Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Membongkar Akar Trauma Franz Kafka dan Pembangkangan Max Brod demi Warisan Sastra bagi Peradaban

Bakti Suryo by Bakti Suryo
06/11/2026
in Figur
Membongkar Akar Trauma Franz Kafka dan Pembangkangan Max Brod demi Warisan Sastra bagi Peradaban

Franz Kafka (Jnb).

Franz Kafka berdiri sebagai figur yang unik di panggung sastra modern. Kafka menjadi salah satu sosok yang paling berpengaruh di abad ke 20. Penulis berdarah Yahudi ini menghabiskan sebagian besar hidupnya di Praha (1883-1924). Selama hidup, dia telah menghasilkan mahakarya yang berhasil menggugah kesadaran pembaca di dunia. Karena itu, nama Franz Kafka begitu abadi dan dikenal hingga masa kini.

Franz Kafka melahirkan berbagai karya tulis yang mendunia. Tulisan Franz Kafka sebagian besar berbentuk prosa fiksi. Secara format, terbagi dalam beberapa bentuk. Cerita pendek dan novella ialah bentuk yang paling banyak dia selesaikan. Die Verwandlung (Metamorfosis, 1915) salah satu yang paling terkenal.

Buku The Metamorphosis menceritakan tentang tokoh fiksi bernama Gregor Samsa. Ia seorang pemuda yang terbangun di pagi hari dan tiba-tiba mendapati dirinya berubah menjadi seekor serangga raksasa. Alih-alih mendapat pertolongan, ia justru terisolasi dan menjadi beban bagi keluarganya.

Karya Kafka tersebut menyajikan gambaran keterasingan seorang manusia. Sosok yang terkurung dalam kecemasan eksistensial, serta kebingungan menghadapi birokrasi yang seolah berwujud labirin. Dari situlah muncul istilah Kafkaesque. Istilah yang lahir untuk menggambarkan situasi surreal atau absurd.

“I cannot make you understand. I cannot make anyone understand what is happening inside me. I cannot even explain it to myself.” – Franz Kafka (The Metamorphosis, 1915).

Kafkaesque adalah gambaran situasi atau kondisi yang sangat aneh nan rumit. Sebegitu tidak-masuk-akal-nya hingga sulit dijelaskan. Kondisi di mana seseorang merasa tertindas seolah berada dalam mimpi buruk tanpa alasan yang jelas. Dalam konteks karya Kafka, dia mengisahkan tokoh yang berada dalam sistem yang rumit, seperti birokrasi yang berbelit-belit.

Tulisan lain pria kelahiran 3 Juli 1883 ini berupa potongan prosa. Kafka banyak menulis catatan-catatan pendek berupa refleksi filosofis, teologis, dan aforisme. Beberapa tulisan yang berhasil terkumpul dimuat dalam The Zürau Aphorisms (1931). Ia adalah kumpulan 109 buah kata-kata mutiara, fragmen filosofis, dan renungan mendalam dari pemikiran pria berzodiak Cancer ini.

Pria berbahasa Jerman ini juga menulis tiga karya dalam format novel. Namun, novel tersebut hanya berupa fragmen, sebab tidak pernah selesai. Setelah Kafka meninggal, novel tersebut diterbitkan oleh sahabatnya, Max Brod. Ketiga novel tersebut adalah Der Process (Proses, 1925), Das Schloss (Kastil, 1926), dan Der Verschollene (Amerika, 1927).

Membaca serpihan tulisan karya Franz Kafka, penulis merasakan pengalaman yang begitu mendalam. Seolah, inspirasi menulis Kafka tidak hanya dari petualangan fisik dan pengalaman tunggal. Akarnya berasal dari hasil pergulatan batin di tengah lingkungan sosial dan profesinya.

Sebagai lulusan doktor hukum di Praha, Kafka sehari-hari bekerja di lembaga asuransi. Tepatnya bernama Worker’s Accindent Insurance Institute. Dari situ, dia berada dalam kolam yang penuh dengan tumpukan berkas, rezim kantor yang kaku, serta kerumitan birokrasi era Austria-Hungaria kala itu (1908-1922).

Di tempat ini Kafka menyerap lanskap absurditas dunia modern. Rutinitas sebagai pegawai diwarnai dengan warna monoton penuh tekanan. Rasa tertekan inilah yang menjadi bahan bakar utama untuk merancang tulisan. Sebuah cerita tentang tokoh-tokoh remahan peradaban yang tak berdaya di hadapan institusi kolosal.

Tulisan Kafka memiliki satu ruang yang terasa begitu dalam dan emosional. Bahkan, sering kali dikaitkan dengan trauma pengasuhan Kafka kecil. Figur seorang ayah, Hermann Kafka menjadi sumber kecemasan utama sepanjang hidup Franz Kafka. Sosok ayah yang merupakan pedagang berwatak keras, dominan dan otoriter.

Ketegangan relasi antara ayah dan anak tersebut terekam secara membekas dalam Brief an den Vater (Surat untuk Ayah). Sebuah surat yang ditulis sang anak pada November 1919 di Schelesen. Surat setebal puluhan halaman yang tak pernah sampai ke tangan ayahnya. Surat yang memetakan rasa takut, keputusasaan, dan ketidakberdayaan Kafka kecil. Alienasi keluarga inilah yang berpengaruh dominan dalam membentuk motif psikologi dalam karya miliknya.

“Dearest Father, You asked me recently why I maintain that I am afraid of you. As usual, I was unable to think of any answer to your question, partly for the very reason that I am afraid of you, and partly because an explanation of the grounds for this fear would mean going into far more detail than I could even approximately keep in mind while talking.” – Franz Kafka (Letter to His Father, 1919)

Luka batin dan bayangan kecemasan kian pekat, seiring dengan memburuknya penyakit yang Kafka derita, tuberkulosis. Penyakit itulah yang mengantar Kafka pada perawatan di Sanatorium Kierling, Austria. Tempat di mana Kafka menghembuskan napas terakhir di usia 40 tahun. Tepatnya pada 3 Juni 1924.

Max Brod (Jnb).

Sebelum kepergian yang sunyi, Kafka meninggalkan surat wasiat kepada Max Brod, seorang penulis sekaligus sahabat karib. Instruksi terakhir itu dia tulis sekitar tahun 1921 hingga 1922. Secara tegas, dia meminta agar seluruh buku harian, draf cerita, dan manuskripnya untuk segera dimusnahkan. Kafka memerintahkan Max Brod untuk membakar seluruh tulisannya yang belum diterbitkan. Tanpa dibaca terlebih dahulu.

Namun, takdir berjalan jauh dari harapan sang pengarang. Max Brod sang penerima wasiat memilih membangkang. Dia merasa perlu untuk menyelamatkan warisan intelektual dari Kafka. Brod merasa yakin bahwa tulisan Kafka sangat berharga bagi peradaban dunia.

Setelah kepergian Kafka, tak berselang lama, Max Brod mengorganisasi, menyunting, dan menerbitkan tulisan-tulisan peninggalan sahabatnya. Termasuk karya yang belum rampung seperti Der Process (1925) dan Das Schloss (1926).

Pembangkangan Max Brod tidak serta merta berjalan mulus untuk mensyiarkan sisa tulisan Kafka. Ketika ancaman invasi Nazi melanda Praha (Maret 1939), keberanian Brod kembali diuji. Dia terpaksa melarikan diri ke Palestina dengan membawa manuskrip-manuskrip Kafka yang bernilai. Semua itu demi menyelamatkan dunia dari kehilangan arsip sastra yang sangat berharga.

Setelah aksi penyelamatan manuskrip Kafka berhasil, langkah Brod tidak berhenti sampai di situ. Pembangkangan terhadap wasiat yang dia lakukan turut berdampak. Tindakan Brod berakibat langsung memicu perdebatan etis berkepanjangan. Terutama di kalangan pengamat sastra. Bahkan hingga saat ini.

Seolah koin yang masih berputar di atas lantai. Satu sisi, tindakan Brod dipandang sebagai bentuk pengkhianatan terhadap amanat suci. Terlebih pada sahabat karibnya sendiri. Ini merupakan pelanggaran privasi yang amat nyata. Dilema kian meruncing kala dokumen privat dibuka ke hadapan publik, seperti Surat untuk Ayah dan kumpulan surat cinta Kafka kepada Felice Bauer. Perkara yang memaksa pembaca melintasi batas ranah pribadi penulis untuk konsumsi umum. Hal yang tak pernah diniatkan oleh Kafka.

“My writing was all about you; all I did there, after all, was to complain about what I could not complain about upon your breast.” – Franz Kafka (Letter to His Father, 1919)

Satu sisi lain, dunia patut berterima kasih kepada Max Brod. Akhirnya, pembangkangan Brod terbukti menyelamatkan Khazanah pemikiran agung. Tanpa keputusan kontroversial tersebut, umat manusia mungkin tidak akan pernah mengenal kompleksitas narasi. Tulisan yang melahirkan sebuah aliran bernama eksistensialisme dan surrealisme. Terlebih pada abad ke-20.

Pada akhirnya, tulisan Franz Kafka tak berujung menjadi abu di tengah perang. Pemikirannya menjelma karya abadi sebagai warisan sastra dunia. Bahkan melampaui batas zaman. Karya-karya Kafka kini menjadi cermin jernih bagi manusia modern dalam menyelami jiwa. Khususnya bagi mereka yang berada dalam labirin batin, keterasingan dan kerapuhan atas eksistensi mereka sendiri.

Tags: Franz KafkaKafkaesqueKarya Franz KafkaManuskrip KafkaMax BrodSastra ModernSejarahThe Metamorphosis Franz Kafka
Previous Post

Sadap: Mengambil dengan Melukai

BERITA MENARIK LAINNYA

Azizah Al Batti: Makkah dan Cinta yang Tak Berhenti pada Kematian
Figur

Azizah Al Batti: Makkah dan Cinta yang Tak Berhenti pada Kematian

30/10/2026
Mengenang KH Ali Maksum, Kiai Egaliter dan Berwawasan Luas
Figur

Mengenang KH Ali Maksum, Kiai Egaliter dan Berwawasan Luas

17/10/2026
Anang Ma’ruf: Kopi Ledre dan Cerita Di Baliknya
Figur

Anang Ma’ruf: Kopi Ledre dan Cerita Di Baliknya

10/10/2026

Anyar Nabs

Membongkar Akar Trauma Franz Kafka dan Pembangkangan Max Brod demi Warisan Sastra bagi Peradaban

Membongkar Akar Trauma Franz Kafka dan Pembangkangan Max Brod demi Warisan Sastra bagi Peradaban

06/11/2026
Sadap: Mengambil dengan Melukai

Sadap: Mengambil dengan Melukai

05/11/2026
Membaca Madinah: Bagaimana Arab Saudi Mengembangkan Kota Nabi (2)

Membaca Madinah: Bagaimana Arab Saudi Mengembangkan Kota Nabi (2)

04/11/2026
Diakui UNESCO: Geopark Bojonegoro Mendunia, Bumi Harus Dijaga

Diakui UNESCO: Geopark Bojonegoro Mendunia, Bumi Harus Dijaga

03/11/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: