Konsep kolaborasi dan sinergi kini menjadi sebuah keniscayaan. Laiknya individu, tidak ada bidang yang bisa berdiri sendiri-sendiri, semua saling berdampingan, saling bahu-membahu, dan saling membantu. Konsep inilah yang menjadi prinsip Pecel Pustaka. Sebuah upaya pengembangan literasi ala penjual pecel di Bojonegoro, Jawa Timur.
Geliat literasi di Bojonegoro bisa dibilang cukup ramai. Buktinya, belakangan muncul banyak komunitas literasi dan gerakan yang mengajak khalayak untuk membaca. Ada sindikat baca yang mengawali lahirnya komunitas Atas Angin, ada Angkringan Buku Emperan (ABE), ada Bojaksara, Guneman, Ruang Baca, Perpustakaan jalanan, B-Sunsa, Perpus GatDa, dan lain-lain.
Masing-masing komunitas memiliki cara yang unik dalam mempopulerkan ajakan membaca. Ahmad Feriyanto Misalnya. Pemuda yang akrab disapa Feri ini selain membuka lapak baca ketika momen Car Free Day di alun-alun Bojonegoro, juga mengajak khalayak membaca dengan “Pecel Pustaka”.
Ide Pecel Pustaka berawal dari keinginan Feri untuk mengajak masyarakat membaca tanpa meninggalkan kewajibannya untuk membantu orangtuanya berjualan. Maka dari itu lahirlah gagasan Pecel Pustaka.
Pecel Pustaka beroperasi dengan menggunakan motor Tossa. Di atas motor tersebutlah ragam bahan pecel diangkut bebarengan dengan rak buku. Sembari menikmati pecel, pembeli bisa membaca buku-buku yang tersedia di rak secara gratis.
Suatu ketika saya mencoba menyambangi Pecel Pustaka ketika beroperasi di depan RSUD Sosodoro Djati Koesomo. Saya tidak bertemu Feri kala itu karena berkunjung di jam-jam kerja, hanya orangtuanya.
Senyum selalu menghiasi wajah orang tua Feri tatkala melayani pesanan nasi pecel. Sembari menyiapkan pesanan, mereka mempersilakan pembeli untuk membaca buku yang disediakan. Meski tidak terlalu paham dengan setiap buku yang disediakan, orangtua Feri dengan ramah meladeni setiap pertanyaan pembeli.
Ditemui di tempat terpisah, Feri mengatakan bahwa buku-buku di lapak pecelnya dia peroleh dari sumbangan banyak orang. Buku-buku tersebut dia kumpulkan bersama sukarelawan komunitas literasi yang didirikannya, B-Sunsa.
“Saya juga dibantu teman-teman dari komunitas lain,” ucapnya.
Ada kesenangan tersendiri bagi Feri ketika melihat orang-orang mampu mengakses buku dengan mudah, terutama anak-anak kecil.
Feri mengatakan bahwa buku itu seperti halnya air yang harus senantiasa dialirkan untuk menyegarkan pikiran lebih banyak orang. Bukan hanya berdiam di dalam kolam dan menjadi keruh dengan sendirinya.
“Senang lihat anak-anak baca buku, kenalan sama dongeng. Bahagia rasanya,” ungkap pria asal Desa Sukorejo, Kota Bojonegoro tersebut.
Tapi, di balik kebahagiaan yang dia bagikan kepada banyak orang, dia sering mengalami hal-hal tidak menyenangkan. Bahkan sejak memulai niat baik tersebut, dia diremehkan oleh orang-orang di sekitarnya.
Menurutnya, banyak yang meragukan efektivitas gerakan literasinya itu. Namun, kata Feri, lama-kelamaan, melihat kegigihannya itu, banyak juga orang yang menyumbangkan buku.
“Dulu diremehkan. Kesusahan cari bantuan buku, tapi ya kami yakinkan terus bahwa kami sungguh-sungguh ingin berbagi kebahagiaan yang didapat dari buku kepada orang-orang lain,” ujarnya.
Pernah suatu hari, motor Tossa yang dia gunakan untuk mengangkut buku-buku tersebut mogok. Itu terjadi selepas dia mengikuti sebuah event literasi yang diselenggarakan di Jalan Veteran, Kota Bojonegoro.
Kejadian tersebut tepat tengah malam, yakni lewat pukul 00.00. Bersama seorang temannya, dia mendorong motor Tossa berisi ratusan buku itu. Sepanjang hampir 5 kilometer mereka berdua bersusah payah menuju rumahnya, di kawasan Jambean, Kota Bojonegoro.
Tidak ada perasaan kesal, mereka justru melakukannya dengan diselingi candaan supaya beban terasa ringan.
“Nggak kesal. Ya lucu. Kami justru tertawa biar nggak berat,” kata Feri diiringi derai tawa.
Memang cara terbaik untuk menjalani tragedi adalah dengan menyelipkan komedi. Prinsip tersebut diterapkan Feri ketika mengelola B-Sunsa dan menjalankan Pecel Pustaka.
Jika banyak komunitas buku yang lantas mati alias kukut, maka eksistensi B-Sunsa dan Pecel Pustaka dijaga dengan menertawakan tragedi-tragedi yang mereka alami, termasuk juga merayakan setiap kegembiraan: Diawali dengan senang, dijalankan dengan riang.








