Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Akibat Gebukan Sebuah Bantal: Hikmah Humor dan Pencurian (6)

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
13/08/2025
in Cecurhatan
Akibat Gebukan Sebuah Bantal: Hikmah Humor dan Pencurian (6)

Ilustrasi: humor dan hikmah santri

“Woooi! Maliiiing!!,” teriak Kang Dahliman dengan keras. “Maliiing!”

Kang Dahliman, salah satu guru senior, tidur di kantor pesantren. Semalaman ia mengerjakan persiapan Haflah Akhirussanah di kantor—hingga ia tertidur di kursi panjang yang menghadap ke rak kitab. Dan tepat pada pukul 00.17 WIB, seorang tamu tak diundang menghampirinya, seorang pencuri.

“Maliiiiing!!!”

Seperti riak di permukaan kolam yang dilempar batu, teriakan Kang Dahliman menyebar begitu cepat di saentero pesantren. Satu persatu pintu asrama terbuka. Puluhan pasang kaki menuju sumber suara. Ada yang masih mengenakan sarung setengah jatuh, ada pula yang sandal kanan-kirinya berbeda. Tanpa diberi aba-aba, berpuluh santri mengepung pencuri yang mencoba untuk kabur membawa televisi berukuran 24 inci. Dan, pencuri itu terpojok di sudut pesantren.

Baak! buuk! baak! buuk!, para santri menggebuki pencuri beramai-ramai. Bukan karena mereka kejam atau tidak mengetahui keadilan. Tidak. Tapi begitulah kondisi sebuah masyarakat—acapkali melihat keadilan bukan dari aturan tertulis, namun dari rasa keadilan yang mereka pahami sendiri secara sporadis.

“Ampuuun!,” teriak pencuri itu.

“Tobat!”

Baaak! Buuk! Baak! Jedieeeshhh!!!

“Ampuuun!”

Tak berselang lama, sebuah suara penuh wibawa terdengar, menggema : suara Kiai Saifuddin.

“Hentikan!!!”

Kiai Saifuddin terbangun dari tidurnya, ketika mendengar ribut-ribut di sudut pesantren—tempat para santri menjemur pakaian. Ia segera menuju sumber suara tersebut.

Demi mendengar suara dari sosok yang paling dihormati di lingkungan pesantren, para santri menghentikan pengeroyokkannya seketika itu juga.

“Tangkap saja, tak usah kalian pukul, kasihan dia,” ucap Kiai Saifuddin kalem.

Santri-santri hanya diam, lantas melaksanakan perintah sang Kiai. Sementara si pencuri sudah babak belur dan lebam-lebam. Kiai Saifuddin segera meraih handphone di saku kirinya. Ia menelpon pihak kepolisian. Sekitar 20 menit kemudian, suara sirine mobil patroli terdengar—meraung-raung dan semakin mendekat ke arah Pesantren milik Kiai Saifuddin. Tak lama, dua mobil Toyota Vios berwarna hitam terparkir di halaman depan pesantren. Delapan orang polisi keluar dari mobil. Tiga orang tidak memakai baju resmi, sementara lima yang lain berseragam—lengkap dengan sebatang revolver yang tersangkut di saku kanannya.

“Terimakasih ya adik-adik, kalian telah turut serta dalam menjaga keamanan,” kata seorang polisi, lelaki paruh baya dengan kupisnya yang tipis. Pandangan polisi ini tertuju pada si pencuri yang terduduk lemas di sebuah kursi kayu, lalu ia menoleh kepada santri-santri.

“Tapi… lain kali, jangan main hakim sendiri. Ini orang babak belur, lebam-lebam semua tubuhnya”

“Tidak, Pak,” jawab salah satu santri sambil menggeleng cepat. “Kami Cuma memukulnya pakai bantal,” sahutnya kembali dengan polos.

Pak Polisi mengangkat kedua alisnya. “Bantal?”

“Iya, Pak,” sambung santri lain, nada suaranya hendak mengatakan lihat saja jika tidak percaya.

Pak Polisi semakin mendekat, seolah-olah curiga, “Mana bantalnya?”

Seorang santri berlari menuju ke sudut pesantren, lalu kembali sambil mententeng “bantal” tersebut. Yang dimaksud bantal adalah sebuah balok dari kayu mahoni berukuran 40 x 20 x 17 cm. Bagian tengah dari balok itu mempunyai cekungan kasar, sekitar 3 cm. Terdapat sisa cat kuning yang mengelupas di permukaan, dan mungkin berat balok tersebut seukuran 1 bata putih. Di pesantren-pesantren tradisional (salaf), para santri acapkali menggunakan balok kayu sebagai bantal. Selain agar mudah bangun tidur, hemat, dan mudah di peroleh, penggunaan balok kayu sebagai bantal juga bentuk dari latihan zuhud dan kesederhanaan. Berusaha meneladani Nabi—seperti diceritakan Imam Tirmidzi dalam Syamail Muhammadiyah, bahwa Rasulullah tidur hanya berbantalkan kulit hewan yang diisi sabut pelepah daun kurma.

Polisi itu lantas terdiam. Kedua bola matanya menatap balok kayu tersebut, lalu menatap kembali pencuri itu berulang-ulang. Dalam hitungan detik, tubuh Pak Polisi bergidik. Hampir saja ia pingsan. Bukan karena marah, tapi keheranan—sembari menahan tawanya yang nyaris pecah.

“Bantal…,” gumam Pak Polisi lirih. “Kalian memang luar biasa…”

Santri-santri hanya tersenyum malu. Ada yang cengar-cengir tak jelas. Sebagian lagi menggaruk-garuk kepala dan memandang ke lantai. Dalam hati mereka terselip rasa bangga. Bukan karena berhasil menghajar pencuri tersebut. Namun, tiga hari lagi adalah final Liga Champions, antara Borussia versus Real Madrid—sayang sekali untuk dilewatkan.

Alhasil, Pencuri akhirnya digelandang ke kantor polisi. Dia duduk di jok belakang mobil patroli, diapit dua orang polisi tak berseragam di kanan kirinya. Kepalanya tertunduk, sambil merintih kesakitan, menahan luka. Suasana pesantren pun kembali normal. Dan di asrama, “bantal-bantal” itu disusun berjajar-jajar—sembari menunggu kapan dipakai lagi?

Begitulah di pesantren, segala sesuatu bisa jadi cerita. Bahkan sebuah bantal sekalipun—yang bagi umumnya orang empuk untuk tidur—bisa mempunyai cerita tersendiri. Karena di pesantren, bantal tidak hanya berfungsi untuk meletakkan kepala, tetapi untuk menggebuki pencuri yang salah alamat. Wallahu a’lam.

Cerita ini dikutip dari buku “100 Cerita Jenaka Untuk Anak Muslim” karya Gamal Kamandoko, Penerbit Dar Mizan Bandung 2009 yang kami olah kembali.

Tags: Humor dan Hikmah SantriHumor SantriKisah Hikmah
Previous Post

KKN-TK 18 Unigoro Dukung Kegiatan Posyandu di Desa Sendangharjo, Bojonegoro

Next Post

Perempuan dan Media Sosial: Representasi Diri dan Perjuangan Identitas di Era Digital

BERITA MENARIK LAINNYA

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)
Cecurhatan

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: