Bojonegoro, kabupaten di Jawa Timur yang dikenal sebagai penghasil minyak dan gas (migas) terbesar, menghadapi tantangan besar dalam menggerakkan ekonominya.
Pada 2024, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro hanya 1,67%, terendah di provinsi, karena ketergantungan sektor migas yang hampir 48% dari PDRB. Fluktuasi harga minyak dan penurunan produksi migas membuat daerah ini harus segera mencari alternatif sektor penggerak ekonomi.
Data BPS menunjukkan, jika sektor migas dikesampingkan, pertumbuhan ekonomi nonmigas Bojonegoro malah mencapai 5,15%, didorong oleh transportasi, pergudangan, dan sektor konsumsi lembaga non-profit. Ini sinyal kuat bahwa peluang untuk diversifikasi ekonomi sangat terbuka lebar.
Pemerintah daerah sudah mulai mendorong pengembangan ekonomi kreatif, pertanian modern, UMKM, serta pariwisata lokal.
Bojonegoro memiliki potensi besar dalam sektor pertanian dengan dukungan teknologi agrikultur terbaru. UMKM juga makin berkembang berkat program pelatihan dan bantuan modal, menyasar sektor kuliner, kerajinan, hingga digital marketing.
Selain itu, sektor pariwisata mendapat perhatian dengan destinasi unik seperti Kayangan Api dan Waduk Pacal, yang makin banyak menarik pengunjung. Infrastruktur yang terus diperbaiki membuka peluang investasi lebih luas dan distribusi barang yang efektif.
Upah Minimum Kabupaten (UMK) juga naik 6,5% di 2025 menjadi Rp 2.525.132, sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan pekerja di tengah dinamika inflasi dan biaya hidup. Pemerintah juga menjaga kestabilan ekonomi dengan target investasi yang meningkat menjadi Rp 7,7 triliun di 2025.
Meski dana APBD cukup besar, tantangan dalam penyerapan anggaran dan efektivitas program masih ada. Pemerintah harus terus inovatif dan kolaboratif dengan semua pihak agar transformasi ekonomi Bojonegoro ini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kini, Bojonegoro sedang di persimpangan penting. Dari ketergantungan migas, menuju ekonomi yang lebih beragam, kreatif, dan berkelanjutan. Dengan langkah tepat dan dukungan semua pihak, masa depan Bojonegoro diprediksi akan lebih cerah dan mandiri.
Penulis adalah Dosen Prodi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri








