Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Aku Ingin Pesan Seporsi Kasih Tanpa Keraguan

Sandra Alfiani by Sandra Alfiani
10/10/2026
in Fiksi Akhir Pekan
Aku Ingin Pesan Seporsi Kasih Tanpa Keraguan

Ilustrasi: Jael Rodriguez (Unsplash).

Perempuan mandiri tidak sedang menutup pintu. Ia hanya sudah terlalu sering melihat orang masuk, lalu pergi sebelum sempat duduk.

Seorang perempuan duduk di sebuah restoran yang ramai. Ia merapikan rambut, lalu mengangkat tangan memanggil pelayan. Ia tidak minta didahulukan dan tidak minta diskon. Ia hanya bertanya pelan:

“Mas, saya mau pesan seporsi kasih tanpa keraguan. Berapa harganya?”

Pelayan pun seketika bingung. Dia membolak-balik buku menu dan mencoba mencari jawaban. Lalu, dengan penuh kehati-hatian, pelayan menjawab.

“Mbak, kan sudah punya semuanya. Karir bagus, mobil pribadi, cicilan lancar. Saya bisa kasih apa lagi?”

Dari situlah ceritanya dimulai.

Sebut saja Nadia, 27 tahun, bukan nama sebenarnya. Ia bekerja sebagai analis di perusahaan Big Four. Gajinya cukup, indekosnya sudah ganti jadi apartemen sewa, dan ia mengirim uang bulanan ke orang tua secara rutin. Kalau ban motor bocor, ia tahu bengkel mana yang murah. Kalau laptop rusak, ia sudah punya langganan servis.

Di kantor, Nadia disebut “tangguh”. Di keluarga, disebut “bisa diandalkan”. Setelah menjalin relationship intens chat, seorang laki-laki mengirim pesan yang membuatnya tertawa getir.

“Kayaknya kamu nggak butuh cowok deh. Kamu kan udah bisa melakukan semuanya sendiri.”

Nadia membaca pesan itu lama. Ia mengetik, “Bisa sendiri bukan berarti mau sendirian.” Lalu menghapusnya. Ia sudah lelah menjelaskan hal yang seharusnya tidak perlu dijelaskan.

Mandiri Itu Hasil, Bukan Gaya Hidup

Ada kesalahpahaman yang halus tapi keras kepala: perempuan dianggap mandiri karena memang tidak butuh siapa-siapa. Padahal kebanyakan dari mereka merasa harus mandiri karena tidak ada pilihan lain.

Bagi perempuan mandiri, tidak ada yang bisa dijadikan sandaran. Jadi mereka belajar menjadi sandaran bagi diri sendiri. Kemandirian itu bukan tembok yang dibangun untuk mengusir orang. Itu pagar yang dibangun karena rumahnya dulu sering kosong.

Sosiolog Arlie Hochschild menyebut fenomena second shift, yaitu perempuan yang selesai bekerja di kantor lalu masih “bekerja lagi” mengurus urusan emosional dan domestik.

Konsep ini awalnya meneliti pasangan yang sama-sama bekerja, tapi napasnya terasa akrab bagi perempuan karier usia 25 ke atas. Mereka terbiasa mengatur, mengingat, menenangkan, sekaligus menyelesaikan. Bahkan ketika tidak ada siapa-siapa yang membagi beban itu. Jadi ketika datang laki-laki yang minta dirawat tanpa mau merawat, atau yang ragu-ragu tanpa mau memutuskan, mereka tidak kaget. Mereka hanya lelah.

Yang Diminta Bukan Kemewahan, Cuma Kepastian.

Salah paham terbesarnya ada di bagian ini. Banyak laki-laki mengira perempuan mandiri menuntut standar tinggi. Pendapatan sepadan, karier sejajar, dan pencapaian yang seimbang. Padahal yang paling sering mereka cari ialah hal yang jauh lebih sederhana. Ironisnya, jauh lebih sulit, yakni kejelasan.

Perempuan mandiri tidak takut berjuang. Mereka sudah tahu rasanya bertindak di lapangan tanpa uluran tangan siapa-siapa. Mereka tidak keberatan memulai dari nol bersama, asalkan jelas bahwa yang dibangun adalah rumah yang sama. Yang melelahkan adalah berjuang di dalam hubungan yang tidak pernah diberi nama. Terlebih saat ia tidak tahu apakah dirinya tempat pulang bagi orang itu, atau sebaliknya.

Nadia paham betul mencari pasangan itu tidak gampang. Ia tahu waktu terbatas, energi terbatas, dan hati juga ada batasnya. Apalagi di usia 25-an. Pertanyaan “kapan nikah?” datang dari keluarga, teman, sampai tetangga, sementara orang yang ia ajak serius pun belum tentu yakin.

Karena itu ia tidak lagi punya ruang untuk situationship berbulan-bulan. Ia tidak sanggup menunggu orang yang bilang “yakin jalani bareng”, tetapi tidak mau menyebut istilah tentang mereka berdua. Menolak ketidakjelasan bukan berarti sombong. Itu cara sederhana menghargai sesuatu yang ia tahu langka.

Permintaannya pendek, seperti orang yang yakin padanya. Yang tidak membuatnya menebak-nebak, yang kalau bilang “aku mau” memang mau, dan yang tidak menghilang begitu keadaan jadi serius. Namun, setiap kali ia bertanya soal keyakinan, jawabannya sering begini: “Maumu apa sih? Nanya keyakinan terus.”

Lambat laun, Nadia mulai menyalahkan dirinya sendiri. Apakah ia yang terlalu menuntut? Apa ia yang terlalu serius? Padahal “kita ini apa?” adalah pertanyaan paling dasar dalam sebuah hubungan. Bertanya hal wajar tidak seharusnya membuat seseorang merasa bersalah.

Di seberang meja, laki-laki juga bingung. Dan memang, bukan hanya perempuan yang bingung. Banyak laki-laki sebenarnya tulus, tapi tumbuh dengan skrip lama: laki-laki adalah penyedia, perempuan adalah yang dilindungi. Ketika perempuan di depannya sudah bisa menyediakan untuk dirinya sendiri, skripnya macet. Ia bertanya dalam hati, lalu aku ini diperlukan untuk apa?

Pertanyaan itu wajar, tapi jawabannya sering salah arah. Dia mengira harus menyaingi gaji, mobil, atau jabatan. Padahal bukan itu yang dicari. Uang bisa dicari bersama, dan Nadia tidak mempermasalahkannya. Yang tidak bisa ia beli sendiri adalah rasa aman ketika pulang dan ada seseorang yang pasti ada.

Psikolog Barry Schwartz dalam The Paradox of Choice menunjukkan bahwa makin banyak pilihan, orang makin sulit memutuskan dan makin gampang ragu. Di era digital, saat selalu ada “kemungkinan lain” sejauh satu swipe, keraguan jadi terasa normal. Maka kalimat “aku nggak ragu sama kamu” berubah dari hal biasa menjadi barang mewah.

Nadia sudah merasakan akibatnya. Ada yang mundur pelan-pelan setelah tahu pekerjaannya. Ada yang bilang kagum tapi ujungnya minder. Ada yang menghilang begitu obrolan mulai serius.

Mungkin tidak semuanya berniat menyakiti. Tapi dari sisi Nadia, rasanya sama saja. Ditinggal sebelum sempat menikmati seporsi kasih penuh keyakinan dan diusahakan.

Kembali ke restoran tadi, ke meja dengan buku menu yang terlalu banyak pilihan. Pelayan masih bingung, buku menu masih terbuka. Perempuan itu tersenyum kecil, lalu berkata lembut.

“Nggak usah dipikir terlalu mahal, Mas. Saya bukan minta yang aneh-aneh. Saya cuma mau yang pasti, yang nggak bikin saya ragu mau duduk di sini sampai habis waktu yang saya miliki.”

Mungkin begitulah isi hati banyak perempuan mandiri yang diam-diam lelah dengan label “nggak butuh siapa-siapa”. Mereka butuh. Bahkan sangat butuh. Hanya saja mereka sudah terlalu paham betapa mahalnya sebuah kepastian, dan karena itu tidak mau menukarnya dengan setengah hati.

Jadi, Tuan, kalau ada yang bertanya berapa harganya, jawabannya tidak pernah soal uang. Harganya adalah keberanian untuk bilang, “Aku di sini. Aku mau. Dan aku tidak akan pergi, apa pun badainya.”

Tags: Fiksi Akhir PekanKisah PendekPerempuan MandiriRelationshipSeporsi Kasih
Previous Post

Mitos Ledre: dari Remukan hingga Jodoh Idaman

Next Post

Anang Ma’ruf: Kopi Ledre dan Cerita Di Baliknya

BERITA MENARIK LAINNYA

Bahaya Laten Hobi Mancing Mengintai Isi Kulkas Rumah Tangga
Fiksi Akhir Pekan

Bahaya Laten Hobi Mancing Mengintai Isi Kulkas Rumah Tangga

03/10/2026
Ironi Spiderman: Superhero Penyelamat Dunia Yang Kehilangan Dunia-nya
Fiksi Akhir Pekan

Ironi Spiderman: Superhero Penyelamat Dunia Yang Kehilangan Dunia-nya

23/09/2026
Hikayat Takut Kualat
Fiksi Akhir Pekan

Hikayat Takut Kualat

26/12/2025

Anyar Nabs

Ramalan Warung Kopi Empat Tahun Lalu yang Bikin Barat Gigit Jari

Ramalan Warung Kopi Empat Tahun Lalu yang Bikin Barat Gigit Jari

10/10/2026
Anang Ma’ruf: Kopi Ledre dan Cerita Di Baliknya

Anang Ma’ruf: Kopi Ledre dan Cerita Di Baliknya

10/10/2026
Aku Ingin Pesan Seporsi Kasih Tanpa Keraguan

Aku Ingin Pesan Seporsi Kasih Tanpa Keraguan

10/10/2026
Mitos Ledre: dari Remukan hingga Jodoh Idaman

Mitos Ledre: dari Remukan hingga Jodoh Idaman

09/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: