Festival Ledre Bojonegoro di Kecamatan Purwosari, Kamis (8/10/2026), tak hanya jadi panggung bagi tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Lebih dari itu, festivak ini juga menunjukan sekaligus membuktikan peran perempuan sebagai penggerak perekonomian.
Puluhan tenda UMKM berjejer di sepanjang jalan. Beragam produk kuliner dan kerajinan ditawarkan kepada pengunjung. Di antara keramaian itu, ledre menjadi pusat perhatian. Sebanyak 56 perempuan produsen ledre membuat jajanan khas Bojonegoro tersebut secara langsung di lokasi festival.
Pengunjung tak sekadar melihat hasil akhirnya. Mereka dapat menyaksikan proses pembuatan ledre, mulai dari mengolah bahan hingga membentuknya menjadi kudapan tipis yang renyah. Pisang raja menjadi salah satu bahan utama yang memberi ledre cita rasa khas.
Di sepanjang lapak festival, terlihat puluhan ibu-ibu duduk berjajar, khusyuk menjelaskan proses bagaimana ledre tercipta. Mereka adalah para pengrajin ledre yang sudah puluhan tahun berkarya. Mereka berasal dari sejumlah desa di Kecamatan Purwosari.
Siti Maryam (69), salah seorang pengrajin ledre dari Desa Prayungan Purwosari banyak bercerita mengenai ledre. Perempuan kelahiran 1957 itu, kali pertama belajar ledre pada usia 20 tahun, yakni pada 1977. Dia belajar di Pecinan Padangan ketika Nyonya Min Tjie, Nyonya Mitro, dan Nyonya Lin masih hidup.
Perempuan berasal dari Desa Betet Kasiman itu sempat memoroduksi ledre di desanya, yakni Desa Betet, cukup lama. Sebelum akhirnya pada 1990, ia menikah dan pindah ke Desa Prayungan Purwosari. Di Desa Prayungan Purwosari ini, ia juga membuat ledre di rumah. Dari sana, banyak warga yang ikut belajar membuat ledre.
“Alhamdulillah sampai sekarang banyak perempuan yang masih membuat ledre” ucap Maryam.
Dalam sambutannya, Camat Purwosari, Ike Widyaningrum mengatakan, festival ledre ini bukan semata-mata sebagai perayaan kuliner, melainkan sebagai upaya membangkitkan kembali ledre Bojonegoro. Ia menyebut kegiatan ini bukan sekadar seremoni.
“Festival ini bukan sekadar seremoni. Tapi momen dan upaya untuk membangkitkan ledre Bojonegoro,” katanya.
Upaya tersebut tidak berhenti pada penyelenggaraan festival. Sebelumnya, pelatihan pembuatan ledre digelar pada 5–7 Oktober 2026 dengan melibatkan 22 peserta. Sarasehan ledre juga diselenggarakan pada 7 Oktober untuk memperkenalkan warisan kuliner ini kepada generasi muda.

Sementara Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah mengapresiasi penyelenggaraan festival yang dinilainya dapat mendorong perekonomian masyarakat itu. Kata dia, festival semacam ini perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi kerakyatan. Pemkab Bojonegoro mendukung dan fasilitasi inovasi ledre agar kian berkembang.
“Festival ledre ini harus menjadi agenda tahunan,” ujarnya.
Rangkaian Festival Ledre Bojonegoro ini, menegaskan pelestarian ledre tak cukup melalui promosi. Namun juga butuh inovasi dan perluasan pasar. Bagi perempuan produsen ledre, festival menjadi ruang untuk menunjukkan peran mereka sebagai penggerak perekonomian, sekaligus membuka peluang usaha bagi UMKM lokal.
Ledre bukan sekadar kuliner khas. Namun sumber penghidupan bagi para produsennya. Melalui festival yang berkelanjutan, para perempuan diharapkan semakin berdaya dalam mengembangkan usaha, memperluas pasar, dan menggerakkan roda perekonomian daerah melalui produk lokal.








