Tidak ada tokoh yang lebih terkenal kegilaannya selain Qais dari kisah Layla dan Majnun. Khususnya dalam perpustakaan sastra Timur. Qais mencintai Layla. Begitu dalam dan penuh. Hingga nama Qais sendiri tenggelam dan tergantikan oleh julukan Majnun: orang gila.
Qais si Majnun tidak sekadar kehilangan Layla. Dia seolah kehilangan dirinya sendiri. Dalam kisah Nizami Ganjavi, cinta Majnun kepada Layla berhadapan dengan konstruksi sosial: adat dan keluarga. Cinta yang semestinya sederhana, berubah menjadi jalan panjang menuju kesepian.
Majnun meninggalkan kehidupan sosialnya. Dia memilih pergi dan menyendiri, menghabiskan waktu di alam liar dan bicara sendiri. Terkadang, mengajak ngobrol binatang atau bintang-bintang. Bercengkrama dengan pepohonan dan bebatuan. Dunia yang hanya dapat dia pahami.
Bagi orang lain, Majnun dianggap sudah gila. Tetapi bagi Majnun, dunia orang lainlah yang tidak lagi masuk akal. Itu yang menjadikan kisah Majnun sungguh menarik. Seolah, cinta membuat seseorang tidak mampu melihat dunia lebih rasional. Justru sebaliknya, cinta merampas isi dunia. Menggantinya dengan satu sosok. Satu wajah. Satu perkara. Satu fenomena.
Dunia yang semula luas mendadak susut dan menyempit. Semua dunia Majnun menjadi Layla. Dan ketika Layla tidak ada, yang tersisa hanyalah ruang kosong melompong. Ruang seluas dunia yang riuh, tetapi begitu sepi tanpa bunyi.
Kita sering menggunakan bahasa puitis untuk menjelaskan cinta. Jantung berdebar. Sulit tidur dan makan. Susah fokus dan berkonsentrasi. Isi kepala hanya dipenuhi satu nama atau satu wajah. Suatu tanda dari sesuatu yang sebenarnya sederhana. Dalam bahasa sehari-hari, kita menyebutnya ‘jatuh cinta’.
Akan tetapi, psikologi dan ilmu saraf melihatnya sebagai perubahan yang jauh lebih kompleks. Pengalaman jatuh cinta berkaitan dengan perubahan aktivitas dan sistem kimia di otak. Sistem motivasi, perhatian, serta keterikatan emosional ikut bekerja dan mendominasi.
Karena itu, seseorang yang sedang jatuh cinta bisa mengalami butterflies in the stomach. Istilah untuk perasaan euforia sekaligus kegelisahan. Ia dapat merasa sangat bahagia pada satu waktu. Bersamaan itu ada pula rasa cemas yang bercampur.
Cinta bukan sekadar perasaan di dada. Ia juga merupakan pengalaman tubuh. Inilah yang membuat kisah Majnun begitu dekat dengan manusia modern. Padahal, Majnun tidak hidup pada zaman pemindaian otak. Tidak ada MRI dan laboratorium neurotransmiter. Belum ada istilah populer tentang overthinking. Namun gejalanya terasa akrab.
Secara Harfiah, bisa saja Majnun dikatakan gila karena cinta. Tetapi, sastra tidak sesederhana demikian. Dia bukan sekadar contoh manusia yang kehilangan kewarasan. Dia hanyalah gambaran manusia yang kehilangan pusat kehidupannya. Di situlah pemikiran psikiater asal Turki, Nevzat Tarhan menjadi relevan.
Dalam buku The Psychology of Love, Nevzat Tarhan tidak memperlakukan cinta sebagai romantisme belaka. Dia bicara melalui dimensi biologis, psikologis, dan spiritual. Cinta dapat menjadi kebutuhan manusia untuk bercermin. Ia dapat menjadi pencarian ‘keabadian’, makna hidup lebih dalam. Ia juga menjadi ‘saklar’ yang membuat seseorang tumbuh lebih dewasa.
Dalam bahasa lain, cinta bukan hanya tentang siapa sosok yang kita cintai. Cinta juga menarik paksa kita bertemu dengan diri sendiri. Demikianlah bagian menarik kisah Majnun yang tidak disadari.
Majnun mencari dan mengejar jejak Layla. Namun, semakin jauh berjalan, justru semakin sering dia bertemu dengan dirinya sendiri. Seolah Layla adalah cermin bagi dirinya. Di dalam cinta, manusia sering menemukan hal yang selama ini tersembunyi dari dirinya.
Cinta bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menyakitkan. Pengalaman yang sungguh mengerikan. Dalam perkara mencintai seseorang, muncul pula rasa ketakutan dan kesepian. Rasa tidak berharga dan keinginan untuk diterima. Desakan untuk memiliki dan rasa rindu yang menggebu. Semua itu bisa muncul dan bercampur aduk ketika seseorang jatuh cinta.
Ketika perasaan yang muncul berubah menjadi tuntutan, cinta dapat berubah menjadi posesivitas. Kerinduan berubah menjadi obsesi, seseorang mulai kehilangan jarak untuk melihat kenyataan. Nah, Majnun berada di wilayah yang ekstrem. Dia tidak lagi sekadar mencintai Layla, tetapi hidup di dalam cintanya.
