Satu-satunya yang bisa kita harapkan dari kian tebalnya asap adalah kian cepatnya proses pembentukan awan mendung, sehingga lekas menjadi hujan yang mampu memadamkan panasnya kemarahan kita.
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah titik di Sumatera dan Kalimantan beberapa pekan terakhir, memicu kabut asap yang tak kunjung padam sekaligus mempertebal bukti peribahasa: tak ada asap jika tak ada api.
Seperti banjir, kabut asap tentu bukan fenomena insidental. Ia agenda tahunan yang memang sudah biasa terjadi. Terlebih saat musim kemarau seperti saat ini. Pemanfaatan gejala alam sebagai giat berbasis kepentingan industri, tentu perkara berbeda.
Nabs, kabut asap hanya perkara siklus. Faktor alam mendukung semua ini terjadi. Kemarau, kau tahu, kadang serupa kemarahan. Ia memicu hati lahan gambut mengering dan menjadi sangat mudah terbakar.
Di lain sisi, sebagai manusia yang punya akal dan kecerdasan, sayang jika tak memanfaatkan peluang alam ini. Terlebih prinsip ekonomi terlanjur diajarkan sedari dini. Bahwa kian sedikit biaya operasional dikeluarkan, kian besar didapat keuntungan.
Semua mengerti jika pengetatan biaya produksi mampu meningkatkan marjin keuntungan. Membuka lahan dengan memberdayakan sumber daya alam, tentu lebih murah dibanding menggunakan tenaga manusia, bukan?
Untuk membuka lahan, butuh biaya yang tidak sedikit. Ada sejumlah faktor penentu; jarak lokasi (kian jauh kian besar biayanya), topografi (bukit dan rawa punya biaya berbeda), masih dipengaruhi vegetasi yang menutupi areal lahan sebelum dibuka.
Memanfaatkan fenomena alam sebagai wasilah pembuka lahan, tentu menjadi opsi yang sangat cerdas dan efektif. Selain tak mengeluarkan banyak biaya, alam adalah teknologi mekanis terbaik yang pernah ada.
Munculnya asap akibat kebakaran lahan, tentu menjadi perkara biasa. Sebab, semua dipahami sebagai agenda kerja alamiah. Meski, di dalamnya, manusia — terutama mereka yang berkepentingan membuka lahan — juga punya peran.
Banjir asap atau badai asap atau kabut asap, adalah fenomena rutinan. Bahwa semua ini terjadi ‘dengan sendirinya’, itu tak perlu dipikirkan. Sebab, selama ini faktanya memang demikian. Tak ada pelaku. Tak ada yang perlu dihakimi. Kalaupun ada, mungkin ia orang suruhan yang sedang sial belaka.
Dan alam memungkinkan semua ini terjadi. Asap tak akan bisa ditolak ketika api terus terproduksi oleh panasnya nafsu manusia musim kemarau. Dan api harus terus diproduksi demi kelancaran hajat hidup banyak manusia, meski resiko buruknya diderita lebih banyak manusia lainnya.
Satu-satunya yang bisa kita harapkan dari kian tebalnya asap adalah kian cepatnya proses pembentukan awan mendung, sehingga lekas menjadi hujan yang mampu memadamkan panasnya kemarahan kita.
Saya percaya, bersama proses evaporasi yang menghasilkan uap-uap air dari bumi, asap akan terangkat ke udara untuk mengalami proses kondensasi. Ia akan berubah menjadi titik-titik embun. Kian memadat lalu bergabung bersama barisan awan mendung.
Saat awan mendung sudah jenuh dan tak sanggup lagi menampung air kesedihan dan kemarahan, ia akan menjatuhkan diri menjadi hujan yang mampu memadamkan kemarahan dan kemurkaan kita api dan asap di lahan gambut.
Jika asap saja bisa dimanfaatkan oleh kepentingan industri, kenapa kita tak mengindustrialisasikan hujan dan berharap mampu memadamkan asap?
Hujanlah yang akan memadamkan api dan menghentikan demonstrasi asap. Sebab, jika memang semua ini disebabkan siklus alam, hanya siklus alam pula yang mampu menyelesaikan. Bukan manusia. Apalagi petugas pemadam kebakaran.








