Semakin banyak orang bersekolah tinggi, semakin sedikit orang yang mau memikirkan kemungkinan-kemungkinan baru. Ilmu hanya menjadi gudang definisi.
Sore itu hujan baru saja berhenti. Daun-daun mangga di halaman masih meneteskan air satu-satu, seperti orang tua yang sedang mengingat masa mudanya. Di dapur, aroma kopi tubruk bercampur dengan bau tempe goreng yang baru diangkat dari wajan. Rumah menjadi begitu akrab. Tidak ada diskusi ilmiah. Tidak ada seminar. Tidak ada istilah-istilah asing yang membuat orang harus membuka kamus. Yang ada hanya beberapa orang duduk lesehan, secangkir kopi, dan obrolan yang, seperti lazimnya di kampung-kampung Jawa, sering kali justru lebih dalam daripada ruang kuliah.
“Aku kok makin yakin,” kata seorang kawan sambil meniup kopinya, “filsafat itu penting.” Yang lain mengangguk pelan. “Tapi yang lebih penting lagi, bagaimana filsafat itu membuat kita bisa mencari jalan lain. Solusi lain. Pilihan lain. Jangan berhenti hanya pada kepandaian menjelaskan persoalan.” Kami semua diam.
Memang begitulah kadang nasib ilmu. Ia pandai membedah penyakit, tetapi lupa menanyakan bagaimana pasien bisa pulang dengan selamat. Ia lihai menguraikan teori, tetapi sering kali kikuk ketika berhadapan dengan dapur yang harus tetap mengepul setiap pagi. Barangkali di situlah letak ironi zaman sekarang.
Baca Juga: Kumpulan Catatan Pinisepuh Jurnaba, Toto Rahardjo
Semakin banyak orang bersekolah tinggi, semakin sedikit orang yang mau memikirkan kemungkinan-kemungkinan baru. Ilmu berubah menjadi gudang definisi. Padahal hidup tidak pernah selesai hanya dengan definisi. Hidup selalu meminta keputusan.
Ibu saya dulu tidak pernah belajar filsafat. Bahkan mungkin tidak mengenal nama Aristoteles atau Kant. Tetapi setiap kali kami mengeluh karena hidup terasa berat, beliau hanya berkata pelan sambil terus mengiris bawang. “Le, hidup itu ora kanggo golek penak.” Hidup bukan untuk mencari enak. Kalimat itu baru saya pahami puluhan tahun kemudian.
Sekarang hampir semua orang mengejar kebahagiaan. Buku-buku motivasi menjual resep bahagia. Media sosial memamerkan keluarga bahagia. Iklan menjanjikan hidup bahagia. Seolah-olah penderitaan adalah kegagalan yang harus segera dihapus. Padahal justru kesedihanlah yang mengajari manusia mengenali kebahagiaan.
Kalau lidah kita tidak pernah mengecap rasa pahit, bagaimana mungkin kita tahu manisnya gula? Kalau badan kita tidak pernah pegal karena bekerja, bagaimana mungkin kita mengerti nikmatnya tidur? Kalau hati kita tidak pernah patah, bagaimana mungkin kita memahami arti setia? Begitulah hidup bekerja. Ia tidak pernah mengajarkan sesuatu secara cuma-cuma.
Saya kadang berpikir, mengapa orang bisa begitu mencintai pasangan hidupnya? Barangkali bukan karena setiap hari mereka tertawa bersama. Melainkan karena, di suatu malam yang sunyi, mereka pernah membayangkan betapa sepinya rumah ini bila suatu saat salah satunya pergi.
Cinta ternyata bukan hanya soal memiliki. Cinta adalah kemampuan membayangkan kehilangan. Orang yang tidak pernah mau membayangkan kehilangan biasanya juga tidak sungguh-sungguh menghargai keberadaan. Begitu pula bangsa.
Nasionalisme bukan sekadar hafal lagu kebangsaan atau berdiri tegak saat bendera dinaikkan. Nasionalisme lahir ketika seseorang sanggup membayangkan bagaimana hancurnya hidup bersama jika tanah air ini kehilangan martabatnya.
Kemakmuran sebuah bangsa tidak pernah lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari kerja keras yang panjang, dari pengorbanan yang sering kali tidak tercatat, dari orang-orang biasa yang rela berkeringat tanpa pernah masuk berita. Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang dikenang. Tetapi peradaban sesungguhnya dibangun oleh mereka yang tidak pernah disebut.
Sekarang kita hidup pada zaman yang sangat pandai membuat manusia nyaman. Apa saja tersedia. Makanan datang cukup dengan menyentuh layar. Transportasi tinggal memanggil aplikasi. Belanja tanpa keluar rumah. Semua serba mudah.
Tetapi justru ketika semuanya mudah, ada sesuatu yang diam-diam hilang. Kemampuan bertanya. Kemampuan memprotes. Kemampuan merasa ada yang tidak beres. Bukankah aneh? Ketika kebutuhan dasar dipenuhi, orang sering kali berhenti mempersoalkan siapa yang menguasai sumber dayanya. Ketika hidup terasa nyaman, banyak orang lupa bertanya apakah kenyamanan itu dibangun di atas keadilan.
Dalam kritik sosial modern, ada gagasan bahwa masyarakat dapat ditata sedemikian rupa sehingga orang merasa cukup puas untuk tidak lagi mempertanyakan struktur yang menopang kehidupan mereka. Ketika kebutuhan terpenuhi, ruang untuk mempertanyakan ketimpangan bisa menyempit.
Persoalannya bukan semata kenyamanan itu sendiri, melainkan apakah kenyamanan tersebut membuat daya kritis ikut melemah. Mungkin itu sebabnya banyak orang pintar justru tidak lagi gelisah. Padahal kegelisahan intelektual itulah yang dahulu melahirkan begitu banyak perubahan.
Saya teringat seorang dosen tua. Gajinya sekarang jauh lebih baik dibanding ketika beliau masih muda. Prosedur administrasi lebih sederhana. Fasilitas kampus semakin lengkap. Tetapi beliau justru berkata lirih,
“Yang saya takutkan bukan miskin.”
“Lalu?”
“Saya takut kehilangan keberanian berpikir.” Kalimat itu membuat ruang dosen tiba-tiba sunyi. Memang benar. Kenyamanan bisa menjadi hadiah. Tetapi juga bisa menjadi obat bius.
Kalau seorang intelektual terlalu nyaman, ia mungkin tidak lagi merasa perlu mengganggu kemapanan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak enak didengar. Padahal sejarah ilmu pengetahuan bergerak justru karena keberanian mempertanyakan hal-hal yang dianggap biasa.
Hal lain yang membuat saya sering termenung adalah pendidikan kita. Anak-anak sekarang diajari menjadi warga dunia. Tidak ada yang salah dengan belajar menghargai sesama manusia di mana pun mereka berada.
Namun persoalannya muncul ketika identitas global dipahami seolah harus menghapus kedekatan dengan tanah tempat seseorang tumbuh. Padahal pohon yang akarnya dicabut tidak akan menjadi pohon dunia. Ia hanya menjadi kayu yang hanyut.
Kita bisa membuka jendela selebar-lebarnya kepada dunia, tetapi jangan sampai lupa di mana halaman rumah kita berada. Mengenal dunia tidak harus berarti melupakan kampung.
Justru seseorang yang mengenal akar budayanya biasanya lebih siap berdialog dengan dunia, karena ia tahu dari mana ia berbicara. Barangkali yang kita perlukan bukan memilih antara nasionalisme dan keterbukaan, melainkan menjaga agar keduanya saling menguatkan.
Menjelang malam, obrolan kembali ringan. Seseorang tiba-tiba bercanda. “Kalau mata dan hati sudah tidak bisa melihat cantiknya Dian Sastro, berarti ada yang salah.” Semua tertawa. Bukan karena kecantikannya sedang dibahas.
Tetapi karena guyon itu mengingatkan kami bahwa manusia yang kehilangan kemampuan menikmati hal-hal sederhana sebenarnya sedang kehilangan sebagian kemanusiaannya. Yang berbahaya bukan ketika rambut mulai memutih. Yang berbahaya adalah ketika hati mulai kehilangan rasa. Tidak lagi bisa kagum. Tidak lagi bisa iba. Tidak lagi bisa malu. Tidak lagi bisa bersyukur.
Di kampung saya ada pepatah Jawa yang selalu membuat saya tersenyum. “Wong sing merasa paling waras biasane malah edan tenan.” Orang yang merasa dirinya paling waras sering kali justru sedang kehilangan kewarasan.
Pepatah itu bukan ajakan untuk meragukan ilmu atau pengalaman, melainkan pengingat agar kita rendah hati. Sebab manusia mudah sekali jatuh pada keyakinan bahwa pandangannyalah yang paling benar. Ketika itu terjadi, telinga perlahan menutup, dan hati berhenti belajar.
Mungkin itulah sebabnya filsafat tetap penting. Bukan karena ia membuat kita merasa paling pintar. Melainkan karena ia terus mengingatkan bahwa setiap jawaban selalu membuka kemungkinan pertanyaan baru. Dan memang di situlah hidup menemukan martabatnya. Bukan pada saat semua persoalan selesai. Melainkan ketika manusia tidak pernah berhenti mencari jalan yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih bermakna—meskipun jalan itu sering kali harus dilalui dengan kaki yang lecet, hati yang letih, dan lidah yang masih sanggup membedakan pahitnya empedu dari manisnya gula.[]