Dari sinilah, cinta dapat didefinisikan sebagai sebuah energi. Energi dengan kekuatan dahsyat yang mampu mendorong manusia untuk ‘naik-level’ dan melawan dunia. Atau malah menghancurkan manusia menjadi butiran debu di dunia tanpa kehendak. Energi besar inilah yang harus dikontrol dengan baik.
Cinta membawa kehancuran bagi orang yang tak mampu menanggung bebannya. Cinta dapat membuat manusia merasa cemburu dan takut kehilangan secara brutal. Ia mampu memeras waktu dalam kehidupan seseorang. Waktu yang hanya untuk memikirkan hal berulang-ulang seperti kaset rusak.
Bahkan, hanya untuk bertahan di dalam hubungan yang telah melukai batin. Seolah memegang pecahan kaca dengan tangan telanjang, which is hanya karena menyukai bentuknya.
Pikiran tentang doi menjadi dominan sehingga kehidupan lain tidak penting. Ia berubah menjadi pusat gravitasi. Semua pikiran mengorbit kepadanya. Semua keputusan ditentukan olehnya. Semua kebahagiaan bergantung kepadanya. Dunia menyempit. Semuanya menjadi satu nama atau wajah.
Satu sisi lain, cinta menjadi motivasi super kuat. Ia mampu memberi dorongan penuh menuju kasta lebih tinggi, yaitu kedewasaan dan kebijaksanaan. Syaratnya, manusia harus mampu melihat dirinya sendiri. Tarhan memandang cinta tidak berhenti pada ekstasi perasaan. Dia menghubungkannya dengan proses pencarian makna hidup dan pendewasaan manusia. Perasaan cinta menjadi kesempatan untuk memahami diri. Seolah membaca buku yang segala isinya tentang kita.
Majnun dapat dibaca dari perspektif itu. Dia kehilangan Layla, tetapi kehilangan itu bukan sebagai halaman terakhir. Dalam tradisi spiritual Timur, penderitaan sering kali menjadi pintu. Bukan karena penderitaan itu indah, melainkan karena manusia dipaksa pada titik jeda. Dipaksa berhenti dan mulai bertanya untuk melihat ke dalam diri sendiri.
Rumi berkali-kali berbicara tentang cinta sebagai jalan perubahan batin. Cinta bukan sekadar rasa memiliki. Ia merupakan perjalanan dari ego menuju sesuatu yang lebih luas. Karena itu, cinta yang matang tidak selalu bertanya: “Bagaimana aku bisa mendapatkan dia?” Ia mulai bertanya: “Siapa aku setelah mencintainya?”. Pertanyaan kedua jauh lebih sulit dan jauh lebih penting.
Kita mungkin tidak tinggal di padang pasir seperti Majnun. Namun, bentuk kegilaannya bisa saja sama. Teknologi berubah. Manusia tidak banyak berubah. Kita masih takut ditinggalkan. Masih ingin dipilih. Masih ingin dianggap penting. Masih mencari seseorang yang membuat kita merasa berharga. Masih membutuhkan pengakuan dan penerimaan.
Cinta dapat membuat manusia sewaras apa pun melihat realitas secara berbeda. Seperti orang gila. Orang yang sedang jatuh cinta kerap memberi makna berlebihan hal-hal kecil. Senyum menjadi tanda. Pesan singkat menjadi harapan. Diam menjadi pertanyaan. Jarak menjadi penderitaan. Dan penolakan menjadi akhir dunia.
Padahal bumi tetap berotasi. Matahari tetap terbit. Orang-orang tetap bekerja. Kota tetap bising. Dan yang pasti, gaji tetap di bawah UMR.
Majnun digambarkan kehilangan keteraturan hidup karena cinta. Tetapi Nizami tidak menulis laporan medis. Dia membangun sebuah simbol. Majnun adalah manusia yang melampaui batas sosial. Dia figur yang memperlihatkan bagaimana cinta dapat mengubah identitas. Qais menjadi Majnun. Orang waras yang menjadi gila. Cinta telah mengganti namanya.
Dalam pengertian itu, “kegilaan” Majnun bukan soal hilangnya akal. Ia adalah metafora tentang perubahan seorang manusia. Terutama ketika berhadapan dengan kecamuk rasa antara cinta, kehilangan, dan kerinduan.
Namun, kehidupan nyata membutuhkan batas yang lebih tegas. Tidak semua penderitaan karena cinta adalah pengalaman spiritual. Obsesi bukan tanda kedalaman cinta. Tidak semua perilaku yang mengganggu kehidupan dimuliakan sebagai romantisme. Ia gejala gangguan jiwa yang perlu diatasi. Dia butuh pertolongan.
Di sinilah sastra dan psikologi seharusnya berjalan berdampingan. Sastra membantu kita memahami pengalaman manusia. Psikologi membantu kita memahami batasnya.
Majnun kehilangan akal karena cinta, tetapi justru menemukan ruang terdalam dirinya.
Menurut Nevzat Tarhan, cinta bukan sekadar hasrat untuk memiliki. Ia juga cermin yang memperlihatkan jiwa. Terutama bagi mereka yang belum selesai mengenal dirinya sendiri. Sebab, cinta yang paling dalam tidak membuat kita kehilangan diri, melainkan yang menuntun kita pulang melewati luka menuju makna.








