 

Di dalam lingkungan SI, Mbah Wahab tidak hanya belajar tentang pengorganisasian massa dan retorika politik, tetapi juga aktif mengarsiteki ruang-ruang diskusi kritis. Di rumah kos Tjokroaminoto yang legendaris itu, Mbah Wahab berinteraksi dan bertukar pikiran dengan pelbagai elemen pemuda lintas ideologi—mulai dari Soekarno muda, Musso, hingga Semaoen. Pengalaman di Sarekat Islam inilah yang makin mengasah keluwesan diplomasi serta cara pandang beliau yang tidak rigid dalam memandang perbedaan spektrum politik.

Namun, keterlibatan di SI sekaligus membentangkan horizon baru bagi Mbah Wahab: pentingnya memiliki wadah gerakan yang berakar kuat pada tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jama’ah. Ketika dinamika internal SI mulai terfragmentasi dan mengalami pergeseran ideologis, Mbah Wahab tidak memilih surut atau menjadi apatis. Beliau justru mengolah pengalaman taktis di Sarekat Islam tersebut menjadi pondasi mendirikan rintisan-rintisan organisasi yang independen, hingga kelak melahirkan Nahdlatul Ulama.

Keberanian diplomasi Mbah Wahab kemudian menemukan wujud monumentalnya ketika beliau mendirikan Komite Hijaz pada 1925. Di tengah hegemoni dan gejolak politik di Tanah Suci yang mengancam keberlangsungan tradisi mazhab serta cagar budaya Islam, Mbah Wahab pasang badan menjadi utusan diplomatik. Beliau melintasi samudera demi mengetuk pintu Raja Ibn Saud, membawa suara dan aspirasi ulama Nusantara dengan keperkasaan argumen yang berkelas internasional.

Langkah berani dalam Komite Hijaz tersebut membuktikan bahwa kapasitas Mbah Wahab tidak sekadar berskala lokal atau regional, melainkan bertaraf dunia. Beliau menunjukkan bahwa pesantren bukan sekadar tempat mengaji kitab kuning di sudut desa, melainkan laboratorium yang melahirkan diplomat ulung yang disegani oleh para pemimpin global.

Menjelang perhelatan Muktamar, meneladani Mbah Wahab jelas bukan sekadar memanggil kembali nostalgia sejarah atau merawat hafalan bait-bait jasa para pendiri. Lebih jauh dari itu, ini adalah pemanggilan kesadaran: bagaimana organisasi dan warga hari ini memposisikan diri di tengah pusaran perubahan yang makin presisi dan cepat.

Mbah Wahab telah memberi cetak biru (blueprint) nyata. Beliau tidak pernah membiarkan dirinya pasif di hadapan krisis. Ketika arus kebudayaan dan dinamika intelektual butuh wadah, beliau membidani Taswirul Afkar. Ketika kemandirian ekonomi warga terancam, lahir Nahdlatut Tujjar. Dan ketika kesadaran berbangsa butuh pemantik, Nahdlatul Wathan digelorakan. Semua lahir dari respons atas kenyataan yang empiris, bukan sekadar imajinasi di atas kertas.

Jika Bung Karno pernah berorasi membutuhkan sepuluh pemuda untuk mengguncang dunia, Mbah Wahab justru mengajarkan kelakar taktis yang tak kalah dahsyat: beliau cukup membutuhkan satu orang sekretaris untuk mengubah dunia—asalkan sang sekretaris setangguh K.H. Bisri Syansuri, sosok organisatoris ulung yang siap menerjemahkan gagasan-gagasan penerobos Mbah Wahab menjadi kerja-kerja struktural yang presisi dan melompati zamannya.

Gaya kepemimpinan Mbah Wahab adalah perpaduan unik antara kedalaman spiritual, keluwesan diplomasi, dan keberanian mengambil risiko. Beliau mampu berdiri kokoh di atas fondasi tradisi turats, namun amat lincah bertukar gagasan di panggung keagamaan global maupun nasional.

Dalam konteks Muktamar hari ini—di saat ruang publik sering kali dipadati riuh jargon politik ketimbang bobot gagasan—warisan Mbah Wahab menjadi pengingat yang cukup menampar: bahwa keteguhan nilai tidak pernah bertentangan dengan inovasi strategi.

Muktamar hari ini seyogianya tidak mengerdilkan kebesaran gagasan Mbah Wahab menjadi sebatas kontestasi perebutan kursi pimpinan atau pembagian porsi kekuasaan semata. Meneladani Mbah Wahab berarti berani merumuskan kembali gagasan-gagasan besar yang berani, membumi, dan berdampak langsung pada kemaslahatan umat serta masa depan peradaban.

Di tengah godaan prasmanan kekuasaan dan kecenderungan terjebak dalam pragmatisme jangka pendek, meneladani Mbah Wahab berarti mengembalikan spirit keberanian untuk berijtihad sosial. Kita diajak untuk tidak ragu melompati benteng kenyamanan, merobohkan sekat-sekat kebiasaan yang mulai lapuk, dan memastikan bahwa arah gerak jam’iyah tetap berpihak pada kemanusiaan serta keadilan sosial.

Sebab dari Mbah Wahab kita belajar: sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang hanya menonton dari tepi, melainkan oleh mereka yang berani terjun ke dalam ruang-ruang interaksi dan membentuk arah zaman itu sendiri.

Tags: KH Wahab HasbullahMeneladani Mbah Wahab Hasbullah
Previous Post

Franz Beckenbauer dan Seni Mengelola Ego di Ruang Ganti

BERITA MENARIK LAINNYA

Franz Beckenbauer dan Seni Mengelola Ego di Ruang Ganti
Figur

Franz Beckenbauer dan Seni Mengelola Ego di Ruang Ganti

04/08/2026
Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme
Figur

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

02/06/2026
Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno
Figur

Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

01/06/2026

Anyar Nabs

Spirit Mbah Wahab Hasbullah: Sarekat Islam, Komite Hijaz, dan Refleksi Muktamar Hari Ini

Spirit Mbah Wahab Hasbullah: Sarekat Islam, Komite Hijaz, dan Refleksi Muktamar Hari Ini

05/08/2026
Franz Beckenbauer dan Seni Mengelola Ego di Ruang Ganti

Franz Beckenbauer dan Seni Mengelola Ego di Ruang Ganti

04/08/2026
Mekanisme Kepiting: Merawat Pesisir, Menjaga Keberlanjutan

Mekanisme Kepiting: Merawat Pesisir, Menjaga Keberlanjutan

03/08/2026
Amodei Bersaudara: Kisah di Balik Kelahiran Claude by Anthropic

Amodei Bersaudara: Kisah di Balik Kelahiran Claude by Anthropic

02/08/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: