Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Romantisme Cinta Zaman Sekarang: Perempuan Harus Pintar, Laki-laki Harus Kaya, Lalu Kita Harus Apa?

Bakti Suryo by Bakti Suryo
22/09/2026
in Cecurhatan
Romantisme Cinta Zaman Sekarang: Perempuan Harus Pintar, Laki-laki Harus Kaya, Lalu Kita Harus Apa?

Ilustrasi: Josh Hild (Unsplash).

Masihkah dunia menyisakan cinta selayaknya kisah Yusuf dan Zulaikha? Sebuah romantisme yang mengikat hubungan batin secara emosional dan spiritual. Setidak-tidaknya seperti alegori pujangga sufi Nuruddin Abdurahman Jami. Kisah klasik tentang perasaan yang membuat manusia mengalami transformasi jiwa. Cinta yang membawa kedamaian, bukan sekadar obsesi terhadap makhluk-Nya.

Dunia kiwari, mencari pasangan hidup bukan lagi urusan getaran di dada. Urusan perasaan itu telah bergeser menjadi tabel checklist. Perempuan berpendidikan dengan karier moncer dianggap “intimidatif”. Kaum alpha male memberi mereka label sebagai penganut feminisme radikal perusak tatanan.

Sebaliknya, laki-laki dengan isi dompet di titik Upah Minimum Provinsi (UMP) menerima stempel sebagai “pria minim visi”. Terlebih mereka yang berdomisili di daerah ber-UMP cekak dan gaji pas-pasan. Misalnya seperti di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bagimana kabar kalian semua?

Selamat datang di pasar malam romansa modern Indonesia. Sisi dunia di mana perasaan dikurasi oleh ego patriarki. Juga, divalidasi oleh standar finansial yang boleh dibilang sungguh tidak masuk akal.

Mari kita lakukan pembedahan satu per satu terhadap korban pertama: perempuan cerdas. Kita sering mendengar keluhan bahwa perempuan (terlalu) pintar membuat laki-laki minder. Perempuan berhak mengejar gelar master, memilih berkarier, atau mengejar posisi tinggi di perusahaan.

Sayangnya, penduduk kawah patriarkistik menganggap hak tersebut sebagai tiket untuk menjomblo seumur hidup. Perempuan dituntut harus adaptif di ruang publik, tetapi wajib menunjukkan sikap “butuh-diselamatkan” dalam ruang domestik.

Sosiolog terkemuka bernama Eva Illouz melahirkan buku berjudul Why Love Hurts. Dalam buku yang terbit 2012 tersebut, dia menulis bahwa institusi romansa modern mengalami rasionalisasi dan komodifikasi. Logika pasar masuk dan mengisi penuh ruang di dalam bilik hati.

Eva memandang bagaimana sistem ‘pasar seksual dan romantisme modern’ bekerja. Menurutnya, perempuan cerdas dinilai sistem sebagai komoditas yang sulit dikendalikan. Struktur patriarki tradisional merasa terancam oleh kepala yang penuh isi. Contohnya seperti konten edukasi pranikah yang menawarkan ketaatan mutlak. Mereka terbiasa memimpin kepala yang patuh. Bukan kepala yang mendebat logika dalam obrolan meja makan.

Sekarang, mari menyebrang untuk membedah korban kedua: laki-laki berpenghasilan UMP. Pertumbuhan ekonomi mengerakkan mata dunia. Laki-laki berpenghasilan standar dianggap sebagai lelucon di ruang publik. Seperti tren viral wawancara jalanan para pembuat konten. Misalnya, narasumber mematok syarat minimal gaji pasangan 25 juta rupiah per bulan.

Sebuah konten yang pastinya membuat pria lajang tertabok telinganya, nyerinya menjalar hingga sumsum tulang. Narasi tersebut otomatis mengeleminasi pria UMP dari kasta kemanusiaan. Seolah mereka dicap pemalas atau pria tanpa visi masa depan.

Besaran UMP dinilai sebagai cerminan murni dari kegagalan individu. Bukan hasil kebijakan upah murah dari pemilik modal. Atau bisa jadi, jebakan korporasi pada kelas pekerja. Itulah sebab musabab ketidakmampuan laki-laki dalam membiayai kencan di kafe estetik. Belum lagi membelanjakan skincare viral rekomendasi selebritis. Dua perkara itu menjadi ukuran seorang laki-laki memiliki cacat karakter maskulinitas.

Pertanyaannya, sejak kapan cinta berubah menjadi sekejam ini?

Jawabannya terletak pada persekutuan jahat antara patriarkisme dan kapitalisme. Dua ideologi ini bergerak klandestin merancang cetak biru ‘Cinta’ yang baru. Kapitalisme membutuhkan pasar yang konsisten. Satu contoh, misalnya industri pernikahan yang mewajibkan dekorasi aesthetic minimalist. Atau, tren lamaran mewah di hotel berbintang. Padahal, semua itu hanya demi kebutuhan konten media sosial.

Cetak biru inilah yang nantinya menjadi mesin pencetak uang bagi kapital. Kapitalisme menciptakan standar kelayakan asmara agar mesin ini terus berputar dan mencetak profit secara masif. Seseorang baru dianggap mencintai pasangan kala sanggup membeli barang konsumtif. Setelah itu, memamerkan gaya hidup di media sosial sesuai algoritma.

