Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Anang Ma’ruf: Kopi Ledre dan Cerita Di Baliknya

Branda Lokamaya by Branda Lokamaya
10/10/2026
in Figur
Anang Ma’ruf: Kopi Ledre dan Cerita Di Baliknya

Anang Ma'ruf: Cerita Kopi Ledre

Dari menjodohkan yang semula tak pernah bertemu, hingga istilah Korea tentang persinggahan dan peluang. 

Mata Anang Ma’ruf sembab. Kelelahan. Letak kacamatanya diperbaiki berkali-kali. Keramaian seolah menyita banyak energi. Atau ia belum sempat beristirahat sejak pagi. Sesekali, senyum mengembang. Barangkali, itulah pertanda kebahagiaan: lelah yang tak menimbulkan suara keluhan.

Mungkin Anang mengalami kelelahan bahagiawi. Sebab, Kopi Ledre buatannya laris terjual. Gagasan yang dulu hanya bersemayam di kepala, kini menemukan rumah di banyak tempat. Ada kebahagiaan yang memang baru terasa setelah tubuh kehabisan tenaga.

“Laris, Mas. Entek resik iki” ucap Anang penuh bahagia, saat ditemui di sesela Festival Ledre Bojonegoro (8/10/2026).

Kopi Ledre, minuman kontemporer bikinan Anang, banyak diminati pengunjung. Dua unsur berbeda, bertemu dalam satu gelas. Yang satu pahit, satunya manis. Barangkali, begitulah inovasi bekerja: tak meninggalkan masa lalu, tapi mengajaknya duduk semeja dengan masa kini.

Kisah Anang dengan Kopi Ledre, mengingatkan kisah Tansen dalam sastra Madre (2011). Berkisah pemuda slengean yang tiba-tiba mewarisi toko roti melegenda milik kakeknya. Di sana, mental Tansen ditempa sedemikian rupa. Hingga menjadikannya pemuda yang bijaksana. Tansen pun melestarikan Madre, biang roti melegenda warisan kakeknya.

Namun, Anang Ma’ruf dalam tulisan ini bukanlah tokoh fiksi. Ia lelaki yang hidup di dalam realitas kehidupan sehari-hari. Perjumpaan Anang dengan Kopi Ledre, tak seperti pertemuan Tansen dengan Madre. Tidak dramatis. Tidak filmis. Namun amat realistis. Penuh dinamika. Ada gagal. Dan ada percobaan berkali-kali.

Pria 34 tahun itu bercerita, dunia perkopian ia kenal sejak usia 22 tahun. Tepatnya pada 2014. Sejak saat itu, ia kerap melancong ke berbagai daerah untuk mempelajari karakteristik kopi. Dari Balikpapan yang gerah, hingga Bogor yang sejuk. Ia berjumpa beragam kebiasaan, selera, dan cara orang menikmati kopi.

Perjalanan Anang ke berbagai kota membawanya pada sebuah kesimpulan bahwa kopi tetaplah kopi. Cairan hitam yang menyimpan pahit, menyisakan aroma, dan mengajarkan bahwa cita rasa tak selalu harus berubah untuk bisa diterima. Setiap kota punya cara sendiri menikmati kopi. Begitupun, setiap lidah punya ukuran kenikmatan.

Namun, di balik segala perbedaan itu, kopi selalu punya cara mempertemukan manusia dengan bermacam perihal di sekitarnya. Dalam secangkir kopi, Anang menemukan sesuatu yang sederhana sekali: sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada rasa yang membuatnya ingin pulang kembali.

Pada 2021, Anang sempat membuka coffe shop di Kota Cepu, kota besar di dekat rumahnya. Ia membawa pulang bermacam hasil pengamatan dari kota perantauan, untuk diterapkan di dekat kampung halaman. Di sinilah, ia kembali dipertemukan dengan Ledre, jajanan khas yang sesungguhnya sudah ia kenal lama.

Selama bertahun-tahun, Anang mengamati Ledre dari berbagai sudut pandang. Ia tak lagi melihatnya sebagai jajanan tradisional. Namun sebagai warisan rasa yang menyimpan kemungkinan. Baginya, ledre bukan sekadar oleh-oleh. Di dalamnya ada ingatan tentang kampung halaman, dan kemungkinan yang belum juga ditemukan.

Ibarat Perjodohan Cinta

Pada 2024, Anang memberanikan diri memulai sebuah percobaan yang cukup berani: mempertemukan ledre dengan kopi. Sebuah pertemuan subtil yang halus dan tidak kentara. Ledre membawa aroma dan bermacam pengharapan. Sementara kopi menyuguhkan pahit realitas kehidupan.

Mempertemukan Ledre dengan kopi ibarat perjodohan. Mempertemukan dua hal yang sebelumnya tak bertemu. Butuh puluhan kali pendekatan. Berulangkali mencoba. Berulangkali gagal. Dan berulangkali pula menyesuaikan. Anang mencari takaran yang tepat agar nuansa ledre tetap hadir ketika bertemu semesta kopi.

Anang Ma’ruf: Mempertemukan Ledre dan Kopi ibarat memahami cinta dan patah hati ~

Serupa jodoh dan cinta. Ada yang perlu disesuaikan, ada yang mesti dipertahankan, dan ada pula yang hanya bisa dipahami setelah melewati musim kegagalan. Barangkali, begitulah jodoh bekerja: bukan dengan mengutuk yang lama, melainkan merawat perbedaan hingga keduanya menemukan bahasa yang sama.

Deulleuda, sebuah Persinggahan

Pada 2025, Anang membuka kedai Deulleuda di Kelurahan Kepatihan, kawasan perkotaan Bojonegoro. Kopi Ledre menjadi menu utama, dan paling laris di kedainya. Pembelinya didominasi anak muda. Ada yang datang karena penasaran dengan namanya, ada pula yang kembali untuk menikmatinya.

Di titik ini, Anang menemukan, ledre yang selama ini identik oleh-oleh orang tua, dapat hadir secara elegan di ruang konsumsi anak muda. Jajanan yang selama ini dikenal dalam bentuk gulungan, memperoleh tempat dan jalan baru melalui secangkir kopi.

“Deulleuda artinya singgah. Namun juga ruang perjumpaan, tempat peluang ditemukan” ucap Anang.

Deulleuda, kata Anang, adalah bahasa Korea yang bermakna persinggahan. Namun, ia juga memaknai singgah itu sebagai ruang jumpa, tempat di mana peluang bisa dimaksimalkan. Sebab, yang abadi bukanlah keberadaan. Namun jejak yang tertinggal dari setiap persinggahan.

Seperti film When the Weather Is Fine (2020), ia meninggalkan hiruk-pikuk Kota Seoul dan pulang ke kampung halaman. Di sana, ia berdamai dengan masa lalu dan menemukan ketenangan. Sebab, pulang bukan sekadar kembali, melainkan menemukan makna baru di tempat yang pernah ditinggalkan.

Kini, Deulleuda Coffe memiliki delapan karyawan. Anang beberapa kali diundang dinas terkait untuk menjadi narasumber pelatihan pembuatan kopi ledre. Pesertanya beragam, mulai dari anak muda hingga ibu-ibu. Ia juga sedang mengurus pendaftaran hak kekayaan intelektual untuk produknya itu.

Tags: Festival Ledre BojonegoroKopi LedreLedre BojonegoroMakin Tahu Indonesia
Previous Post

Aku Ingin Pesan Seporsi Kasih Tanpa Keraguan

Next Post

Ramalan Warung Kopi Empat Tahun Lalu yang Bikin Barat Gigit Jari

BERITA MENARIK LAINNYA

5 Perempuan Muslim Pengubah Wajah Dunia
Figur

5 Perempuan Muslim Pengubah Wajah Dunia

03/10/2026
Daun Kelor Padangan: Dari Penolak Bala hingga Cokelat dan Mie Instan
Figur

Daun Kelor Padangan: Dari Penolak Bala hingga Cokelat dan Mie Instan

28/09/2026
Spirit Mbah Wahab Hasbullah: Sarekat Islam, Komite Hijaz, dan Refleksi Muktamar Hari Ini
Figur

Spirit Mbah Wahab Hasbullah: Sarekat Islam, Komite Hijaz, dan Refleksi Muktamar Hari Ini

05/08/2026

Anyar Nabs

Ramalan Warung Kopi Empat Tahun Lalu yang Bikin Barat Gigit Jari

Ramalan Warung Kopi Empat Tahun Lalu yang Bikin Barat Gigit Jari

10/10/2026
Anang Ma’ruf: Kopi Ledre dan Cerita Di Baliknya

Anang Ma’ruf: Kopi Ledre dan Cerita Di Baliknya

10/10/2026
Aku Ingin Pesan Seporsi Kasih Tanpa Keraguan

Aku Ingin Pesan Seporsi Kasih Tanpa Keraguan

10/10/2026
Mitos Ledre: dari Remukan hingga Jodoh Idaman

Mitos Ledre: dari Remukan hingga Jodoh Idaman

09/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: