Seorang jurnalis kadang seperti Spiderman. Pelindung, penyelamat, dan penambal dunia yang retak. Namun dia lupa, dunianya sendiri lebih retak dan tak terselamatkan.
Hembusan dingin angin malam menyusup ke balik topeng superhero di atas gedung pencakar langit New York. Pahlawan bertopeng itu adalah jaring pengaman bagi warga kota. Sosok pelindung yang tak pernah ragu terjun ke tengah bahaya. Namun, di balik topeng merah-biru yang melekat erat di wajahnya, Peter Parker hanyalah seorang pemuda dengan retakan besar di dada.
Dada Peter berisi ironi yang teramat tajam dalam takdir seorang Spider-Man. Dia dianugerahi kekuatan super untuk menyelamatkan jutaan nyawa. Kekuatan luar biasa untuk menjaga warga kota dari ancaman kehancuran. New York, sebuah kota yang bahkan berkali-kali berutang hidup padanya.
Akan tetapi, gravitasi bumi merenggut satu-satunya jiwa yang paling berharga baginya. Kekuatan super itu mendadak tidak berarti di hadapan hukum fisika. Seperti dalam adegan di The Amazing Spider-Man 2 (2014). Spider-Man mampu menyelamatkan dunia, namun gagal menyelamatkan ‘dunia’-nya sendiri.
Kematian kekasihnya, Gwen Stacy bukan sekadar tragedi biasa. Ia adalah sebuah luka trauma yang membeku dalam waktu. Detik-detik di mana jaring laba-laba terulur di dalam menara jam. Waktu di mana jaring Spider-Man menjangkau tubuh Gwen yang terjatuh, terus berputar tanpa henti di kepala.
Jaringnya berhasil menangkap tubuh Gwen di udara. Namun, sentakan keras di ujung tali justru mematahkan leher kekasih yang amat dicintainya. Bunyi hentakan tubuh di atas lantai batu menjadi suara ternyaring dan paling bising yang pernah melukai pendengarannya.
Dalam film The Amazing Spider-Man 2, sebuah kerentanan terpapar jelas saat Peter meratapi tubuh kekasihnya yang mendingin perlahan. Tubuh Gwen berhasil diselamatkan, tapi ia kehilangan nyawa. Suara Peter pun pecah menahan histeria yang menghantam keras dinding ketidakberdayaan.
“Gwen, stay with me. Please, stay with me…,” ceracau Peter di tengah tatapan panik menghadap Gwen yang terpejam.
Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi kuldesak dari perjuangan seorang superhero. Peter tidak sedang bertarung melawan penjahat super. Dia sedang memohon pada semesta agar waktu memutar balik porosnya. Sayang, tidak ada kekuatan pahlawan yang mampu menaklukkan kematian.
Tragedi tersebut menjadi momen tertanamnya rasa bersalah pada diri Peter. Rasa yang merayapi setiap sel tubuh bak racun mematikan. Setiap tepuk tangan warga kota seperti cemoohan tanpa suara. Sebuah pengingat bahwa kehebatannya di mata publik ternyata berbanding terbalik dengan kegagalannya di ruang personal.
Semakin banyak nyawa yang diselamatkan Spider-Man, semakin nyaring gema pertanyaan dalam benaknya: Mengapa bukan Gwen yang terselamatkan?
Hanya karena menjadi sosok pahlawan dan memiliki kekuatan super, trauma tidak lantas lenyap begitu saja. Trauma bukan partikel yang tersusun dari atom. Trauma adalah esensi tak benda yang mampu menembus kostum superhero.
Peter menarik diri dari jaring-jaring kota. Spider-Man otomatis hilang begitu saja. Peter duduk diam di makam Gwen. Dia membiarkan musim lewat begitu saja, berganti dari gugur menuju dingin yang menusuk. Dingin yang membekukan rasa bersalahnya menjadi batu.

Namun, hidup di bawah bayang-bayang luka tidak bisa dibiarkan. Terlebih menjadi bagian akhir dari sebuah cerita pahlawan. Dalam narasi perjalanan psikologis, titik balik Peter tidak datang dari teknologi canggih. Apalagi ramuan ajaib berdaya sihir.
Titik baliknya datang dari penerimaan rasa sakit itu sendiri. Dia akhirnya sadar bahwa berhenti menjadi Spider-Man bukan solusi. Mengisolasi diri juga tidak akan pernah menghadirkan Gwen kembali ke dunia.
Perlahan, Peter belajar untuk tidak lagi melarikan diri. Terutama dari ingatan tentang Gwen. Dia mulai memeluk trauma itu sendirian. Bukan sebagai beban yang menghancurkan, melainkan sebagai kompas moral pendewasaan. Kekasihnya itu pernah mengingatkan Peter betapa pentingnya harapan manusia dalam pidato kelulusan. Sebuah ingatan yang menjadi jangkar Peter untuk kembali berdiri.
“I know it feels like we’re saying goodbye, but we will carry a piece of each other into everything that we do next, to remind us of who we are,” ucap Gwen saat seremonial kelulusan.
Pesan Gwen tersebut menjembatani Peter untuk merangkul kembali takdirnya. Menjalani hidup yang lebih bahagia bukan berarti melupakan kekasih yang telah pergi, melainkan menghormati segala kenangan tentangnya. Kenangan indah sebagai pijakan untuk terus melangkah ke depan.
Pada akhirnya, proses penyembuhan luka jiwa Spiderman mencapai puncak kematangan. Peter bertemu dengan varian dirinya dari semesta lain dalam Spider-Man: No Way Home. Di sana, Peter Parker versi Andrew Garfield mendapat ruang untuk menyembuhkan luka trauma.
Ketika kekasih Peter Parker dari semesta Tom Holland bernama Michelle Jones (MJ) terjatuh dari gedung tinggi. Peter Parker melompat tanpa ragu dan berhasil menangkap MJ. Penangkapan di udara kali ini bukan lagi soal keberuntungan. Bukan pula soal ketepatan waktu semata.
Penangkapan menjadi simbol pembebasan atas belenggu trauma masa lalu Peter. Saat dia berhasil mendarat, matanya tampak berkaca-kaca sambil mendekap MJ. Peter tak hanya menyelamatkan MJ, tetapi dia juga menyelamatkan dirinya sendiri. Khususnya dari rasa bersalah yang menggerogoti jiwa selama ini.
Bahagia bagi seorang Peter bukan lagi didefinisikan sebagai kehidupan yang sempurna tanpa rasa sakit. Baginya, bahagia adalah keberanian untuk tetap mencintai dunia yang rentan ini. Terlepas dari fakta bahwa dunia sempat mematahkan hatinya. Sosok di balik topeng Spider-Man itu belajar bahwa menjadi pahlawan tidak berarti harus menjadi manusia sempurna. Manusia yang tak bercelah atau terbebas dari kesedihan.
Setiap kali Spider-Man mengayunkan jaring melintasi langit New York, dia tidak lagi mengudara untuk lari dari hantu masa lalu. Spider-Man terbang untuk menyambut hari baru dan jalan baru.
Di balik topeng merah-biru, wajahnya tersenyum kecil. Senyuman dari seorang manusia biasa yang pernah hancur. Namun, manusia itu memilih kembali untuk merangkai pecahan jiwa demi menutup retakan dalam dadanya. Tertutupnya retakan itu akan menjadikan dia lebih kuat dari sebelumnya.
Menonton Spiderman kadang seperti melihat para jurnalis. Atau melihat diri sendiri. Seorang jurnalis sangat sibuk menyelamatkan dunia. Namun ia kerap lupa. Dunia yang paling lama ia biarkan runtuh adalah dunianya sendiri.








