Setiap pengabdian selalu punya titik pulang. Tetapi pulang bukan berarti selesai. Ada jejak yang ditinggalkan, dan ada hubungan yang diharapkan tetap tumbuh setelah para mahasiswa kembali ke kampus. Suasana itu terasa dalam penutupan Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKN-TK) 04 Universitas Bojonegoro di Balai Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, Jumat (14/8/2026) malam.
Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut menjadi penanda berakhirnya rangkaian pengabdian mahasiswa di Desa Drenges. Namun, malam itu bukan sekadar seremoni penutupan. Ada satu karya yang ikut ditinggalkan: Batik Lantung.
Batik tersebut diserahkan secara simbolis kepada Pemerintah Desa Drenges sebagai kenang-kenangan sekaligus bentuk kontribusi mahasiswa terhadap upaya mengenalkan potensi dan identitas lokal desa.
Hadir dalam acara tersebut Kepala Desa Drenges, Yaspingi, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-TK 04 Ir. Ichwan Hadi Saputra, S.T., M.T., perangkat desa, masyarakat, serta seluruh mahasiswa KKN-TK 04.
Bagi mahasiswa, Batik Lantung bukan sekadar kain bermotif. Ia menjadi semacam tanda tangan terakhir sebelum meninggalkan desa. Sebuah karya yang diharapkan dapat mengingatkan bahwa pernah ada sekelompok anak muda yang datang, tinggal, belajar, bekerja, dan tumbuh bersama masyarakat Drenges.
Kepala Desa Drenges, Yaspingi, menyampaikan apresiasinya terhadap kehadiran mahasiswa selama menjalankan berbagai kegiatan di desa.
“Kami dari Pemerintah Desa Drenges mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KKN-TK 04 Universitas Bojonegoro yang selama ini sudah ikut berkontribusi dan membantu berbagai kegiatan di desa. Semoga apa yang telah dilakukan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan hubungan baik ini tetap terjalin,” ujar Yaspingi.
Di sisi lain, DPL KKN-TK 04, Ir. Ichwan Hadi Saputra, S.T., M.T., mengingatkan bahwa KKN bukan hanya ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu dari kampus. Lebih dari itu, KKN adalah ruang belajar untuk memahami kehidupan masyarakat secara langsung.
“Kegiatan KKN ini merupakan proses pembelajaran bagi mahasiswa untuk dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di kampus sekaligus belajar langsung dari masyarakat. Kami berharap program-program yang telah dilaksanakan dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi Desa Drenges,” ungkapnya.
Bagi mahasiswa, desa bukan lagi sekadar titik di peta setelah beberapa pekan hidup bersama masyarakat. Ia berubah menjadi ruang pengalaman. Tempat ilmu bertemu kenyataan. Tempat teori diuji oleh kehidupan sehari-hari.
Ketua Kelompok KKN-TK 04 Universitas Bojonegoro, Imdadul, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa Drenges dan seluruh masyarakat yang telah menerima mahasiswa selama menjalankan pengabdian.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kepala Desa, seluruh perangkat desa, dan masyarakat Desa Drenges yang telah menerima kami dengan sangat baik. Batik Lantung ini kami serahkan sebagai simbol kenang-kenangan dan bentuk rasa terima kasih kami. Semoga apa yang kami lakukan selama KKN dapat memberikan manfaat dan bisa terus dikembangkan oleh masyarakat,” tutur Imdadul.
Dari Kedung Lantung hingga Batik Lantung
Selama berada di Desa Drenges, mahasiswa KKN-TK 04 menjalankan berbagai program yang bersentuhan dengan potensi desa, lingkungan, wisata, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah Geosite Kedung Lantung. Kawasan ini menyimpan potensi yang tidak hanya berkaitan dengan bentang alam, tetapi juga sejarah dan kebudayaan.
Di tempat semacam Kedung Lantung, desa tidak berhenti sebagai ruang administratif. Desa dapat dibaca sebagai sebuah lanskap pengetahuan: ada batuan, sungai, cerita, tradisi, jejak manusia, hingga ingatan masyarakat yang saling bertaut.
Karena itu, pengembangan potensi Desa Drenges membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik. Ia membutuhkan cara untuk membaca kembali apa yang telah dimiliki desa, kemudian mengolahnya menjadi pengetahuan, identitas, dan daya hidup masyarakat.
Dalam konteks itulah Batik Lantung memperoleh maknanya. Ia menjadi salah satu bentuk luaran kreatif mahasiswa yang mencoba menerjemahkan potensi lokal ke dalam karya budaya. Bukan hanya sesuatu yang dikenakan, tetapi juga sesuatu yang dapat bercerita. Tentang Drenges. Tentang Lantung. Tentang pengalaman mahasiswa yang pernah datang dan menjadi bagian kecil dari perjalanan desa.
KKN Berakhir, Cerita Tidak
Malam itu, mahasiswa secara resmi berpamitan. Namun, sebagaimana banyak kisah pengabdian, perpisahan tidak selalu berarti akhir. Sebab hubungan antara kampus dan desa dapat terus hidup melalui gagasan, kerja sama, penelitian, kegiatan kebudayaan, pengembangan wisata, maupun berbagai program lain di masa depan.
KKN-TK 04 mungkin telah selesai secara administratif. Tetapi apa yang ditanam selama berada di Drenges masih memiliki kemungkinan untuk tumbuh. Sebab pada akhirnya, ukuran sebuah pengabdian bukan hanya berapa banyak program yang berhasil diselesaikan. Melainkan seberapa jauh sesuatu yang ditinggalkan mampu terus hidup setelah orang-orang yang mengerjakannya pergi.
Dan malam itu, sebuah kain bernama Batik Lantung ditinggalkan di Drenges. Sebagai kenangan. Sebagai karya. Dan barangkali, sebagai awal dari cerita yang lebih panjang tentang bagaimana sebuah desa mengenali dirinya sendiri melalui kekayaan yang selama ini telah dimilikinya.








