Sayyidi Syekh Muhammad bin Ali As-Sanusi Al Hasani (1787 -1858 M), merupakan ulama besar dari Aljazair yang menancapkan dakwah di Libya. Sayyid Muhammad Ali As-Sanusi merupakan pendiri Tarekat Sanusiyah, tarekat mistik-militan para pejuang Timur Tengah.
Ada banyak Wangsa Sadah (keturunan Nabi Muhammad SAW) di dunia ini. Mereka fokus membangun peradaban lewat jalur keilmuan, bersikap tawadhuk, dan tak pernah “memanggungkan” identitasnya. Mayoritas hanya mau disebut “Syekh”, “Imam”, atau tanpa titel apapun untuk menjaga tawadhu’itas-nya.
Sayyid Muhammad bin Ali As-Sanusi ulama besar abad 19 M yang memiliki pengaruh sangat besar di Timur Tengah. Melalui Tarekat Sanusiyah, pengaruh Sayyid Muhammad Ali As-Sanusi menyebar luas ke Aljazair, Libya, Tunisia, Sudan, Somalia, hingga sebagian besar negara Timur Tengah.
Ia mendirikan Tarekat Sanusiyah pada 1837 M di Makkah. Lalu memusatkan kegiatannya di Libya. Tarekat Sanusiyah bukan tarekat biasa. Namun gerakan mistik militan para pejuang Islam. Tarekat Sanusiyah dikenal sebagai Gerakan Pembebasan Libya. Sejak didirikan hingga abad 20 M, Tarekat Sanusiyah selalu melahirkan nama besar para ulama pejuang di tiap zaman.
Dari Sayyid Muhammad Ali As-Sanusi ini, kelak lahir banyak tokoh besar seperti Sayyid Mahdi Muhammad As-Sanusi (putranya), Sayyid Sharif Muhammad As-Sanusi (putranya), Sayyid Ahmad Sharif As-Sanusi (cucunya), Sayyid Idris Mahdi As-Sanusi atau Raja Idris Libya (cucunya), hingga Syekh Omar Mukhtar. Mereka semua dikenal sebagai ulama berlabel Singa Padang Pasir.
Tarekat Sanusiyah dikenal sebagai kandang Singa Padang Pasir yang selalu menghadang para penjajah. Pada Perang Dunia I (1914 – 1918 M), Tarekat Sanusiyah melawan penjajahan Italia dan Inggris. Lalu pada Perang Dunia II (1939 -1945 M), Tarekat Sanusiyah melawan fasisme NAZI dan Italia yang ingin mendominasi Libya.
Muhammad bin Ali As-Sanusi
Muhammad bin Ali lahir di Mostaganem, Aljazair pada 1787 M. Nasab keluarganya bersambung pada Nabi Muhammad SAW lewat jalur Hasan bin Ali. Nisbat Sanusiyah ia dapat dari leluhurnya, yaitu Sayyid As-Sanusi, ulama besar Maroko, yang dikebumikan di Timilsani, Fas, Maroko.
Pada usia 2 tahun, orang tuanya wafat. Ia diasuh oleh bibinya, seorang perempuan salehah bernama Sayyidah Fatimah. Dari bibinya lah, Muhammad bin Ali didorong untuk menimba ilmu pada Sayyid Muhammad Al Thohrowi (suami dari bibinya). Dari pamannya itulah, Muhammad bin Ali belajar Al Qur’an.
Pengembaraan Ilmu
Kecerdasan Muhammad bin Ali sudah tampak sejak dalam bimbingan sang paman. Pada usia 7 tahun, tepatnya 1794 M, Muhammad bin Ali sudah hafal Qur’an dengan riwayat Qiro’ah Sab’ah (tujuh metode pembacaan), menguasai tajwid beserta Ilmu Khot-nya.
Pada 1806, saat usianya tepat 19 tahun, Muhammad bin Ali keluar dari kota Mustaghonim menuju ke kota Mazunah dan menetap di sana selama 1 tahun untuk belajar pada banyak ulama. Di antaranya; Sayyidi Abu Ra’si Al Ma’safari dan Sayyidi Abu Zawinah.
Pada 1807, saat berusia 20 tahun, Muhammad bin Ali mengembara ke Kota Tilmisan, Maroko. Di sana, ia belajar pada banyak ulama. Diantaranya adalah Sayyidi Khamudah bin Haj, Sayyidi Abu Bakar Al-Adrisi, hingga Sayyidi Arobi Al Darqawi (Pembesar Syadziliyah).
Muhammad bin Ali pergi ke Makkah pada 1825 M, untuk memperdalam ilmu dan berziarah. Ia belajar pada banyak ulama. Di antaranya; Sekkh Abdul Hafid Qadhi Mekah, Syekh Abu Hafs Umar al-Athar (guru Hadis), Syekh Ahmad al-Dujjjani, dan Syaikh Ahmad bin Idris.
Mendirikan Tarekat Sanusiyah
Sepasca proses belajar di Makkah, tepatnya pada 1837, ia mendirikan sebuah tarekat para pejuang Islam dan gerakan mistik militan yang kelak dikenal sebagai Tarekat Sanusiyah. Para penerusnya mampu membantu kemerdekaan Libya dari Italia pada 10 Februari 1947.
Sepeninggal Sayyid Muhammad Ali As-Sanusi, Tarekat Sanusiyah kian menggelegar di tangan para penerusnya. Tarekat Sanusiyah masyhur sebagai wadah para pejuang Islam di wilayah Timur Tengah.
Para Penerus Sanusiyah
Sayyid Muhammad Ali As-Sanusi memiliki dua putra; Sharif bin Muhammad As-Sanusi dan Mahdi bin Muhammad As-Sanusi. Dari Sharif bin Muhammad As-Sanusi, kelak lahir figur bernama Ahmad Sharif As-Sanusi. Sementara dari Mahdi bin Muhammad As-Sanusi, kelak lahir Idris bin Mahdi As-Sanusi (Raja Libya I).
Sayyid Ahmad Sharif As-Sanusi (1873 – 1933 M) adalah cucu dari Muhammad Ali As-Sanusi dari anak pertama. Ia ulama besar Sanusiyah, pelanjut estafet dari sang kakek, Muhammad Ali As-Sanusi. Sementara Sayyid Idris Mahdi As-Sanusi (1890 -1983 M), cucu dari Muhammad Ali As-Sanusi dari anak kedua. Ia dikenal sebagai Raja Libya bergelar Idris I (memerintah 1951 – 1969 M).
Selain anak dan cucu-cucu Sayyid Muhammad Ali Sanusi, Tarekat Sanusiyah juga memiliki tokoh besar bernama Syekh Omar Mukhtar (1858 – 1931 M), yang oleh orang Italia dijuluki sebagai Lion of Dessert (Singa Padang Pasir). Syekh Omar Mokhtar merupakan ulama Sanusiyah dan pejuang pembebasan Libya.