Dan di saat bersamaan, patriarki menyuntikkan peran gender yang intoleran. Laki-laki dikondisikan wajib menjadi penyedia finansial. Tunggal dan tanpa cela. Bayangkan seorang lelaki yang berkantong segede UMP senilai celana berbahan premium. Otomatis dia kehilangan legitimasi sebagai ‘pria sejati’ di hadapan sistem ini. Dia gagal memenuhi standar penyedia yang digariskan sistem purba bernama patriarki.

Sementara itu, perempuan tetap dikunci dalam fungsi domestik. Ia dianggap sebagai pelengkap ego laki-laki. Jika perempuan menjadi mandiri secara intelektual dan finansial, maka fungsi ketergantungan akan rusak. Rusaknya ketergantungan ini membuat pasar kapitalis kehilangan cengkeramannya, dan ego patriarki kehilangan kuasanya.

Seorang feminis kawakan bernama Bell Hooks pernah menulis buku berjudul All About Love. Melalui karya tersebut, dia mengingatkan bahwa cinta sejati seharusnya membebaskan perasaan. Cinta menuntut ruang yang setara untuk saling bertumbuh. Bukan saling mengerdilkan.

Akan tetapi, konsep cinta yang ditawarkan dunia saat ini justru bekerja dengan cara sebaliknya. Cinta versi kompeni malah mengasingkan manusia dari dirinya sendiri. Manusia seolah dipaksa masuk ke dalam kubangan hitam. Sebuah kubang kehidupan yang menggunakan satuan ukur pencapaian materi. Juga, pembagian peran yang usang, lapuk, dan begitu purba.

Saat ini, manusia tidak tampak menjalin hubungan untuk mencari pasangan hidup. Mereka sedang mencari mitra kerja untuk melunasi tagihan yang terus berjalan. Isi kepala dan hati berisikan kekhawatiran masa depan yang disetujui standar pasar ekonomi.

Seorang perempuan berhak menjadi cerdas, berhak memiliki kesempatan yang sama, dan berhak memilih jalan hidupnya. Perempuan tidak boleh menurunkan standar intelektualnya. Terlebih hanya demi menenangkan julangan ego laki-laki yang malas membaca.

Seorang laki-laki berpenghasilan UMP tidak perlu merasa inferior. Terlebih menganggap diri sendiri sebagai produk gagal dunia. Kegagalan yang terjadi bukan berada di titik moralitas kemanusiaan, melainkan ketidakmampuan sistem ekonomi dalam menyediakan ruang adil. Ruang yang menyediakan kelayakan upah dan penghidupan bagi semua orang.

Mari memulai untuk bersikap sinis pada dongeng romantisme yang menguras isi dompet. Mulai dengan menjadi sadar. Sadar bahwa kesehatan mental itu penting. Eman bila hidup yang hanya sekali ini malah dihabiskan dengan overthinking.

Hubungan sehat tidak diukur dari seberapa mahal kopi susu artisan pendamping obrolan. Bukan pula dari seberapa tunduk pasangan di hadapan kamera dan layar gawai. Hubungan sehat dibangun dua manusia bebas yang memiliki kesadaran. Sadar bahwa keduanya perlu saling bertumbuh bersama dalam menjalani hidup. Terlebih di antara keruwetan dunia modern dan kerasnya gempuran inflasi ekonomi.

Bagaimana dengan sisanya? Anggaplah sebagai produk industri yang berhias pita merah jambu berbentuk hati. Apalah arti segala materi di dunia dan isinya kalau tidak salat sunnah 2 rakaat qabliyah subuh?

Tags: Cinta Zaman SekarangHubungan era modernKapitalismeLaki-laki KayaPasangan HidupPatriarkiPerempuan PintarRomansa modernRomantisme
Previous Post

Prabowo, Pakar, dan Kritik Pemerintah: Belajar dari Buku “Matinya Kepakaran”

BERITA MENARIK LAINNYA

Prabowo, Pakar, dan Kritik Pemerintah: Belajar dari Buku “Matinya Kepakaran”
Cecurhatan

Prabowo, Pakar, dan Kritik Pemerintah: Belajar dari Buku “Matinya Kepakaran”

21/09/2026
Reformasi yang Berhenti di Meja Rapat
Cecurhatan

Reformasi yang Berhenti di Meja Rapat

20/09/2026
Dedolarisasi dan Si Kancil di Jazirah Arab
Cecurhatan

Dedolarisasi dan Si Kancil di Jazirah Arab

15/09/2026

Anyar Nabs

Romantisme Cinta Zaman Sekarang: Perempuan Harus Pintar, Laki-laki Harus Kaya, Lalu Kita Harus Apa?

Romantisme Cinta Zaman Sekarang: Perempuan Harus Pintar, Laki-laki Harus Kaya, Lalu Kita Harus Apa?

22/09/2026
Prabowo, Pakar, dan Kritik Pemerintah: Belajar dari Buku “Matinya Kepakaran”

Prabowo, Pakar, dan Kritik Pemerintah: Belajar dari Buku “Matinya Kepakaran”

21/09/2026
Wanareksa: Pejuang Ekologis, Penjaga Rimba Jawa Utara

Wanareksa: Pejuang Ekologis, Penjaga Rimba Jawa Utara

21/09/2026
Reformasi yang Berhenti di Meja Rapat

Reformasi yang Berhenti di Meja Rapat

20/09/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: