Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Azim Premji, Sang Penenun Mimpi

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
24/03/2025
in Cecurhatan
Azim Premji, Sang Penenun Mimpi

Azim Premji muda

Dari Azim Premji, kita belajar bahwa hidup yang bermakna adalah yang dapat menjadi air wudhu —- air yang mengalir, membersihkan yang kotor, dan menyuburkan yang layu.

“Mengapa India tak kau sentuh dengan tinta?” Entah kenapa, bisikan yang demikian itu datang tanpa diundang, “mengetuk” benak saya. Di luar jendela, langit malam membentang bagaikan kain kelam bertabur mutiara.

Sementara jemari saya sedang menari di atas keyboard, tiba-tiba saya tersadar: telah berapa puluh kali saya melintasi anak benua India, namun kisah  dari negeri itu sangat sulit mengendap menjadi huruf.

Mungkin, bagaikan pesawat yang selalu melesat di atas Bumi Gandhi itu, saya pun hanya lewat: terbang tinggi, lalu tertidur dalam kelelahan. Atau, mungkin, karena kedua kaki saya belum pernah menyentuh anak benua yang satu ini.

Namun, dini hari kemarin berbeda. Di bulan Ramadhan yang sunyi ini, ada suara dari Bangalore yang memanggil, kisah seorang lelaki yang hidupnya adalah puisi tentang dua kutub: miliaran dolar dan sepasang sandal jepit, menara kaca, dan kelas-kelas sekolah lumpur.

Kisah kali ini bermula dari California, Amerika Serikat.

Di suatu pagi tahun 1966, udara California masih menggigit ketika sepucuk surat dari Mumbai, India menyergap mimpi Azim Premji. Kertas itu bergetar di tangannya: ayahnya, Mohamed Hashem Premji, seorang pejuang hak perempuan dan pelopor etika bisnis India, berpulang.

Tiba-tiba, di depan mata mahasiswa teknik Universitas Stanford itu, terbentang dua pilihan: tetap menimba ilmu di kampus bergengsi itu, atau kembali ke Mumbai untuk menyelamatkan Western India Vegetable Products (WIVP)—perusahaan sabun kelapa yang nyaris bangkrut yang didirikan ayahnya: sosok yang berpulang itu.

Azim Premji memilih yang kedua. Di usia 21 tahun, dengan jas yang masih beraroma mimpi-mimpi ala Amerika, ia kemudian berdiri di pabrik WIVP yang berdebu. Para pekerja meliriknya curiga. “Anak muda ini hanya tamu sementara,” bisik mereka. Namun, ia tak peduli. Di tangannya, sabun kelapa tak lagi sekadar produk dagang. Namun, sabun itu batu pertama untuk membangun “menara” masa depan.

Di “tangan” Azim Premji, ternyata, Wipro tak hanya bertahan. Malah, ia melompat. Lalu, pada 1979, dengan keberanian seorang visioner, ia menjual bisnis minyak kelapa yang menjadi tulang punggung perusahaan. “Bisnis minyak kelapa kita akan kita jual,” ujarnya. Ruangan direksi pun senyap. “Gila! Ini tulang punggung perusahaan!” protes seorang manajer.

Namun, mata Azim Premji yang tenang itu memancarkan keyakinan: ia telah melihat masa depan di ujung kabel fiber optik. Ya, ia yakin: masa depan ada di teknologi. Di era 1980-an, ketika India masih gamang dengan revolusi digital, Wipro mulai memroduksi komputer dan perlahan beralih ke layanan IT.

Ternyata, tantangan tak pernah absen. Pasar yang belum matang, persaingan ketat, dan skeptisisme dunia. Namun, Azim Premji merespons dengan dua senjata: inovasi tanpa kompromi dan investasi pada sumber daya manusia.

Ia membangun pusat pelatihan karyawan yang disebut Wipro Academy of Software Excellence, untuk melahirkan insinyur-insinyur berkelas global. Hasilnya? Pada 1999, Wipro mengakuisisi Spectramind, perusahaan layanan pelanggan terbesar di India, dan pada 2000, menjadi perusahaan IT India pertama yang tercatat di Bursa Saham New York.

Di sisi lain, Azim Premji adalah paradoks. Di satu sisi, kekayaannya mencapai miliaran dolar, di sisi lain ia lebih memilih mobil Toyota Camry ketimbang Rolls-Royce. Kantornya di Bangalore tak lebih mewah dari ruang kerja karyawan biasa. “Kesuksesan bukan milik individu. Namun, hasil kerja tim,” katanya suatu hari “Kekuasaan itu seperti garam. Terlalu sedikit, masakan hambar. Terlalu banyak, segala jadi pahit.”

Untuk itu, Azim Premji memimpin dengan prinsip transparansi dan integritas. Dalam rapat, ia selalu duduk di tengah. Bukan di kepala meja. Setiap keputusan diambil dengan mendengarkan suara karyawan—dari level manager hingga staf lapangan. “Bisnis adalah tentang kepercayaan. Jika Anda kehilangan kepercayaan, Anda kehilangan segalanya,” ujarnya.

Lantas, pada 2001, suami Yasmeen Premji ini membuat dunia bisnis India tercengang. Azim Premji—salah satu orang terkaya Asia—tiba-tiba menyisihkan 67% saham Wipro-nya (senilai Rp 300 triliun) untuk yayasan pendidikan.

Bagi banyak orang, ini langkah nekat. Namun, bagi ayah Rishad dan Tariq Premji ini, itu adalah zakat intelektual—pengembalian utang kepada Bumi yang telah membesarkannya.

Melalui Azim Premji Foundation, Azim Premji membangun 6 universitas di pelosok India, melatih 3,5 juta guru, dan menyentuh 7,5 juta siswa. Di salah satu desa terpencil Karnataka, ada cerita pilu yang berubah menjadi harapan: seorang cewek bernama Lata, yang dulu terancam dinikahkan di usia 12 tahun, kini menjadi insinyur perempuan pertama di desanya—berkat beasiswa yayasan ini. “Uang itu angka mati,” katanya pada suatu wawancara, “Namun, ketika ia mengalir ke papan tulis sekolah berlubang, ia menjadi puisi.”

Tak hanya itu, Wipro juga menjadi pelopor green business di India. Perusahaan ini menargetkan emisi nol karbon pada tahun 2040, mengembangkan energi terbarukan. Juga, menerapkan sistem daur ulang air di semua kantornya.

Azim Premji sendiri lahir pada tanggal 24 Juli 1945 di Mumbai, India. Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara dan tumbuh dalam keluarga kaya. Ia menghabiskan masa kecilnya di Mumbai dan menghadiri St. Mary’s School di kota itu. Pada tahun 1964, selepas lulus dari sekolah menengah, ia mendaftar di Universitas Stanford di California, Amerika Serikat untuk mempelajari teknik. Namun, seperti telah dikemukakan di atas, selepas kepulangan ayahnya pada 1966, ia meninggalkan universitas bergengsi tingkat dunia itu dan kembali ke India untuk mengambil alih bisnis keluarga. Hingga kini.

Kini, di usia 80 tahun, Azim Premji masih aktif sebagai Chairman Wipro.  Di usia yang telah lanjut tersebut, ia tetap setia pada ritual paginya: bangun pukul 4.30, melaksanakan shalat Subuh, lalu menyusun strategi bisnis sambil menyeruput chai panas.

Di tangannya, Wipro kini menjelma raksasa IT dengan pendapatan $11 miliar dan 240.000 karyawan dari 65 negara. Namun, kebanggaannya yang sejati ada di tempat lain: di atap-atap sekolah pedesaan yang dipasangi panel surya Wipro, di sungai-sungai India yang kembali jernih berkat teknologi daur ulang air perusahaannya, dan di mata anak-anak yang kini bisa mengeja “masa depan” tanpa takut diusir kasta. “Sukses sejati adalah ketika Anda dapat menjadi jembatan bagi mimpi orang lain,” ucapnya suatu hari.

Kisah hidup Azim Premji memberikan teladan kepada kita:  dengan kerja keras, inovasi dan nilai-nilai yang benar, seseorang dapat mencapai kesuksesan yang besar dan pada saat yang sama memberikan manfaat bagi masyarakat. Kepemimpinannya dalam mengembangkan Wipro dan sumbangannya untuk pendidikan dan pembangunan masyarakat telah memberikan kontribusi besar bagi kemajuan India dan membawa harapan bagi masa depan yang lebih baik.

Selain itu, Azim Premji juga mengajari kita bahwa kesuksesan sejati bukanlah menara yang tinggi menjulang sendirian. Namun, kesuksesan adalah jembatan yang menghubungkan jutaan mimpi. Di bulan Ramadhan ini, ketika langit Bangalore mulai basah oleh hujan pertama musim panas, ada pelajaran sederhana dari sang “karyawan biasa”: hidup yang bermakna adalah yang dapat menjadi air wudhu—air yang mengalir, membersihkan yang kotor, dan menyuburkan yang layu.

Kisah hidup yang menarik untuk diteladani!

Tags: Azim PremjiCatatan Rofi' UsmaniMakin Tahu Indonesia
Previous Post

Sovereign Wealth Fund: Dana Kekayaan untuk Masa Depan

Next Post

Mengenal IFSWF: Forum Internasional Sovereign Wealth Fund

BERITA MENARIK LAINNYA

Kebiasaan Mencuri Sang Binatang Jalang: Hikmah Humor dan Pencurian (18)
Cecurhatan

Kebiasaan Mencuri Sang Binatang Jalang: Hikmah Humor dan Pencurian (18)

03/06/2026
Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan
Cecurhatan

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

02/06/2026
Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya
Cecurhatan

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

29/05/2026

Anyar Nabs

Ketika Rasa Syukur Menulis Ulang Peta Otak: Bukti Ilmiah di Balik Kekuatan Bersyukur

Ketika Rasa Syukur Menulis Ulang Peta Otak: Bukti Ilmiah di Balik Kekuatan Bersyukur

04/06/2026
Pemkab Bojonegoro Salurkan Benih Tembakau Unggul, Petani Bidik Panen Lebih Produktif

Pemkab Bojonegoro Salurkan Benih Tembakau Unggul, Petani Bidik Panen Lebih Produktif

03/06/2026
Kebiasaan Mencuri Sang Binatang Jalang: Hikmah Humor dan Pencurian (18)

Kebiasaan Mencuri Sang Binatang Jalang: Hikmah Humor dan Pencurian (18)

03/06/2026
Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

02/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: