Bulan November 2026 menandai awal periode transisi utama menuju musim hujan. Setidak-tidaknya, periode 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia. Melansir halaman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisiki (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan kategori ‘menengah’ (50–150 mm per dasarian). Dasarian merupakan satuan waktu (dalam bidang meteorologi dan klimatologi) dengan rentang selama 10 hari berturut-turut.
Namun, dinamika atmosfer menunjukkan anomali yang cukup unik. Pengaruh fenomena iklim global membuat hal berbeda dari biasanya. sebagian daerah justru merasakan hari-hari kering yang panjang.
Alih-alih guyuran deras yang konstan, langit menyapa lewat tetesan air yang malu-malu kucing. Gerimis datang sekenanya. Rintiknya menyisakan tanah basah yang lekas mengering. Seolah memberi ruang udara gerah bertahan lebih lama di beranda rumah.
Karakteristik cuaca semacam ini tak pernah gagal puitis. Ia selalu berhasil mencuri perhatian para penyair. Di mata sastrawan Indonesia, peralihan musim bukan sekadar gejala meteorologis. Ia menjadi kanvas tempat melukis momen nostalgis dalam ingatan.
November sering kali diabadikan sebagai bulan yang melankolis. Waktu di mana aroma petrikor berpadu dengan ingatan-ingatan yang lama mengendap. Dalam tradisi kesusastraan kita, hujan dan kenangan adalah dua unsur yang tak terpisahkan. Keduanya sama-sama mengetuk pintu hati secara tiba-tiba. Mereka meninggalkan jejak yang kembali basah dan semakin sulit dihapus waktu.
Nuansa November inilah yang mengalir begitu kuat dalam karya terbaru Usman Arrumy, Anak-Anak Kenangan. Buku penutup dari trilogi novel yang mengawali kisahnya lewat Perempuan Laut dan Lelaki Langit.
Novel ini menyelami relung batin tokoh Sora dan Lare. Usman Arrumy meramu kisah tentang dua jiwa yang berupaya saling menyembuhkan di tengah labirin masa lalu. Baginya, fiksi bukan sekadar narasi pelarian. Ia adalah ruang perenungan tempat ingatan bertumbuh dan menetap. Serupa dengan tetes air yang meresap ke lapisan tanah paling sunyi di kedalaman bumi.
Pandangan puitis sastrawan asal Jawa Tengah ini kerap dia lontarkan melalui media sosial. Khususnya tentang hujan dan kenangan. Tentu dengan gaya bahasa yang memikat pembaca. Melalui akun X (Twitter) miliknya, Usman sering merangkai diksi indah nan sederhana yang sarat makna. Fragmen-fragmen puitis berceceran di beranda aku X miliknya.
“Hujan turun bukan untuk membasahi bumi, melainkan menenggelamkan ingatan-ingatan yang menolak mati di kepala kita.” (14 Januari 2021)
Kalimat tersebut seolah presipitasi embun. Bukan sekadar memindahkan uap air dari awan ke tanah, melainkan bangkitnya memori purba yang tersimpan di kepala. Urgensi kenangan dalam karya-karya Usman memang ditempatkan sebagai entitas yang menolak mati. Ia terus mendesak untuk kembali hidup. Gambaran bahwa setiap tetes air yang jatuh membawa misi untuk merawat cerita-cerita lama. Bahkan yang hampir usang dimakan kesibukan harian.
Sikap batin tersebut semakin dipertegas kala Usman mengaitkan ritme gerimis dengan ketukan rindu. Tempo yang sabar dan begitu mendalam. Irama detak nadi bagi seorang penyair yang menangkap alam dalam romantisme November.
“Ada rindu yang sengaja dipelihara dalam sunyi, serupa gerimis November yang jarang menyapa namun basahnya sampai ke jantung hati.” (3 November 2022)
Pernyataan yang begitu relevansi secara utuh. Tentunya dengan kondisi cuaca awal bulan ini. Ketika curah hujan tercatat jarang turun, esensi kerinduan justru tidak luntur. Karena intensitasnya tidak berlebihan, setiap air yang jatuh terasa lebih bermakna. Ia menyelinap pelan ke dalam kesadaran manusia.
Karakteristik kepenulisan Usman Arrumy memang senantiasa menghindari kehebohan diksi yang rumit. Dia memilih jalur sunyi. Usman berusaha menempatkan kesederhanaan sebagai kekuatan utama dalam menyampaikan pesan romantis yang membumi.
“Kenangan adalah anak-anak kecil yang berlarian di halaman rumah sore hari; mereka gaduh sebentar, lalu tidur di pelukan senja.” (19 Februari 2023)
Ibarat anak-anak kecil, memori masa lalu terkadang hadir mengusik ketenangan. Ia membawa riuh rendah emosi, sebelum akhirnya melunak dan bersemayam dalam keheningan senja. Seperti buku Anak-Anak Kenangan.
Menikmati bulan November dengan cuaca yang berselang-seling ini memberi kesempatan untuk melambat sejenak. Jeda di bawah langit yang menurunkan hujan setengah-setengah.
Karya-karya Usman Arrumy mengingatkan bahwa ingatan bukanlah beban yang harus disingkirkan. Ia adalah bagian dari perjalanan hidup yang patut dirawat. Sebagaimana bumi menyambut tetes air pertama setelah kemarau panjang.








