Fantasi atau khayalan sangat identik dengan anak kecil. Anak-anak biasa bermain dengan khayalan mereka. Misalnya bermain seolah menjadi sosok pahlawan. Atau bermain dengan memerankan suatu profesi. Fantasi dan imajinasi anak tidak mengherankan bagi orang dewasa. Malah, itu sangat positif.
Kedai Mbah Yi di Jalan Kolonel Sugiono, Bojonegoro pada Selasa (31/12/2019) sore terlihat mendung. Langit memberi tanda akan turunnya hujan. Benar adanya, tetesan air mulai jatuh perlahan. Terdengar bunyinya menghantam genteng bangunan joglo itu. Sejenak saya diam dan berpikir.
”Baiknya pulang sekarang atau menunggu awan lewat dan hujan reda ya? Andai tidak membawa tas, hujan akan saya terabas. Andai punya ilmu Lembu Sekilan, saya tidak perlu takut terkena air hujan. Andai…”
Pemuda kurus di samping saya bertanya lantang kepada saya. Namanya Dito. Teman baik yang sudah aku kenal lebih dari 15 tahun.
“Heeee piye iki? Balik sekarang atau nanti? Jangan melamun saja. Hahahaha…”
Melamun kata dia? Saya tidak melamun, tetapi saya berkhayal. Keduanya jelas berbeda. Melamun adalah diam tanpa pandangan dan pikiran. Sedangkan berkhayal adalah memikirkan sesuatu, entah ilmiah atau fiksi.
Fantasi atau khayalan sangat identik dengan anak kecil. Anak-anak biasa bermain dengan khayalan mereka. Misalnya bermain seolah menjadi sosok pahlawan. Atau bermain dengan memerankan suatu profesi. Fantasi dan imajinasi anak tidak mengherankan bagi orang dewasa. Malah, itu sangat positif.
Namun, apa salahnya jika young-adult berkhayal? Menurut seorang Storytelling Coach Hitman System, Kis Uriel mengatakan fantasi dan khayalan juga dibutuhkan orang dewasa. Kebutuhan berkhayal sama besarnya dengan anak-anak. Pasalnya, tekanan kerja dan rundungan netijen kerap dialami orang dewasa.
“Saya yakin berfantasi atau berimajinasi itu bukan cuma buat anak-anak. Orang dewasa butuh, lebih butuh bahkan. Mengingat stressnya tekanan kerja dan rundungan society,” tulis penyuka serigala tersebut melalui akun twitternya @Kisuriel (20/12/2019).
Sayangnya, orang dewasa yang berkhayal itu sering dianggap aneh. Dipandang seperti anak-anak atau belum cukup dewasa. Padahal berimajinasi penting. Anak-anak butuh mengembangkan kemampuan otak. Sedangkan orang dewasa butuh pelarian, membebaskan pikiran dari tekanan.
“Kebutuhan young-adult akan fiksi, fantasi, khayalan, mitos, dsb itu sama besarnya sama anak-anak. Tapi setiap kali mau mengejawantahkan itu, tanggapan orang selalu negatif. Dikira kebanyakan ngayal, lebay, childish dll,” lanjutnya melalui reply kicauan sebelumnya.
Sebenarnya, berkhayal bukanlah kebiasaan yang buruk lho, Nabs. Ada manfaatnya untuk kesehatan. Melansir Hello Sehat, berkhayal membuat seseorang lebih kreatif. Pengembaraan pikiran mampu membawa pada pengalaman unik. Tentunya ini menumbuhkan motivasi. Siapa tahu, ada ilham untuk memecahkan suatu masalah.
Selain itu, penelitian dari University of Wisconsin-Madison di Amerika membuktikan peserta yang sering berkhayal memiliki daya ingat yang lebih baik. Itu jika dibanding dengan orang yang jarang berkhayal. Karena itu, orang dewasa juga harus baik dalam mengingat. Melihat banyaknya tanggungan dan cicilan lainnya. Jangan sampai lupa hutang lho, Nabs.
Meski begitu, terlalu banyak berkhayal itu yang tidak baik. Bisa dianggap orang gila malah. Realitas dunia tetap harus dihadapi dan dijalani. Jangan pandang negatif orang yang suka berkhayal.
Orang dewasa memiliki cara sendiri yang bisa dibilang kreatif. Buktinya, banyak seniman yang sukses karena memiliki khayalan tinggi. Misalnya para pembuat film dan sutradara. Mereka mampu menyuguhkan khayalan ke dalam realitas sosial manusia.
Kebutuhan anak-anak dan orang dewasa dalam berkhayal itu sebanding. Namun, fungsi dan aplikasinya yang berbeda. Penulis novel, pendongeng dan profesi seniman lainnya adalah bukti. Paling tidak, berkhayal adalah kebutuhan untuk lari. Sejenak pergi dari realitas sosial yang semakin kejam.








