Kini, di pusat kota Madinah, tidak jauh dari Masjid Nabawi, ada sebuah proyek senilai miliaran dolar sedang berjalan. Namanya Rua Al Madinah.
Di atas lahan seluas 1,5 juta meter persegi, kini pemerintah Arab Saudi sedang membangun lebih dari 47.000 kamar hotel, jaringan terowongan bawah tanah terpanjang di Timur Tengah, jalur untuk kendaraan otonom, dan stasiun metro. Delapan puluh tiga ribu meter persegi dialokasikan untuk ruang hijau: 63 persen dari total area proyek. Tujuannya satu: menampung 30 juta jamaah umrah per tahun pada tahun 2030.
Namun, proyek ini bukan sekadar tentang beton dan baja. Ia adalah cermin dari sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana sebuah kota yang telah menjadi pusat spiritual umat Islam selama sekitar 14 abad dapat menjadi kota modern tanpa kehilangan jiwanya? Dan lebih dari itu: apa yang dapat kita pelajari dari cara Arab Saudi “membaca” Madinah, ketika negara-negara lain sibuk membangun tanpa pernah benar-benar memahami apa yang mereka bangun?
Kota yang Tidak Boleh Salah
Madinah bukan kota biasa. Madinah adalah tempat di mana Nabi Muhammad Saw. menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya. Madinah adalah tempat di mana konstitusi pertama dalam sejarah Islam ditulis. Madinah adalah tempat di mana Masjid Nabawi berdiri, dengan Raudhah di dalamnya: taman surga yang diyakini oleh jutaan Muslim sebagai tempat mustajab untuk berdoa.
Ketika Arab Saudi memutuskan untuk mengembangkan Madinah, mereka tahu bahwa mereka tidak boleh salah. Satu kesalahan-dalam desain, dalam skala, dalam cara mereka memperlakukan warisan sejarah-akan menjadi luka yang tidak dapat disembuhkan. Kota ini bukan laboratorium. Madinah adalah rumah bagi lebih dari 2,1 juta penduduk dan tujuan bagi jutaan lainnya yang datang setiap tahun dengan harapan yang tidak dapat diukur dengan angka.
Itulah yang membuat transformasi Madinah dalam beberapa tahun terakhir menjadi sesuatu yang layak untuk dibaca dengan hati-hati. Karena di sinilah, di kota yang paling tidak boleh salah ini, kita dapat melihat sesuatu yang jarang terlihat: sebuah negara yang mencoba membangun masa depan tanpa menghapus masa lalu.
Kini, perbincangan ini kita mulai dari tempat yang paling suci.
Pada April 2025, Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Dr. Tawfiq al-Rabiah, mengumumkan sesuatu yang tampak sederhana, namun memiliki implikasi yang sangat besar: kapasitas harian Raudhah Al Sharifah di Masjid Nabawi telah ditingkatkan menjadi lebih dari 52.000 jamaah. Angka itu bukan sekadar statistik. Angka itu adalah hasil dari proyek perluasan yang dimulai pada tahun 2022, yang mencakup penambahan 12 pintu masuk baru, sistem manajemen keramaian yang canggih, zona berpendingin udara, dan langkah-langkah keamanan yang ditingkatkan. Tujuannya, menurut al-Rabiah, adalah untuk “mengurangi waktu tunggu dan menyediakan lingkungan yang lebih tenang untuk berdoa dan merenung.”
Bagi siapa pun yang pernah berdiri di antrean panjang menuju Raudhah-berjam-jam di bawah matahari, berdesakan dengan ribuan orang lain, berdoa agar dapat masuk sebelum waktu habis-kalimat itu terdengar seperti janji yang hampir mustahil. Namun, angka 52.000 itu membuktikan bahwa janji itu bukan retorika. Angka itu adalah hasil dari perencanaan yang matang, investasi yang besar, dan-yang paling penting-pemahaman bahwa pengalaman spiritual seorang jemaah tidak boleh dikorbankan demi efisiensi.
Namun, di sinilah letak ketegangan yang tidak dapat dihindari. Raudhah adalah tempat yang, bagi jutaan orang, adalah puncak dari seluruh perjalanan spiritual. Raudhah bukan sekadar destinasi. Raudah adalah tujuan jutaan jamaah. Dan ketika sebuah tempat yang begitu sakral harus dikelola dengan sistem yang begitu modern-tasreh, aplikasi, antrean digital, jadwal yang ketat-muncul pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab oleh laporan tahunan: apakah keteraturan ini membuat pengalaman spiritual itu lebih baik, atau justru mengubahnya menjadi sesuatu yang lain?
Seorang jamaah dari Aceh, dalam catatannya tentang Madinah, menulis sesuatu yang sangat jujur, “Banyak perubahan yang tampak dibandingkan saat saya berziarah beberapa tahun lalu. Infrastruktur kota semakin modern. Layanan jamaah semakin tertata… Namun, di tengah berbagai perubahan tersebut, Madinah tetap mempertahankan sesuatu yang tidak tergantikan yaitu keteduhan, ketenangan, dan suasana spiritual yang begitu menenangkan hati.”
Kalimat itu mengandung harapan. Namun, kalimat itu juga mengandung keraguan. Karena “tetap mempertahankan” bukanlah jaminan untuk masa depan. Ia adalah hasil dari kerja keras, dari pilihan-pilihan yang dibuat setiap hari, dari perencanaan yang tidak pernah tidur. Dan jika pilihan-pilihan itu salah-jika Madinah menjadi terlalu modern, terlalu komersial, terlalu seperti Dubai—maka yang hilang bukanlah sekadar suasana. Yang hilang adalah sesuatu yang tidak dapat dibangun kembali.
Rua Al Madinah dan Kota di Dalam Kota
Jika Raudhah adalah jantung, maka Rua Al Madinah adalah tubuh yang sedang dibangun di sekelilingnya. Proyek ini diluncurkan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang juga merupakan Ketua Public Investment Fund (PIF). Rua Al Madinah dikembangkan oleh Rua Al Madinah Holding Company, sebuah perusahaan PIF yang khusus bergerak di bidang pengembangan, operasi, dan investasi real estat di Madinah.

Apa yang membuat proyek ini berbeda dari pembangunan hotel biasa?
Pertama, skalanya. Seluas 1,5 juta meter persegi. Lebih dari 47.000 kamar hotel baru pada tahun 2030. Jaringan terowongan bawah tanah yang diklaim terpanjang di Timur Tengah. Sembilan halte bus, satu stasiun metro, jalur untuk kendaraan otonom, dan parkir bawah tanah.
Kedua, filosofinya. Dalam masterplan-nya, 63 persen dari total area dialokasikan untuk ruang hijau: 83.000 meter persegi taman dan ruang terbuka. Ini bukan angka yang biasanya muncul dalam proyek pengembangan properti komersial. Ini adalah pernyataan bahwa Madinah tidak boleh menjadi kota beton. Madinah harus tetap menjadi kota yang bisa dilihat, dihirup, dan dirasakan.
Ketiga, tujuannya. Rua Al Madinah tidak hanya dibangun untuk menampung jemaah. Ia dibangun untuk “menghidupkan kembali warisan budaya dan arsitektur kota”, dengan fokus pada monumen-monumen bersejarah yang memiliki makna besar bagi warisan Nabi Saw. dan para sahabatnya. Desain semua bangunan dan fasilitas, menurut laporan Saudi Press Agency, harus mencerminkan warisan unik Kota Suci itu.
Ini adalah pendekatan yang jarang ditemukan dalam pengembangan kota modern. Biasanya, proyek besar menghapus sejarah dan menggantinya dengan sesuatu yang baru. Di Madinah, setidaknya dalam rencananya, sejarah adalah fondasi. Bukan penghalang. Namun, di sinilah kita harus berhenti dan bertanya dengan jujur: apakah “menghidupkan kembali warisan” berarti melestarikan, atau berarti mengemas ulang warisan itu untuk konsumsi?
Rua Al Madinah akan memiliki 154 properti hotel dan residensi, lebih dari 50.000 kamar, dan sekitar 600 unit ritel dan restoran. Di antara semua itu, di manakah ruang untuk keheningan? Di manakah ruang untuk jamaah yang ingin duduk sendirian, tanpa musik latar, tanpa lampu neon, tanpa tawaran diskon dari toko suvenir?
Jawabannya mungkin ada di desainnya. “Crowd Corridors” jalur pejalan kaki utama yang menghubungkan hotel-hotel ke masjid: dirancang untuk meniru pengalaman pasar tradisional, dengan suasana yang “modern, terorganisir, menarik, dan inovatif”. Namun, “modern” dan “tradisional” adalah dua kata yang, ketika digabungkan, dapat menghasilkan sesuatu yang indah atau sesuatu yang palsu. Hanya waktu yang akan memberitahu.
Bus, Kereta, dan Jalan Kaki
Salah satu hal yang paling kerap diabaikan dalam pembangunan kota adalah bagaimana orang bergerak. Madinah, dengan jutaan pengunjung setiap tahun, menghadapi tantangan yang tidak dimiliki kota lain: bagaimana memindahkan orang dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya tanpa membuat mereka merasa seperti barang yang diangkut.
Jawabannya, tampaknya, adalah kombinasi dari berbagai moda transportasi yang terintegrasi.
Laporan Oxford Business Group pada Juli 2026 mencatat bahwa Madinah telah mengoperasikan 177 bus di 15 rute dengan 371 halte, serta proyek Bus Rapid Transit (BRT) dengan 250 bus dan 405 halte yang dirancang untuk mencakup lebih dari 90 persen jaringan jalan. Semua ini terintegrasi dengan Haramain High-Speed Railway, yang telah mengangkut sekitar 9 juta penumpang.
Namun, yang lebih menarik adalah perhatian kepada para pejalan kaki. Madinah Region Development Authority dan entitas lainnya telah menyelesaikan peningkatan kawasan pusat kota di sekitar Masjid Nabawi. Termasuk jalur pejalan kaki yang menghubungkan Masjid Nabawi dengan Masjid Quba: jalur yang sepenuhnya diperuntukkan bagi pejalan kaki, dilengkapi dengan kendaraan listrik ramah lingkungan, pohon-pohon, tempat duduk, dan fasilitas umum.
Ini adalah pilihan yang sangat sadar. Madinah tidak ingin menjadi kota yang hanya dapat dijelajahi dengan mobil. Madinah ingin menjadi kota yang dapat dijalani: dengan kaki, dengan napas, dengan waktu untuk berhenti dan merenung. Namun, ada sesuatu yang lebih dalam di sini. Dalam tradisi Islam, perjalanan adalah bagian dari ibadah. Berjalan kaki ke masjid bukanlah sekadar transportasi. Ia adalah tindakan spiritual. Setiap langkah dihitung, setiap napas adalah doa.
Ketika Madinah membangun jalur pejalan kaki yang menghubungkan Masjid Nabawi dengan Masjid Quba’-jalur yang pernah dilalui Nabi Saw. sendiri-Madinah tidak hanya membangun infrastruktur. Namun, Madinah sedang membangun kembali sebuah pengalaman yang hampir hilang di kota-kota modern: pengalaman bergerak dengan tubuh sendiri, dengan kesadaran, dengan niat.
Dan di sinilah, mungkin, letak pelajaran yang paling berharga dari Madinah. Di saat kota-kota lain di dunia sibuk membuat segalanya lebih cepat-kereta lebih cepat, mobil lebih cepat, informasi lebih cepat-Madinah justru membuat beberapa hal lebih lambat. Madinah memberi ruang bagi kaki untuk berjalan. Madinah memberi waktu bagi mata untuk melihat. Madinah memberi kesempatan bagi hati untuk merenung. (Bersambung)







