Menjelang lebaran, detik-detik penghabisan Ramadhan, tentu kebanyakan kita diberi tenggang untuk merehatkan diri sejenak dari rutinitas kerja. Di waktu-waktu seperti inilah banyak muncul ajakan buka bersama sekaligus reuni sekolah.
Pasalnya, banyak dari perantau akhirnya pulang ke kampung halaman. Hal inilah yang dimanfaatkan panitia untuk menyelenggarakan acara kangen-kangen alias reuni. Siap-siap duit THR terkuras untuk serangkaian acara tersebut aja deh.
Selain rutinitas menyambung silaturahmi antar teman lama setahun sekali, reuni yang berbalut buka bersama ini ternyata menyimpan hal serius yang tidak banyak disadari oleh orang. Ha? Menyimpan apaan sih?
Begitu datang di acara reuni, ingatan kita diaduk-aduk untuk mengingat nama satu per satu teman beserta sifat dan karakternya. Salam-salam dan tukar cerita di sepanjang waktu menuju berbuka. Apalagi topiknya kalau bukan kenangan masa lalu? Iya, nostagia memang menyenangkan.
Kita dibawa kembali merasakan masa-masa sekolah, di mana beban tersulit saat itu adalah ulangan matematika dan remidial sejarah.
Masa-masa yang mungkin menjadi masa paling bahagia sekaligus mengesankan bagi kita. Termasuk di dalamnya kenangan akan cinta monyet di masa sekolah. Eciyeee~
Ada yang dibawa kembali merasakan senangnya menerima surat dari teman sekelas, ada yang dibawa kembali merasakan gugupnya menuliskan surat tersebut.
Kita dengan sadar pergi ke mesin waktu untuk diantar sampai pada tahun-tahun yang begitu menyenangkan.
Masa-masa muda yang penuh drama dan kegembiraan yang asing oleh kita sekarang. Kita diajak hidup satu kali lagi di masa-masa muda tersebut.
Di momen seperti ini, tidak jarang cinta lama yang dulu terpendam pada akhirnya menemukan keberaniannya untuk memunculkan diri.
Teman lama yang diam-diam pernah suka padamu, pada akhirnya menemukan kesempatan untuk mendekati dan mengungkapkan perasaannya padamu. Cerita seperti ini banyak sekali terjadi lho, Nabs. Mungkin Bapak dan Ibumu adalah salah satu contohnya. Qiqi
Reuni ibarat mata pisau yang bisa menguntungkan, namun bisa jadi juga sangat merugikan. Lho, kok bisa?
Tentu bisa saja. Karena reuni rawan memunculkan perasaan-perasaan terpendam atau perasaan yang belum selesai di masa lalu, saya menghimbau kalian yang punya pasangan untuk waspada, Nabs.
Bisa saja di ajang reuni tersebut, pasangan kita bertemu dengan cinta lamanya, entah itu sebatas cem-ceman atau berstatus mantan pacar. Wah, bisa bahaya.
“Sudah banyak ceritanya pacaran putus karena pacarnya ketemu mantan jaman sekolah dulu,” ujar Ning Novi Sholihah, salah satu karyawan Bank di Jatirogo, Tuban.
Novi juga mencontohkan beberapa hubungan yang sudah serius terpaksa kandas karena salah satunya berselingkuh dengan mantan.
Setidaknya, Novi mencontohkan ada 3 hubungan yang ia ketahui kandas di tengah jalan, padahal mereka hampir saja melangsungkan pernikahan.
Novi juga berkata bahwa ada baiknya dalam sebuah acara reuni yang dihadiri oleh pacar atau suami/istri, kita sebisa mungkin turut hadir bersama pasangan.
Selain meminimalisir adanya cinta lama belum kelar ini, kita juga bisa mendekatkan diri dengan teman-teman pasangan untuk bisa mengenal pasangan kita lebih jauh lagi.
Bisa jadi, di waktu reuni ini, kita mendapatkan informasi-informasi penting mengenai kebiasaan atau kesukaan pasangan yang selama ini belum kita ketahui. Sebagai konsekuensi, kamu juga harus mau membaur dan masuk ke dalam obrolan-obrolan mereka.
Ikut ke dalam acara reuni bukan berarti kita tidak percaya sepenuhnya dengan pasangan lho, Nabs. Ini hanyalah upaya preventif, atau tindak pencegahan untuk hal-hal yang tidak diinginkan.
Tapi, kalau kamu merasa percaya dengan pasanganmu, bahwa dia akan mampu menjaga kesetiaannya untukmu, maka bolehlah kamu biarkan dia bernostalgia dengan teman-teman lamanya.








